Akhir Pelarian Hersan Buron Sejak 2012, Lihai Mengelabui Aparat

Akhir Pelarian Hersan Buron Sejak 2012, Lihai Mengelabui Aparat

  Rabu, 26 June 2019 10:17
Gusti Hersan

Berita Terkait

PONTIANAK – Buronan kasus korupsi bantuan sosial APBD Kota Pontianak, Gusti Hersan Aslirosa ditangkap di Jakarta. Mantan Ketua DPRD Kota Pontianak itu ditangkap tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Pontianak, Selasa (25/6). 

Informasi yang beredar, Gusti Hersan ditangkap sekitar pukul 03.00 di kawasan Danau Sunter, Jakarta Utara. Penangkapan itu dilakukan setelah tim gabungan Kejari Pontianak bersama Kejari Jakarta Barat serta Polda Metro Jaya melakukan pembuntutan selama satu minggu. 

Usai ditangkap, terpidana langsung digiring ke Kejari Jakarta Barat untuk menandatangani berkas administrasi penangkapan. Dari Jakarta Hersan kemudian diterbangkan ke Pontianak untuk selanjutnya dilimpahkan ke Lapas Kelas 2 A Pontianak guna menjalani hukuman. 

Kasi Intel Kejari Pontianak, Raden Ahmad Yani membenarkan jika pihaknya telah melakukan eksekusi terhadap terpidana korupsi bantuan sosial (Bansos) APBD Kota Pontianak, yakni Gusti Hersan Aslirosa. 

Dia menjelaskan, pada Selasa dini hari sekitar 02.30 pihaknya melakukan eksekusi terhadap terpidana di salah satu hotel di Sunter, Jakarta Barat. “Bersama Kasi Pidsus, keberadaan terpidana ditemukan setelah satu minggu pengintaian,” katanya. 

Upaya pencarian terhadap terpidana ini menurutnya dilakukan tanpa kenal lelah. Selama ini, keberadaan terpidana kerap berpindah-pindah. Tidak hanya itu, terpidana juga cukup lihai dalam mengelabui petugas. Salah satu contohnya adalah dengan selalu menempati apartemen yang paling tinggi, seperti lantai 25. 

“Jadi, alat yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan terpidana tidak terjangkau. Bahkan, sinyal telepon genggam juga sering hilang,” ucapnya. Raden Ahmad Yani menerangkan, setelah menemui beberapa kendala, akhirnya terpidana berhasil dipancing keluar dari persembunyiannya di apartemen Thamrin City atau di apartemen di atas hotel (private apartement). Akhirnya Hersan pun dapat ditangkap. Setelah diciduk di Jakarta, ia lalu dibawa ke Pontianak. 

“Pukul 14.15 kami tiba di Bandara Supadio, Kubu Raya dan yang bersangkutan langsung dibawa ke Lapas Kelas 2 A Pontianak,” sambungnya. Sesuai dengan putusan yang dikeluarkan Mahkamah Agung (MA), Hersan dijatuhi pidana penjara dua tahun dan subsider uang sebesar Rp50 juta. 

“Terpidana masuk daftar pencarian orang (DPO) sejak 2012. Kesulitan kami menangkap terpidana ini karena ia lincah, mantan pejabat, punya uang untuk membiayai hidupnya yang berpindah-pindah. Dia orang berpendidikan, mungkin tahu bagaimana menghindar dari eksekusi,” ujar Ahmad Yani. 

Ia memastikan tidak ada tekanan dari pihak manapun atas eksekusi yang dilakukan pihaknya terhadap terpidana. Eksekusi itu adalah kewajiban yang harus dilakukan terhadap setiap putusan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. “Terpidana sudah mengajukan peninjauan kembali, namun ditolak,” ungkapnya. 

Untuk diketahui, terpidana terjerat kasus pembangunan sirkuit Batu Layang. Perkara itu muncul  berawal dari audit regular Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Kalbar terhadap laporan keuangan Pemkot Pontianak, terutama pada item Bantuan Sosial (Bansos) tahun anggaran 2006, 2007, 2008 dan 2009. 

BPK menemukan ada indikasi kerugian keuangan daerah sebesar Rp29, 94 miliar dalam pengelolaan bansos tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak Rp3 miliar digunakan untuk membangun sirkuit balap motor. Namun, sirkuit tersebut tak kunjung terealisasi. Dana pembangunan sirkuit ini dikucurkan dalam dua tahun anggaran. Masing-masing tahun anggaran 2007 dan tahun anggaran 2009 dengan jumlah anggaran sama, yakni sebesar Rp1,5 miliar. 

Hersan sendiri ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi tersebut sejak 5 Januari 2010. Pihak Kejaksaan juga telah menyita uang tunai senilai Rp700 juta dari Hersan. Uang tersebut diterima kejaksaan dalam dua tahap yakni Februari 2010, senilai Rp500 juta dan sisanya Maret 2010.(adg)

Berita Terkait