Ajar Menari Anak Berkebutuhan Khusus

Ajar Menari Anak Berkebutuhan Khusus

  Selasa, 19 February 2019 10:30
Karina Syahna // Puteri Indonesia Kalimantan Barat 2019

Berita Terkait

Karina Syahna menjadi wakil Kalimantan Barat dalam ajang pemilihan Puteri Indonesia 2019. Tak memiliki paras yang cantik, dia sangat peduli sesama. Perempuan berusia 24 tahun ini mengajar menari anak-anak berkebutuhan khusus. Bahkan, juga berperan penting mengantarkan murid-muridnya tersebut untuk tampil menari di ajang internasional.

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Selain berkecimpung sebagai profesional dancer dan master ceremony (MC), Karina Syahna juga aktif sebagai guru tari bagi adik-adik berkebutuhan khusus. Baik penyandang daksa, tuli, down syndrome maupun autisme. Ketertarikannya melatih anak-anak spesial ini berawal ketika memiliki salah satu anggota keluarga yang down syndrome.

Meski berkebutuhan khusus, adik sepupu Karina ini sangat aktif menari. Karina pun mulai menyadari meski tak bisa disembuhkan secara medis, tetapi down syndrome bisa membaik.  Dia pun terinspirasi dari perjuangan saudaranya yang semakin menunjukkan peningkatan baik dari segi interaction skill dan social skill. 

“Semakin termotivasi ketika Namira Zania (adik sepupu) terpilih sebagai salah satu down syndrome di Indonesia yang pertama kali tampil di ajang Jakarta Fashion Week kategori catwalk,” ujarnya.

Lewat menari, Karina merasa bisa memberi kebahagiaan bagi dengan orang berkebutuhan khusus dari usia 15 sampai 36 tahun. Ia tak memungkiri masih banyak orang tua yang tak membiarkan anak berkebutuhan khusus aktif dalam suatu aktivitas. Karena dinilai akan merepotkan. Namun, dengan memberikan anak kesempatan dan arahan, adik-adik tak lagi takut mengekspresikan dirinya.

Mengajar menari anak berkebutuhan khusus ini sudah dijalani perempuan 30 Agustus 1994 ini selama enam tahun. Namun, hal tersebut bukanlah perjuangan yang mudah. Dua tahun pertama dilakukan Karina mencari guru yang bisa memberi dan mengajarinya cara tepat mengajar tari bagi adik-adik berkebutuhan khusus. 

Namun, Karina gagal menemukannya. Dia pun memutuskan mencari ilmu saat menjadi guest speaker di beberapa workshop, termasuk ketika ada dokter yang hadir. Karina mulai menggali lebih dalam mengenai adik-adik berkebutuhan khusus. Disamping itu, Karina tetap gigih berlatih mencari metode pengajaran yang tepat bagi adik-adik berkebutuhan khusus. 

Perjuangan Karina tak sia-sia. Sebagai dance teacher Down Syndrome Gigi Art of Dance, dirinya berhasil mengantarkan muridnya tampil dengan penuh percaya diri di hadapan orang banyak. Beberapa kali ia dan adik-adik berkebutuhan khususnya ini diundang sebagai guest star dalam berbagai acara, baik di wilayah Jakarta, Bandung, Bali, hingga di Singapura.

Peraih gelar Post Graduate Programme, Mass Media Management Major The London School of Public Relations Jakarta ini mengatakan penampilan adik-adik berkebutuhan khusus di Singapura ini sebanyak dua kali, yakni ajang World Dance Allience Sinapore 2014 dan Asian Youth Theatre Festival 2018. Karina bangga karena adik-adik spesialnya ini bisa memberikan inspirasi bagi orang banyak. 

“Saat Asian Youth Theatre Festival, saya terlebih dulu mengirimkan video berupa koreografi tari adik-adik. Tak menyangka juga bisa lolos dan tampil dalam ajang tersebut,” ceritanya. 

Karina mengaku tak pernah mengikutsertakan adik-adiknya ini dalam ajang kompetisi. Karena selalu banyak yang menolak. Alasannya, takut adik-adik sakit hati kalau tidak menang. 

“Padahal saya dan adik-adik bukan mencari menang, hanya membuat mereka tampil berani. Masyarakat bisa melihat dengan keterbatasan yang ada, adik-adik tetap memiliki kesempatan,” tutur Karina.

Puteri Indonesia Kalbar 2019 ini mengatakan bukan hal yang mudah menumbuhkan kepercayaan diri anak berkebutuhan khusus saat pertama kali mengajarkan gerakan tari. Karena karakter anak berbeda-beda. Ada yang langsung dengan semangat mengikuti gerakan, tapi ada juga yang hanya diam dan mengamati lingkungan sekitar terlebih dulu.

Karina tak pernah merasa lelah ketika harus menghadapi berbagai tersebut. Terpenting baginya, anak didiknya bisa merasa nyaman. Ia sengaja membiarkan rasa ketertarikan timbul sendiri. Karina yakin ketertarikan yang timbul tanpa ada paksaan akan menghadirkan energi semangat yang luar biasa.

“Mereka benar-benar memberikan energi ketika saya merasa lelah dan sedih. Selalu bangga dan terharu melihat keberhasilan mereka di atas panggung. Rasanya kerja keras selama ini terbayar dengan rasa bangga,” ungkapnya. 

Karina sering membebaskan anak berkebutuhan khusus menari sesuai keinginannya, sambil menggandeng secara perlahan. 

“Sebagai guru tari saya harus bisa menerima sifat dan kekurangan adik-adik tersebut dan tak menjadikannya sebagai sebuah beban. Seringkali, berkoordinasi dengan orang tua untuk menanyakan kesukaan dan ketidaksukaan agar lebih memahami karakter adik-adik,” tuturnya.  

Jenis tarian yang diajarkan bermacam-macam. Tujuannya agar tak merasa monoton. Selain hip hop, Karina juga mengajarkan tarian kontemporer dan tradisional. Menurutnya, bagaimana pun  juga ketika mewakili Indonesia tampil di luar negeri, muridnya tetap harus mempersembahkan tarian dengan sentuhan kekayaan budaya Indonesia. 

“Saat ini sedang mempersiapkan gerakan tari baru untuk adik-adik. Rencananya, koreo tari ini bertema lingkungan untuk mengurangi sampah plastik,” tambah Karina. 

Kedepannya, Karina berharap ada ajang yang memperlombakan tari bagi anak berkebutuhan khusus. Pengalamannya mengajar tari ini juga akan diceritakan Karina saat mengikuti ajang Pemilihan Puteri Indonesia 2019. Karena proses mengajar anak berkebutuhan khusus ini bukan dibuat semata-mata untuk mengikuti pemilihan.

Namun, sudah dilaksanakan sejak enam tahun lalu. Ia ingin berbagi kepada semua orang bahwa mereka mampu menampilkan yang terbaik selama diberi kesempatan. Karina ingin anak-anak berkebutuhan khusus bisa melebarkan sayap hingga mencapai panggung-panggung yang lebih besar. Menunjukkan bahwa Indonesia lebih inklusif. 

“Karena saya merasakan adik-adik bisa memberi inspirasi dan manfaat buat orang-orang di luar sana, bahkan secara internasional sangat diakui,” tutupnya. **

Berita Terkait