Ajak Warga Beternak Nyamuk Aedes Aegypti

Ajak Warga Beternak Nyamuk Aedes Aegypti

  Jumat, 2 September 2016 09:45
PROYEK PERCONTOHAN: Suasana launching peletakan telur nyamuk Aedes aegypti yang telah ditanami bakteri wolbachia di Museum Sasana Wiratama Diponegoro, Jogjakarta, kemarin (31/8).

Berita Terkait

Demam berdarah masih termasuk penyakit berbahaya di Indonesia. Tim peneliti Eliminate Dengue Project Jogjakarta (EDP-Jogja) menawarkan cara alami untuk menekan wabah demam berdarah dengan membuat nyamuk Aedes aegypti ’’sakit’’.

M. HILMI SETIAWAN-KHAFIDLUL ULUM, Jogjakarta

DUA boks bening mirip akuarium diletakkan di depan pintu masuk Museum Sasana Wiratama Diponegoro, Tegalrejo, Jogjakarta. Cukup mencolok dan menarik perhatian setiap pengunjung. Sebab, isi akuarium itu termasuk tak lazim. Yakni, ratusan nyamuk berbahaya: Aedes aegypti.

Tapi, pengunjung tidak perlu khawatir. Sebab, nyamuk itu tidak bisa keluar dari ’’kandang’’-nya yang tertutup rapat. Selain itu, nyamuk-nyamuk pembawa penyakit demam berdarah tersebut sudah ’’dilumpuhkan’’ alias tidak berbahaya lagi.

Nyamuk-nyamuk itu sudah tidak bisa menjadi vektor atau media penularan demam berdarah. Nyamuk Aedes aegypti itu telah dinyatakan sakit atau tidak normal karena di dalamnya telah tertanam bakteri wolbachia.

Itulah metode baru cara memberantas demam berdarah yang dikembangkan tim peneliti dari EDP-Jogja. Nyamuk-nyamuk jinak tersebut kemarin (31/8) dipamerkan dalam acara grand launching peletakan telur nyamuk Aedes aegypti berbakteri wolbachia di Jogjakarta.

Hadir dalam acara tersebut Dirjen Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemenristekdikti Muhammad Dimyati, Ketua Dewan Pembina Yayasan Tahija dr Sjakon Tahija selaku penyandang dana, peneliti utama EDP-Jogja Prof Adi Utarini, serta Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogjakarta dr Vita Yulia.

Setelah acara formal, para undangan diajak turun langsung ke rumah-rumah warga di RT 18, RW 5, Kelurahan Tegalrejo, Jogjakarta. Di depan rumah salah seorang warga, Dimyati dan Sjakon secara simbolis memasukkan telur nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia ke ember putih yang dilubangi di sisi sampingnya. Selanjutnya, keduanya memasukkan air ke dalam ember.

Ember kemudian ditutup dan diserahkan kepada Ketua RW 5 Mulyanto. Ember yang mirip dengan kaleng cat itu lalu diletakkan di bawah pohon, di samping pot bunga. ’’Masing-masing ember ini berisi 100 telur nyamuk,’’ jelas Prof Utarini.

Jika sudah menetas, nyamuk betina akan kawin dengan nyamuk jantan dan melahirkan keturunan yang secara otomatis ber-wolbachia. Khusus di Kelurahan Tegalrejo, ada sekitar 231 ember yang disebar di rumah-rumah warga. Jarak antarember sekitar 50 meter. Dimyati menyambut baik penelitian yang dilakukan EDP-Jogja. Menurut dia, temuan itu merupakan inovasi terbaik untuk mengurangi kasus demam berdarah (DB) yang biasanya muncul pada siklus waktu tertentu. ’’Saya mengapresiasi inovasi ini,’’ papar dia.

Tim peneliti EDP-Jogja Bidang Komunikasi dan Penyertaan Masyarakat Bekti Dwi Andari menceritakan, EDP adalah program internasional. Selain di Jogjakarta, program tersebut dilakukan di Australia, Brasil, Kolombia, serta Vietnam.

’’Program di Indonesia bekerja sama dengan Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada,’’ katanya. Secara keseluruhan penelitian itu melibatkan 65 orang, mulai petugas lapangan hingga peneliti utama.

Perempuan kelahiran Jogjakarta, 7 September 1978, tersebut menuturkan, perjalanan riset program itu dimulai pada 2011. Intinya, mereka mencari cara alternatif dalam menekan laju demam berdarah. Cara-cara konvensional seperti penyemprotan dengan insektisida, pengasapan (fogging), dan bahkan 3M (menguras, menutup, dan mengubur) dinilai tidak berkelanjutan.

Buktinya, fakta yang dirangkum tim tersebut, pada 2013, jumlah kasus demam berdarah mencapai 100.347 kasus. Dari jumlah kasus itu, 641 orang meninggal. ’’Karena itu, kami coba dengan melakukan intervensi langsung kepada si nyamuk yang menularkan demam berdarah,’’ jelasnya.

Cara yang dilakukan mereka untuk menekan demam berdarah itu adalah menanamkan bakteri wolbachia ke dalam nyamuk Aedes aegypti. Bakteri itu bukan bakteri yang benar-benar baru. Bakteri tersebut bersemayam pada 60 persen jenis serangga. Misalnya, kupu-kupu, capung, kumbang, dan sebagian jenis nyamuk. Hanya, bakteri itu secara alami tidak ada di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.

Dengan masuknya bakteri wolbachia, badan nyamuk Aedes aegypti tidak lagi ideal untuk perkembangan virus dengue penyebab demam berdarah. Di dalam tubuh nyamuk yang mengandung bakteri wolbachia, virus dengue-nya tidak bisa memperbanyak diri (meng-copy).

’’Virus dengue tidak bisa memperbanyak diri karena kalah berebut makanan dengan wolbachia,’’ jelasnya.

Bekti menambahkan, teknologi yang digunakan untuk memasukkan bakteri wolbachia adalah mikro-injeksi. Caranya, menyuntikkan bibit bakteri wolbachia ke dalam telur nyamuk. Jadi, bisa dibayangkan rumitnya sistem itu. Nyamuknya saja sudah kecil, apalagi telurnya. Meski begitu, dalam sebulan, EDP-Jogja mampu menghasilkan ribuan telur nyamuk yang positif mengandung bakteri wolbachia.

Menurut Bekti, awalnya proyek ’’aneh’’ tersebut sempat ditolak masyarakat. Warga enggan dititipi ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia. ’’Banyak warga yang keberatan.’’

Alasan warga masuk akal. Pasalnya, selama ini masyarakat mati-matian mengusir atau membunuh nyamuk penyebab demam berdarah itu. Baik dengan menyemprotnya dengan pembasmi serangga, menutup kelambu, melakukan 3M, dan fogging. ’’Ini kok malah dititipi nyamuk. Disuruh beternak nyamuk,’’ kata Bekti menirukan alasan warga, lantas tertawa.

Namun, tim tidak gentar. Mereka terus melakukan sosialisasi dan memberikan penjelasan secara detail maksud penelitian itu. Akhirnya, masyarakat pun sadar pentingnya penelitian tersebut. Bahkan, mereka malah menyambut baik upaya EDP-Jogja itu. Orang-orang yang telah sadar dan bersedia dititipi telur nyamuk tersebut kemudian mendapat gelar orang tua asuh ember nyamuk.

Hasil pemantauan program tersebut pada 2014 menunjukkan hasil positif. Pada saat itu, program menitipkan telur nyamuk ber-wolbachia dilakukan di sejumlah titik di Sleman dan Bantul. Di antaranya di kawasan Nogotirto, Singosaren, Jomblangan, dan Kronggahan.

Hasilnya, tidak ditemukan kasus penularan lokal demam berdarah di empat titik tersebut. Kalaupun ada kasus demam berdarah, itu merupakan kasus dari luar daerah. Dengan hasil itu, tim menyimpulkan bahwa upaya menyebar nyamuk berbakteri wolbachia berdampak pada menurunnya kasus demam berdarah.

Setelah uji coba di Sleman dan Bantul, program EDP-Jogja bergeser ke wilayah Kota Jogjakarta. Selain Tegalrejo, peletakan nyamuk dilakukan di Kelurahan Karangwaru, Kricak, Bener, Patangpuluhan, Wirobrajan, dan Pakuncen.

Kemarin, ditemani staf lapangan EDP-Jogja Rini Kurniati, koran ini melihat langsung kondisi nyamuk yang dititipkan di warga RT 16, RW 04, Kelurahan Kricak. Salah satunya di rumah Totok Sunyata. Pemilik warung itu menunjukkan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti yang sudah ditanami bakteri wolbachia.

Totok mengakui, dirinya sempat kaget dan menolak saat dititipi telur nyamuk demam berdarah itu. Sebab, Mei lalu, anaknya, Abid Sabitul Azmi, terkena DB. Remaja 15 tahun tersebut sempat dirawat selama tujuh hari di rumah sakit.

’’Setelah dijelaskan soal manfaat telur nyamuk itu, saya bisa menerimanya. Saya tidak ingin ada keluarga saya yang terkena DB lagi,’’ tegasnya. (*/c5/ari)

Berita Terkait