Agar Bahtera Rumah Tangga Tidak Karam

Agar Bahtera Rumah Tangga Tidak Karam

  Jumat, 8 February 2019 10:10   0

Oleh: Dr.Harjani Hefni, Lc, MA

Bahtera rumah tangga memang banyak menyimpan misteri. Ia tak pernah henti-hentinya dibincangkan dari berbagai macam pendekatan. Dalam mengarungi samudera kehidupan, tidak jarang menemukan bahtera ini oleng diterpa oleh badai kehidupan yang bertiup kencang. Ada sebagian yang selamat, tapi cukup banyak yang akhirnya pecah sebelum sampai ke pulau idaman. 

Pecahnya kapal pernikahan ini memang bisa dipicu dari berbagai macam faktor, diantaranya, rancangan pembuatan kapalnya tidak matang, bahan dasar yang tidak berkualitas, angin bertiup terlalu kencang, nakhoda yang tidak piawai, anak buah yang tidak taat, job kerja yang tidak jelas, atau tidak pernah melakukan evaluasi apakah kapalnya masih dalam keadaan prima atau sudah ada bagian yang harus diperbaiki supaya kerusakannya tidak menjalar kebagian yang lain.

Mengkaji ulang khazanah Islam tentang seluk beluk kehidupan rumah tangga Rasulullah yang telah diabadikan dan ditulis dengan tinta emas oleh para sejarahwan adalah penting untuk kita semua. 

Dr.Aisyah Abdurrahman mencatat, “Dalam rumah beliau terdapat kebahagiaan yang tidak akan dapat dicapai oleh siapapun. Rumahnya indah, meski sangat sederhana. Ia lebih mengutamakan hidup dalam rumahnya sebagai orang yang zuhud. Beliau tidak pernah memaksakan sesuatu apapun terhadap isteri-isterinya. Kehidupan keluarganya penuh vitalitas, cemerlang, tidak pernah mengenal kegersangan jiwa dan kehampaan cinta. Beliau selalu memberikan kebebasan kepada isterinya untuk mengatur dan mengembangkan kreasi mereka, dia selalu isi kehidupan rumah tangganya dengan kehangatan dan kebersamaan yang menyenangkan.” (Nabi Suami teladan, Nasy’at al Masri, Hal :25). 

Indahnya gambaran di atas bukan berarti rumah tangga beliau tidak pernah mengalami riak. Beliau juga adalah seorang manusia yang merasa tenang dan gelisah karena sikap para isterinya, disibukkan dengan masalah anak-anaknya, mengalami duka seperti anak Adam lainnya, merasakan manisnya cinta dan pahit getirnya kehidupan. Dia juga mempunyai cita-cita, namun senang pada kehidupan zuhud dan sederhana, pernah merasa kuatir, merasa rindu dan kasih sayang. 

Mengutip ungkapan dari Abu Hudzaifah, “Banyak orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepadanya tentang kejelekan, khawatir akan terjadi dan menimpaku…  maka tulisan ini hanya menampilkan riak-riak rumah tangga Rasulullah, dan bagaimana beliau mengatasinya, mudah-mudahan menjadi cermin buat kehidupan kita pada hari ini.”

Bertahan dalam masa susah

Rasulullah dan Khadijah hidup dalam dua masa, masa pra risalah, dan masa awal kenabian yang merupakan masa-masa sulit perjuangan. Masa awal pernikahan beliau jalani dengan begitu indah. Muhammad bangga dan bersyukur atas kecerdasan, kecantikan wajah dan perangai isteri tercintanya. Sedangkan Khadijah penuh kasih sayang dan kelembutan, dan sangat bangga dengan suaminya. Wanita mulia itu banyak memberikan ketenangan dan ketentraman kepadanya, mendorong semua cita-cita dan optimis. 

Buah perkawinan ini melahirkan dua orang putera dan empat puteri. Dua putranya, Qasim dan Abdullah, kedua-duanya meninggal dunia pada waktu bayi. Sedangkan empat putrinya adalah Ruqayyah, Zainab, Ummu Kultsum dan Fatimah. Kehidupan mereka dijalani dalam suasana penuh kasih sayang.

Tetapi menjelang dan setelah Nabi menerima risalah dari Tuhannya, beliau banyak pergi meninggalkan keluarga, sering diintimidasi, dicaci, dihina, dilempar kotoran, jalannya ditabur duri, dan puncaknya blokade multi dimensi, tidak saja ekonomi, tetapi juga sosial, politik dan lainnya.

Sang isteri yang terbiasa hidup enak ini ternyata tidak luntur kesetiaannya di saat menghadapi masa-masa sulit kehidupan. Khadijah selalu membawa kesejukan kepada Nabi setelah mengalami berbagai perlakuan dari kaumnya. Pengorbanan Syaidatina Khadijah terlihat dalam berbagai ragam kehidupannya. Akhir pengorbanannya adalah ikut membersamai Rasulullah ke Syi’ib Abi Thalib di Jabal Abi Qubais, tempat  keluarga Bani Hasyim dan Bani Mutthalib diblokade oleh kaum Quraisy. Mereka bersekongkol dan membuat perjanjian tertulis, akan melawan, memutuskan hubungan dan mengasingkan Muhammad beserta keluarganya dalam Syi’ibb Abu Thalib. Naskah perjanjian itu dikenal dengan nama Shahifah al-Muqatha’ah, naskah pemutusan hubungan yang mereka tempelkan di dinding Ka’bah. Blokade ini berlangsung tiga tahun dan hidup mereka sangat memprihatinkan.

Kemudian sesudah bertahan dengan tabah selama masa itu, Kahdijah dan Rasulullah kembali ke rumah mereka di Makkah. Khadijah kelihatan sangat letih sekali, wajahnya pucat dan tubuhnya kurus, karena dalam usia tuanya dia harus menghadapi berbagai tantangan, ancaman dan pengepungan berapa tahun lamanya. Beberapa hari setelah itu, ia sakit dan kembali dengan tenang menghadap sang Khaliq dihadapan Rasulullah SAW.

Mengungkapkan sesuatu yang tidak disukai…

Ketika Nabi hendak melamar Ummu Salamah dan mengungkapkan maksudnya, Ummu Salamah berkata, “Ya Rasulullah ! Siapa yang tidak senang dengan orang seperti Anda, tetapi aku adalah seorang wanita yang memiliki sifat cemburu tingkat tinggi, aku khawatir Anda melihat sesuatu yang seharusnya tidak layak dariku,  sehingga Allah mengazabku. Disamping itu, aku ini sudah tua dan memiliki tanggungan.” 

Rasulullah SAW menjawab, “Apa yang engkau khawatirkan tentang sifat cemburu yang berlebihan, mudah-mudahan Allah akan menghapuskannya. Sedangkan masalah usia, Aku juga sudah senja sebagaimana yang engkau alami. Adapun masalah tanggungan, maka tanggunganmu adalah tanggunganku.”

Dalam cerita lain, Syuraih al Qadhi, seorang ulama terkemuka telah meminang seorang budak perempuan dari Suku Tamim. Pesta pernikahan dirayakan begitu meriah. Setelah pesta pernikahan berakhir dan para tamu sudah mulai meninggalkan rumah pengantin, maka Syuraih pun mendekati isterinya. 

Isterinya berkata, “Kakanda , aku ini wanita yang belum mengenali dirimu secara mendalam. Oleh karena itu, terangkan kepadaku apa-apa yang engkau sukai, Insya Allah akan aku laksanakan, dan apa-apa yang engkau benci, Insya Allah akan aku hindari.” 

Syuraih menjawab, “Wahai dindaku…! Sungguh engkau telah mengucapkan kata-kata manis dan tepat kepadaku. Sebenarnya memang ada beberapa hal yang aku sukai dan tidak aku sukai. Insya Allah kita akan selalu berdua selamanya hingga kakek nenek. Jika ada hal yang baik dariku, maka katakanlah kepadaku. Dan sebaliknya, jika ada hal yang buruk, maka rahasiakanlah…!”

Senasib sepenanggungan di kala senang dan susah serta berani mengungkapkan kekurangan diri kepada pasangan untuk dicarikan solusinya adalah di antara cara menikmati hidup dan mempertahankan bahtera dari hantaman badai rumah tangga. 

*Penulis adalah Dosen Komunkasi Islam Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Pontianak.