AFGHANISTAN DEKATI PERDAMAIAN

AFGHANISTAN DEKATI PERDAMAIAN

  Rabu, 10 July 2019 10:12
BERDOA: Para petinggi Taliban bermunajat saat menghadiri hari kedua dialog intra-Afghan di Doha, Qatar, 7-8 Juli.KARIM JAAFAR / AFP

Sepakat HindariWarga Sipil

DOHA – Taliban dan para petinggi Afghanistan akhirnya satu suara. Mereka menyetujui isi road map for peace alias rancangan menuju perdamaian hasil dari dialog intra-Afghan di Doha, Qatar, 7-8 Juli. Salah satu isinya adalah mengurangi korban jiwa dari warga sipil hingga nol. 

’’Penduduk Afghanistan akan dilindungi. Kami selalu menginginkan hal ini. Mereka tidak pernah menjadi target,’’ ujar delegasi Taliban Qari Din Mohammad Hanif. 

Menjaga agar tidak ada korban jiwa dari penduduk sipil itu bukan perkara mudah. Pada hari pertama dialog, bom mobil Taliban meledak di Ghazni, Afghanistan.

Setidaknya 12 orang tewas dan 179 lainnya luka-luka. Sebagian besar korban luka adalah siswa yang sekolahnya dekat dengan lokasi kejadian. 

Pertemuan dua hari di Doha itu dihadiri para petinggi dan tokoh-tokoh Afghanistan, bukan hanya dari kalangan pemerintah. Tokoh penting Taliban Amir Khan Muttaqi membacakan isi pernyataan bersama hasil dialog intra-Afghan dalam bahasa Pasthun. Saat Taliban berkuasa, dia pernah menjabat menteri komunikasi. 

Ada 70 delegasi yang menghadiri pertemuan di salah satu hotel mewah di Doha itu. Enam di antaranya adalah perempuan. Begitu pernyataan bersama selesai dibacakan sesaat menjelang tengah malam, semua orang dalam ruangan langsung bertepuk tangan. Mereka lega sekaligus gembira. 

’’Ini bukan kesepakatan. Ini adalah fondasi untuk memulai diskusi,’’ ujar Direktur Eksekutif Afghan Women’s Network Mary Akrami seperti dikutip Agence France-Presse. 

Kedua pihak juga setuju untuk memastikan hak-hak perempuan dalam politik, sosial, ekonomi, pendidikan, dan urusan budaya sesuai dengan kerangka kerja nilai-nilai Islam.

Ketika Taliban memimpin Afghanistan, perempuan terpinggirkan. Mereka bahkan dilarang menempuh pendidikan saat usianya di atas 8 tahun, wajib memakai burqa di depan umum, dan dilarang bekerja. Beberapa perempuan tetap sekolah di bawah tanah, tapi jika ketahuan akan dieksekusi mati. 

Utusan Khusus Antiterorisme Qatar Mutlaq Al Qahtani mengungkapkan, dalam dialog selama dua hari itu, perbedaan di antara kedua pihak sangat kecil. Taliban maupun tokoh dan para petinggi Afghanistan yang datang sama-sama serius berkomitmen untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama hampir 18 tahun itu. 

Sebelum pertemuan di Doha, delegasi AS enam kali bernegosiasi dengan Taliban. Fokus utamanya adalah penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Sebagai imbalannya, Taliban harus berkomitmen agar Afghanistan tidak dijadikan sarang teroris.

Oktober 2001, AS menyerang Afghanistan karena Taliban melindungi kelompok Al Qaeda. Pertemuan ketujuh AS dan Taliban digelar kemarin waktu setempat (9/7).

’’Ini adalah negosiasi paling produktif yang kami lakukan dengan Taliban,’’ kata Pemimpin Negosiasi AS Zalmay Khalilzad. 

AS berharap bisa membuat kesepakatan dengan Taliban sebelum pemilu presiden Afghanistan September mendatang. Dengan begitu, mereka bisa mulai menarik pasukannya. Saat ini masih ada 14 ribu tentara AS di negara tersebut. 

Hingga saat ini, Taliban belum mau berdialog langsung dengan pemerintah Afghanistan. Tokoh pemerintah dalam dialog selama dua hari itu datang dengan kapasitas personal.

Taliban menilai pemerintahan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani adalah rezim boneka AS. Taliban mau berdialog langsung jika sudah ada kesepakatan dengan AS tentang waktu penarikan pasukan. Nasib pemerintahan Ghani dan pembagian kekuasaan belum dibicarakan. (sha/c19/dos)