Adaptif Jalani Sekolah Kedinasan

Adaptif Jalani Sekolah Kedinasan

  Senin, 17 December 2018 11:07

Berita Terkait

“Mau ke mana setelah lulus SMA?” Pertanyaan itu bikin galau ayah, bunda, dan si buah hati. Idealnya, jawaban untuk pertanyaan tersebut tidak direncanakan dadakan. Terutama buat yang ingin masuk sekolah kedinasan. Dibutuhkan komitmen tinggi dan persiapan ekstra buat masuk ke sana.

Setelah lulus SMA, banyak opsi pendidikan tinggi yang bisa dipilih. Salah satunya, sekolah kedinasan. Sekolah-sekolah itu masih menjadi bagian dari kementerian maupun kedinasan milik pemerintah. Ada perbedaan kentara antara perguruan tinggi dan sekolah tersebut.

“Tanggal buka pendaftaran, seleksi, sampai kurikulumnya beda. Soalnya, kami bukan di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi,” jelas Kepala Program Studi Komunikasi Penerbangan Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Surabaya Laila Rochmawati SS MPd. 

Instansi tempatnya bekerja berada di bawah Kementerian Perhubungan. Lala, sapaan Laila, menjelaskan bahwa proses seleksinya berlapis. Selain tes tulis, ada tambahan tes fisik dan kesamaptaan. Kondisi tubuh harus sehat, tidak ada gangguan maupun riwayat kecelakaan yang berisiko mengganggu selama pendidikan. Kemampuan fisik dites lewat lari, pull-up, dan beberapa tes lain. 

“Soalnya, setelah diterima, mereka harus menjalani kehidupan asrama, polanya semimiliter. Ada apel, olahraga pagi, dan lain-lain,” paparnya.

Lantaran Poltekbang berada di bawah Kementerian Perhubungan, mata kuliah dan jurusannya dibuat

spesifik. Sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dinas di lapangan. Itu pun ditambah masa  magang selama dua semester. 

“Setelah lulus, alumni sudah punya sertifikat atau lisensi keahlian. Mereka umumnya sudah paham akan berkarir di mana,” kata Lala.

Di sisi lain, Kepala Program Studi Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya Ariyono Setiawan ST MT menyatakan bahwa lulusan sekolah kedinasan lebih mudah mencari pekerjaan. Sebab, pihak kampus biasanya sudah memiliki rekanan dengan perusahaan maupun dinas terkait. Banyak taruna –istilah mahasiswa di instansinya– yang melamar kerja maupun lolos tes kerja sebelum kelulusan. Ada pula yang bekerja lewat jejaring senior atau semasa magang. 

“Perlu dicatat, tidak semua lulusan kami memilih jadi pegawai negeri sipil (PNS) atau bekerja di dinas. Kalau memang ingin di jalur itu, kami persilakan ikut seleksi sama seperti yang lain,” tutur Ari.

Dia menambahkan, tidak semua sekolah kedinasan punya ikatan dinas langsung. Apalagi yang langsung menjamin lulusannya menjadi PNS. Calon pendaftar harus melakukan persiapan matang. Tidak bisa hanya dikebut beberapa bulan. Sebab, desain perkuliahan cukup spesifik serta rangkaian saringannya panjang. 

“Idealnya, saat SMP atau masuk SMA, anak sudah punya pilihan yang mengerucut. Misalnya, aku ingin ke jurusan A dan B,’’ tegas Soffy Balqies MPsi.

Dengan opsi yang lebih sempit, persiapan diri anak ke jenjang pendidikan setelah SMA lebih matang. Termasuk jika harus melakukan latihan fisik atau pengecekan kesehatan. Psikolog yang juga dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya itu menuturkan, peminat sekolah kedinasan mesti mempunyai motivasi tinggi. 

“Bidang studi atau konsentrasi itu bakal berlangsung jangka panjang. Selain itu, ada keterikatan seperti harus tinggal di asrama, berseragam, dan lainnya,” ungkap Soffy.

Konsekuensinya, anak luwes menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus. Plus, beradaptasi dengan

teman seangkatan yang berasal dari beragam latar belakang. 

“Kalau mereka memang punya niat kuat, adaptasinya relatif cepat dan mulus,” ujar psikolog yang aktif di Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Surabaya tersebut. (*/fam/c14/nda/JP)

Berita Terkait