88 MENIT TAHAN NAPAS

88 MENIT TAHAN NAPAS

  Selasa, 6 September 2016 09:30
SUKSES: Salah satu adegan film Don’t Breathe yang bergenre bergenre horror/thriller. NET

Berita Terkait

Don’t Breathe Bertahan di Puncak Box Office

LOS ANGELES – Don’t Breathe sukses menjadi film paling mengerikan pada awal bulan ini. Pada pekan terakhir Agustus, film bergenre horror/thriller itu mengudeta posisi pemuncak box office dari Suicide Squad. Catatan tersebut berlanjut hingga pekan kedua pemutarannya. Hingga Minggu (4/9), film arahan sutradara Fede Alvarez itu meraup pendapatan USD 19,4 juta atau Rp255,3 miliar dari pasar Amerika Utara saja.

Raihan tersebut merupakan yang tertinggi pada pekan liburan labor day Amerika Serikat yang berlangsung awal September. Dengan total penghasilan USD 51,1 juta (setara dengan Rp672,6 miliar), Don’t Breathe sudah berhasil balik modal. Maklum, bujet penggarapannya cuma USD 10 juta alias Rp131,6 miliar.

Di luar Amerika Utara, film yang dibintangi Jane Levy, Daniel Zovatto, dan Dylan Minnette itu juga berpenghasilan lumayan. Mengutip Box Office Mojo, Don’t Breathe mengumpulkan USD 8,6 juta atau Rp113 miliar.

Alvarez menjelaskan, film garapannya tersebut berusaha mengangkat tema universal yang relatable. ’’Saat kamu membuat film, hal itu bakal disiarkan ke seluruh dunia, kan? Makanya, aku ingin ceritanya ’internasional’ dan bisa diterima banyak orang,’’ kata Alvarez kepada The Hollywood Reporter.

Pria yang juga menyutradarai film remake Evil Dead tersebut menyatakan, bujet USD 10 juta tidak besar. ’’Tapi, tetap saja itu kan uang. Aku berusaha membuat ceritanya simpel, mudah diterima, tapi tetap mengena,’’ tegas Alvarez. Selain balik modal, Alvarez memuaskan Sony yang hanya pasang target penghasilan USD 15,7 juta atau Rp206,6 miliar untuk film tersebut.

Kesuksesan Don’t Breathe sebenarnya berada di luar ekspektasi. Tidak ada nama besar di sini. Beda dengan The Sixth Sense atau Who Am I, yang memuncaki box office genre thriller/horror sepanjang masa dengan bantuan Bruce Willis dan Will Smith. Nama paling ngetop di Don’t Breathe adalah Jane Levy yang dikenal lewat sitcom Suburgatory.

Selain itu, ceritanya simpel. Tentang kelompok pencuri amatir yang menyatroni rumah veteran perang yang tunanetra. Meski tidak dapat melihat, si kakek mampu melawan, bahkan meneror balik. Teror yang tersaji selama 88 menit itulah yang membuat penonton terus-menerus menahan napas.

Soal menciptakan teror, Alvarez terinspirasi Psycho karya Alfred Hitchcock. ’’Kalau kita lihat lagi Psycho, Janet Leigh langsung mencuri perhatian di scene pertama. Tidak ada orang baik di sini,’’ tutur Alvarez. ’’Kita menahan napas hingga akhir film untuk melihat akhirnya,’’ lanjut sutradara berkebangsaan Uruguay tersebut.

September ceria tidak berlaku bagi para pesaing Don’t Breathe. Misalnya, thriller scifi Morgan, serta film Robert De Niro dan Edgar Ramirez Hands of Stone. Dua film itu hanya mentok di angka USD 2 juta atau Rp 23,3 miliar. Padahal, dua film tersebut tergolong berpotensi menjadi box office lantaran diputar di lebih dari 2.000 bioskop.

Pekan liburan juga berkesan kelam buat The Lights Between Oceans. Film yang dibintangi pasangan Alicia Vikander-Michael Fassbender itu cuma meraup USD 5 juta (Rp 65,8 miliar). Meski demikian, catatan tersebut tidak terlalu mengecewakan buat Disney selaku rumah produksi. Maklum, bujetnya tidak terlalu ’’wah.’’ Hanya USD 20 juta atau Rp 233,2 miliar.

September juga menjadi penanda berakhirnya musim panas. Situs analis media comScore mengungkapkan bahwa pendapatan blockbuster musim panas tahun ini dan tahun lalu mengalami peningkatan. Meski begitu, angkanya tidak signifikan, hanya 5,7 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu. Total, rilisan musim panas tahun ini menghasilkan USD 4,5 miliar (Rp 59,15 triliun). Hasil itu diperkirakan kembali naik menjelang akhir tahun. Sebab, bakal ada film-film kandidat blockbuster seperti Fantastic Beasts and Where to Find Them, Doctor Strange, serta Rogue One: A Star Wars Story. (Guardian/Forbes/Slash Film/fam/c14/na)

Berita Terkait