66 Orang Tewas, 105 Luka-Luka, dan Ribuan Warga Mengungsi

66 Orang Tewas, 105 Luka-Luka, dan Ribuan Warga Mengungsi

  Senin, 18 March 2019 09:13
KORBAN BANJIR: Sejumlah warga menangis histeris di depan peti jenazah keluarga mereka yang menjadi korban banjir bandang Kabupaten Jayapura, Minggu (17/3). ELFIRA/CENDRAWASIH POS

Berita Terkait

Banjir Bandang Hantam Kabupaten Jayapura 

Banjir bandang melumpuhkan sebagian wilayah Kabupaten Jayapura kemarin (17/3). Jalanan tertutup lumpur dan material yang terbawa air bah. Yang paling parah terjadi Distrik (Kecamatan) Sentani.

---

Berdasar data dari posko induk banjir bandang Jayapura, hingga pukul 20.00 WIT tadi malam, korban meninggal akibat banjir mencapai 66 orang. Sebanyak 105 orang mengalami luka. Mereka terdiri atas 75 orang luka berat dan 30 orang luka ringan. Tidak kurang 4.226 orang dilaporkan mengungsi.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Jayapura Doddy Sambodo Samiyana menuturkan, para pengungsi tersebut tersebar di beberapa titik di Kabupaten Jayapura. Sebanyak 1.250 orang di posko induk gunung merah, 300 orang di SIL, 400 orang di HIS, 600 orang di Bintang Timur, 1.450 orang di Gajah Mada, 153 orang di Doyo, 50 orang di Asrama Himls, dan 23 orang di panti jompo.

Dia menambahkan, ratusan rumah terendam banjir dan rusak. Begitu pula dengan fasilitas publik seperti sekolah dan pasar serta fasilitas keagamaan seperti gereja dan masjid. Puluhan kendaraan rusak. Bahkan, ada pesawat yang terseret banjir. 

Doddy menjelaskan, sejumlah alat berat seperti ekskavator dikerahkan untuk membersihkan material di sepanjang jalan raya dan sejumlah tempat yang terdampak banjir bandang tersebut. ”Ada 12 unit alat berat yang kami gunakan untuk membersihkan material di jalan raya dan tempat-tempat terjadinya banjir,” jelas Doddy yang juga humas Posko Induk Banjir Bandang Kabupaten Jayapura.

Penyebab Banjir Bandang

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, rusaknya ekosistem Pegunungan Cycloop menjadi penyebab musibah banjir di Jayapura tersebut. Ditambah dengan curah hujan tinggi yang terjadi sejak Sabtu malam (16/3).

Sutopo menjelaskan, hujan lebat mengguyur daerah Pegunungan Cycloop dan Kecamatan Sentani pada Sabtu sejak pukul 17.00 hingga 00.00. Puncaknya terjadi mulai pukul 19.00 selama sejam dengan curah hujan mencapai 52 mm per jam. Kemudian, pukul 22.00 hingga 00.00 curah hujan kembali tinggi dengan 42,5 mm per jam. ”Hingga secara keseluruhan total curah hujan 235,1 mm per jam. Ini sangat ekstrem,” paparnya.

Ketika curah hujan di gunung tinggi, palung di sungai yang mengalirkan air tidak mampu menampung. Akibatnya, air meluap. Lalu, mengalir serta mengikis lapisan-lapisan tanah hingga pohon yang dilewati. Material seperti bebatuan dan bongkahan kayu serta lumpur terbawa air hingga ke daerah permukiman yang berada di bagian selatan gunung. Selain itu, lanjut dia, tipe tanah di daratan Papua tergolong labil sehingga mudah mengakibatkan longsor.

Pria asal Boyolali, Jawa Tengah, itu mengungkapkan bahwa lingkungan Pegunungan Cycloop sudah rusak. Banyak daerah yang gundul akibat penebangan pohon dan pembukaan lahan untuk perkebunan maupun permukiman. Longsor yang terjadi kemudian menyumbat aliran air di hulu. ”Nah, saat hujan ekstrem seperti itu, sumbatan pecah karena hantaman debit air yang banyak tadi,” jelas Sutopo. Jika kondisi tersebut tetap dibiarkan, bukan tidak mungkin akan terjadi bencana serupa ketika cuaca kembali ekstrem.

Bapak dua anak tersebut menjelaskan, saat ini kondisi di Jayapura berangsur pulih. Air mulai surut meski lumpur menutupi jalan. ”Jumlah korban mungkin bertambah mengingat ada daerah yang belum terjangkau upaya evakuasi,” katanya.

Berdasar catatan yang diterima, ada tiga wilayah terdampak paling parah. Yakni, Kelurahan Dobonsolo dan Hinekombe di Distrik Sentani serta Doyo Baru, Distrik Waibu, dengan 350 rumah rusak berat diterjang banjir. (bet/han/syn/idr/c10/fal)

 

 

Berita Terkait