54 Tewas, Enam Hilang

54 Tewas, Enam Hilang

  Sabtu, 5 November 2016 09:30

Berita Terkait

Hari Ketiga Tenggelamnya Kapal TKI Ilegal di Batam

BATAM – Satu demi satu korban tenggelamnya kapal pengangkut tenaga kerja Indonesia (TKI) di perairan Batam berhasil ditemukan. Kemarin tim gabungan menemukan 36 jenazah. Dalam tiga hari pencarian mulai Rabu (2/11), sebanyak 54 korban ditemukan tidak bernyawa. Sementara itu, 41 korban lainnya selamat.

Kepala Basarnas Kepulauan Riau (Kepri) Abdul Hamid menyatakan, masih ada enam korban yang hilang. Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian. ’’Ada 14 armada yang kami turunkan. Mulai unsur TNI-AL, kepolisian, TNI-AD, KPLP, imigrasi, dan SAR,’’ jelasnya kemarin.

Evakuasi korban terbentur data jumlah penumpang yang tidak pasti. Namun, petugas berpatokan pada data awal bahwa kapal yang berangkat dari Johor, Malaysia, menuju Batam itu mengangkut 101 orang.

Petugas menghadirkan Dodi, salah seorang anak buah kapal (ABK) yang selamat, untuk menunjukkan posisi pasti tenggelamnya kapal. ’’Dia memberikan posisi pasti untuk menindaklanjuti pencarian bangkai kapal. Posisi tenggelamnya di 700 meter sebelum Pantai Tanjung Memban,’’ ujar Abdul.

Selain untuk mengetahui posisi bangkai kapal, Dodi dihadirkan untuk membantu evakuasi korban yang diduga masih terjebak di dalam bangkai kapal. ’’Kami berusaha mencari bangkai kapal, kemudian ditindaklanjuti dengan penyelaman,’’ katanya.

Batam Pos (Jawa Pos Group) melaporkan, Dodi selamat setelah berenang sekuat tenaga ke darat. Dia mengaku baru beberapa bulan menjadi kru kapal penyelundup TKI ilegal. Dodi dibayar Rp 1 juta untuk sekali jalan.

Saat diminta menunjukkan lokasi tenggelamnya kapal, dia agak kesulitan. Sebab, saat berlayar, kapal tidak menggunakan GPS. Panduannya hanya kompas untuk mencari titik bersandarnya kapal. ’’Sekitar satu mil (dari bibir pantai) tenggelamnya,’’ katanya.

Soal jumlah penumpang, Dodi punya versi sendiri. ’’Setahu saya, semua ada 96 orang, campur ABK tiga orang,’’ ujarnya.

Dodi mengaku tidak ingat detik-detik tenggelamnya kapal. Kejadiannya begitu cepat. Yang pasti, petaka itu berawal ketika kapal menabrak karang. ’’Kemudian, semua penumpang turun karena air surut. Kemudian, setelah keluar, berjalan lagi beberapa meter, ribut itu datang lagi,’’ ungkapnya.

Ketika kapal mulai tenggelam, Dodi sempat berteriak kepada Herman (nakhoda) untuk membawa kapal menuju ke daratan terdekat. Namun sayang, sebelum sampai ke daratan, kapal mereka terbalik. ’’Waktu tenggelam, Dodi langsung berenang ke darat sambil teriak minta bantuan nelayan,’’ ujarnya.

Selain Dodi, Herman sang nakhoda juga selamat. Namun, dia kabur. Sementara itu, Darus, ABK lainnya, diduga meninggal karena tidak bisa berenang. ’’Dodi takut dan trauma, makanya Dodi lari,’’ ungkapnya. (JPG/c5/ca)

Berita Terkait