46 Tahun Pontianak Post; Eksis di Tengah Gempuran Era Digital

46 Tahun Pontianak Post; Eksis di Tengah Gempuran Era Digital

  Sabtu, 2 February 2019 14:04

Berita Terkait

Hari ini Pontianak Post genap berusia 46 tahun. Hampir setengah abad, koran yang pertama kali terbit pada 2 Februari 1973 itu tetap konsisten menjalankan perannya sebagai pilar keempat demokrasi. Salah satunya adalah mengawal pembangunan daerah khususnya di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

=============

Di tengah gempuran media online yang cukup masif seperti saat ini, surat kabar yang dahulu bernama Akcaya itu tetap eksis. Masih menjadi sumber infromasi utama oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa sampai para pejabat pengambil kebijakan.

Pontianak Post diakui masih menjadi salah satu sumber rujukan dalam pengambilan keputusan pada berbagai instansi, termasuk pemerintahan. Seperti diungkapkan Gubernur Kalbar Sutarmidji. Ia menilai peran Pontianak Post sangat penting dalam mendukung percepatan serta sosialisasi dari satu rencana pembangunan di daerah.

"Sangat berperan, sejak menjabat wali kota, saya Pontianak Post ikut mendorong percepatan pembangunan di daerah ini," ungkapnya, Jumat (1/2).

Pontianak Post sebagai salah satu media yang sudah cukup lama berdiri di Kalbar, menurutnya sangat berperan dalam membentuk kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Sekaligus bisa menjadi perantara kepada masyarakat dalam hal transparansi program-program pemerintah.

Meski media online berkembang sangat pesat, orang nomor satu di Kalbar itu yakin media cetak akan tetap hidup. Bahkan bakal terus menjadi pilihan, karena masyarakat selalu membutuhkan dokumen informasi secara fisik.

"Media cetak tidak pernah akan mati. Contoh misalnya di negara-negara maju sekalipun seperti di Amerika yang media elektroniknya berkembang sangat pesat, tapi media cetaknya masih jadi pilihan. Bahkan omzetnya tak pernah turun," ujarnya.

Menurut Midji, media cetak harus terus berinovasi. Menyajikan berita secara lengkap dan mendalam, didukung tampilan yang selalu menarik. "Karena membaca itu akan lebih menarik dengan fisik dibanding elektronik. Terus berinovasi agar penyajian berita menarik dan selalu dinanti masyarakat," pesannya.

Mantan Wali Kota Pontianak itu juga berharap, Pontianak Post terus berperan dalam mempercepat pembangunan di Kalbar. Mampu mengakselerasikan rencana pembangunan pemerintah ke masyarakat.

"Saya beserta seluruh jajaran Pemprov Kalbar mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-46 Pontianak Post, semoga tetap jaya dan bisa memberikan informasi luas kepada seluruh masyarakat di Kalbar," tutupnya.

Terpisah Akademisi Untan Eddy Suratman mengatakan, Pontianak Post sangat berperan dalam pembangunan di Kalbar. Itulah mengapa sebagai akademisi ia merasa ada yang kurang jika satu hari tak membaca Pontianak Post. "Sebagai orang Kalbar, tanpa membaca Pontianak Post setiap hari rasanya ada yang kurang dalam hidup saya," ucapnya.

Pada umumnya Eddy mengaku mengandalkan Pontianak Post sebagai sumber infromasi utama mengenai pembangunan di Kalbar. Lalu terkait problem yang dihadapi Kalbar, baik yang berkaitan dengan pemerintahan, masyarakat maupun lainnya ia juga mengandalkan Pontianak Post.

"Jadi saya kira banyak orang yang seperti saya. Sehingga koran ini sangat berperan baik dalam mengoreksi proses pembangunan daerah, maupun dalam menginformasikan apa yang seharusnya dilakukan pemerintah dalam mengatasi masalah-masalah di Kalbar," paparnya.

Sehingga bukan hanya sekadar memberikan informasi, narasumber yang dikutip oleh Pontianak Post lanjut dia, sekaligus memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang ada. Baik masalah yang ada di masyarakat serta yang dihadapi penyelenggara pembangunan di daerah ini.

"Pengaturan halaman harus disurvei terus sesuai selera masyarakat, masyarakat kan dinamis sehingga koran tidak boleh statis, harus disurvei terus untuk mengetahui perkembangan keinginan masyarakat," pesannya.

Sementara itu, Pengamat Media di Kalbar Hasymi Rinaldi mengatakan, untuk mengetahui Pontianak Post memiliki kontribusi terhadap pembangunan, maka harus dipastikan sejauh mana koran ini memiliki kemampuan dalam mempengaruhi perubahan di tingkat masyarakat.

Transformasi sosial akibat pertumbuhan teknologi informasi menurutnya mengakibatkan media-media mainstream, termasuk Pontianak Post, bukan lagi satu-satunya aktor yang memproduksi isu. Pria kelahiran Palembang tahun 1980 itu melihat, akses dalam memproduksi dan mendapatkan informasi kini tersedia di banyak tempat dan terjangkau.

"Namun yang perlu disiasati bagaimana isu yang diproduksi pada ruang-ruang publik tersebut dapat dipertajam dan menjadi produktif untuk mendukung pembangunan," katanya.

Jika dianggap berkontribusi, ia menyatakan jelas Pontianak Post memiliki peran. Mengingat pangsa pasar yang dimiliki koran berusia 46 tahun ini cukup berpengaruh secara jumlah. "Sebagai media mainstream, Pontianak Post pun seringkali dijadikan rujukan tentang kebenaran isu yang beredar. Dalam hal ini, Pontianak Post cukup strategis dalam mempengaruhi pembangunan," ujarnya.

Alumnus Public Administration Pogram Univ of Hawaii itu menyarankan, agar Pontianak Post selalu memastikan sejauh mana berita yang disajikan dapat berpengaruh terhadap perubahan prilaku dalam mendukung pembangunan. Untuk mencapai hal itu, maka Pontianak Post harus dapat memastikan informasi yang disajikan tidak diabaikan oleh masyarakat.

"Karena ada kecenderungan bahwa masyarakat hanya menerima informasi yang diinginkan, atau setidaknya menimbulkan ketertarikan," katanya.

Karena itu media mainstream menurutnya tidak dapat mengabaikan wacana yang beredar pada ruang-ruang publik, baik online maupun offline. Pontianak Post harus lebih jeli dalam melihat wacana yang berkembang dalam ruang publik, dan mengindentifikasi isu-isu yang produktif untuk dipertajam, ataupun yang kontraproduktif dengan membangun wacana tandingan.

"Dalam konteks mendukung pembangunan, pemberitaan yang disajikan seharusnya tidak terjebak pada seremoni kegiatan-kegiatan pembangunan. Seharusnya dapat mengkondisikan agar masyarakat tertarik untuk menilai kelayakan dan terlibat secara aktif dalam pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan," imbuhnya.

Di era seperti saat ini, sebagai agen perubahan, ia merasa media massa termasuk Pontianak Post harus siap berubah. Mengingat keberadaan media massa tergantung dari massa itu sendiri. Revolusi industri 4.0 dikatakan berakibat pada perubahan di hampir seluruh lini. Termasuklah karakteristik massa dalam menikmati media.

"Dalam hal ini kebutuhan terhadap media digital sangat penting dan tidak dapat diabaikan. Namun, Pontianak Post pun tidak dapat menghilangkan keberadaan media cetak, mengingat masih terdapat segmen tersendiri yang masih mempertahankan pola-pola konvensional," ungkap Pengajar Komunikasi Publik di Politeknik Negeri Pontianak itu.

Hasymi menilai antara digital dan cetak memiliki segmen pasar yang berbeda. Namun, dengan menyajikan informasi yang sama melalui dua media tersebut tentu bukan jawaban, karena memang segmen pasarnya yang berbeda tersebut. Belum lagi dihadapkan dengan tantangan akses gratis dan tak terbatas terhadap banyaknya penyedia informasi digital lainnya.

Kelebihan yang harus diperkuat menurut dia, meski media digital memiliki banyak keunggulan, berita di media cetak masih dianggap lebih dapat dipercaya. Banyak informasi yang diperoleh secara online membutuhkan klarifikasi dari media cetak.

"Sehingga Pontianak Post seharusnya tetap mempertahankan media cetak, namun tidak pula dapat mengabaikan media digital, untuk segmen pasar yang berbeda, itu jika Pontianak Post tetap berkeinginan berkontribusi signifikan dalam pembangunan," pungkasnya. (bar)

Berita Terkait