330 Siswa Ikuti Uji Kompetensi LSP- P1 SMKN 5

330 Siswa Ikuti Uji Kompetensi LSP- P1 SMKN 5

  Senin, 8 April 2019 21:42

Berita Terkait

PONTIANAK-Sebanyak 330 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengikuti uji kompetensi sektor pendidikan, bidang hotel, restoran  dan kepemanduan. Uji kompetensi ini merupakan kerjasama LSP-PI SMK N 5 Pontianak dengan Asdep Pengembangan dan Hubungan Antarlembaga Deputi Bidang Pengembangan Industri Kelembagaan, Kementerian Pariwisata. Acara dibuka oleh Urai Muhani, Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar dan BNSP, Senin (8/4). 

Gustomi, Ketua Lembaga Sertifikat Profesi (LSP)-PI SMK Negeri 5 Pontianak mengatakan uji sertifikasi kompetensi ini tidak hanya diikuti oleh siswa SMKN 5 Pontianak namun juga diikuti oleh enam sekolah jejaring, seperti  SMK N 3 Singkawang, SMK Muhammadiyah 1, SMK CBK, SMKN 1 Ketapang dan SMKN 1 Jawai Selatan, dan SMKN 1 Sukadana. 

Uji kompetensi kali ke tiga ini melibatkan lebih kurang 17 asesor dari LSP-P1 SMKN 5 Pontianak. Pelaksanaannya lokasi ujian dibagi menjadi beberapa titik. “Untuk  sekolah yang berada di wilayah Pontianak, uji dilakukan di SMKN 5 Pontianak. Kemudian di daerah, dilakukan di wilayah masing-masing,” papar PLH Kepala SMK N 5 Pontianak ini. 

Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar, Urai Muhani mengatakan uji kompetensi ini  memberikan manfaat bagi lulusan. Sertifikat kompetensinya ini dapat digunakan dalam dunia kerja karena berlaku se ASEAN. Di era masyarakat ekonomi ASEAN ini, kata dia lulusan dituntut tidak hanya memiliki etika yang baik, tetapi juga kompetensi dalam bidangnya. Itu sebabnya, pada penilaian uji kompetensi ini ditekankan pada kemampuan peserta, kompeten atau tidak. 

Lembaga Sertifikasi Profesi terbagi menjadi tiga. Ada P1, P2, dan P3. LSP-P1 kata dia memiliki tantangan tersendiri, sebab sebagian besar peserta yang diuji adalah anak dididik masing-masing. “Beda ya dengan LSP-p3. Kalau LSP P3, asesornya itu lebih netral. Asesor LSP-P3 ini menguji untuk lembaga lain. Jadi semacam uji silang. Sedangkan LS-P1, asesornya berada di sekolah yang bersangkutan. Gurunya sebagai asesor,” ujar mantan Kepala SMKN 5 Pontianak ini sekaligus membuka kegiatan uji kompetensi. 

Muhani juga mengingatkan asesor untuk mampu menguji secara profesional, meski sudah mengenal baik asesi atau peserta ujian. Dia berharap, sertifikat yang diberikan sesuai dengan kompetensi peserta. Ini menjadi penting sebagai pertanggungjawaban asesor terhadap penilain. Jangan sampai, kata Muhani penilaian yang diberikan tidak sesuai, peserta dianggap kompeten tetapi ketika masuk dunia kerja, tidak kompeten. “Penekanannya ini tetap pada kompetensi peserta,” ulasnya. 

Saat ini, kata dia ada 221 SMK di Kalbar. Tetapi baru ada tujuh sekolah yang memiliki LSP-P1. Di zamannya revitalisasi SMK ini, dia berharap SMK-SMK lain bisa mengikuti perkembangan. Bahkan semua siswa SMK bisa mengikuti uji kompetensi dan jumlah lulusan yang meraih sertifikat kompeten semakin banyak. “Saat ini belum banyak. LSP-P1 juga kalau tidak salah baru ada tujuh,” katanya. (mrd)

Berita Terkait