16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

  Kamis, 29 November 2018 16:25

Berita Terkait

25 November  hingga 10 Desember ada kampanye yang disebut Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Di Pontianak,  kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan ini diselenggarakan dengan berbagai kegiatan. Satu diantaranya, talkshow  atau gelar wicara tentang upaya meminimalisir kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diinisasi Radio Republik Indonesi Pro 1 Pontianak, Kamis (29/11). 

Atun, salah satu narasumber ini mengaku pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Cerita bermula ketika ia dilamar seorang pria beristri yang mengaku duda.  Saat itu ia sama-sama menjadi tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Perbedaan usia  14 tahun tak menghalangi keduanya untuk menikah.

“Waktu itu saya tanya, ada surat cerainya? Dia jawab ada,” katanya.  Mereka pun menikah. Kebohongan-kebohongan pun terbongkar. Ketika pulang kampung halaman suami, diketahui suaminya memiliki istri lagi. “Ternyata saya istri yang ke empat,” katanya disambut rasa kaget peserta. 

Atun  pun mencoba bertahan. Sejak itu, tekanan psikilogis mulai menghampiri. Ditambah lagi sang suami kerap cemburu. 18 tahun lamanya ia bertahan demi anak-anak. “Saya bertahan karena anak saya. Tapi semakin lama semakin sakit, akhirnya saya bercerai,” ujarnya. 

Tuti Suprihatin, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum PIK Kalbar mengatakan, Atun hanya satu dari banyaknya perempuan yang mendapatkan kekerasan fisik. Menurut dia, hal ini terjadi karena berbagai macam faktor penyebabnya. “Perempuan rentan mengalami kekerasan, mulai dari kekerasan fisik, psikis, kekerasan seksual. Bahkan untuk kasusnya ibu Atun juga ditambah dengan kebohongan-kebohongan,” ujarnya. 

Acara yang dibuka istri Walikota Pontianak Dr Yenieta Arbieastuti ini juga menghadirkan Wakil Bupati Sambas Hairiah. Mantan aktivis perempuan ini menegaskan momen ini menjadi salah satu cara untuk mengampanyekan agar perempuan tak lagi menjadi korban KDRT. Dari hari ke hari, kata dia kasusnya semakin menurun, tetapi pencatatannya semakin meningkat.  Tahun 2016, lanjut Hairiah Komnas Perempuan mencatat, data nasional menunjukkan sekitar 289 ribuan kasus KDRT yang dilaporkan dan ditindaklanjuti, kemudian naik menjadi 387 ribuan kasus di tahun 2017.  

“Tren meningkat itu karena sudah ada undang-undanganya. Perempuan sudah berani melapor,” ulasnya.

Gelar wicara ini pun mendapat sambutan positif dari peserta. Beragam pertanyaan diajukan, bahkan ada juga yang mengungkapkan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa dirinya, keluarga, maupun teman.  (mrd)

Berita Terkait