140 Prajurit Batalyon Komando 465 Brajamusti ke Papua

140 Prajurit Batalyon Komando 465 Brajamusti ke Papua

  Minggu, 18 November 2018 14:29
BERSAMA ANAK: Pemandangan haru beberapa prajurit Batalyon Komando 465 Brajamusti Lanud Supadio saat akan berpisah bersama anak-anaknya, sebelum bertolak menuju Papua, Sabtu (17/11) di Lanud Supadio Pontianak. FOTO-FOTO MIRZA A MUIN/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Pemandangan Haru saat Berpisah dari Anak

Sebanyak 140 prajurit baret jingga Batalyon Komando 465 Brajamusti Lanud Supadio ditugaskan pengamanan daerah rawan  ke tujuh bandara di wilayah Papua. Mereka berangkat menggunakan dua pesawat Hercules, Sabtu (17/11) pagi. Membawa misi negara, di Papua mereka bertugas selama sembilan bulan

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

ADA pemandangan yang mengaduk-ngaduk emosi ketika berada di lapangan udara Pangkalan Udara (Lanud) Supadio. Sabtu pagi, 140 prajurit baret jingga Batalyon Komando 465 Brajamusti Lanud Supadio diberangkatkan ke Papua, untuk bertugas di bandara yang ada di wilayah Papua. Lamanya sembilan bulan.

Tangis haru para istri, anak, dan para orang tua mengiringi keberangkatan pasukan elit TNI-AU tersebut. Apalagi usai pelepasan dilakukan. Lantunan lagu Menunggu Kamu ost Jewita Secuba menambah haru.  Suara merdu penyanyinya, Anjie, membuat derai air mata para istri yang tergabung dalam persatuan Pia Ardhya Garini. Tetesan air mata tak terbendung saat melihat suami-suami mereka berangkat tugas ke Indonesia paling ujung bagian timur.

Setegarnya para prajurit TNI, tak bisa ditutupi. Berpisah dengan keluarga kurun waktu sembilan bulan bukanlah mudah. Melihat istri dan anak menangis haru, para pasukan elit TNI kulihat juga tak bisa menyembunyikan kesedihan. Matanya berkaca-kaca. Meski begitu, tugas tak bisa ditolak. Tanggung jawab mengemban tugas negara sebagai prajurit paling depan menjaga stabilitas negara Indonesia menjadi utama. 

"Bapak kemana nak?" tanya salah satu ibu Pia.

"Kerja, jauh," jawab anak seumuran 3 tahun polos.

Selain dia, tak sedikit anak anggota prajurit yang menangis saat ayah mereka berangkat tugas. Sebait cerita itu menjadi pemandangan beda. Bagaimana para prajurit TNI yang menyayangi keluarganya, pergi tugas sementara ke satu wilayah.

Maulani, anggota Pia tak memungkiri risiko bersuamikan seorang prajurit TNI harus seperti ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, inilah kenyataan buat mereka. Sebelum tugas di Papua, bahkan suaminya pernah bertugas di Libanon selama setahun. Kala itu, diceritakan dia bahwa tugas sang suami adalah mengemban misi perdamaian dunia. Di sana, lelaki yang menikahinya tersebut bergabung dengan tentara dari negara lain, bersama-sama mengamankan wilayah rawan perang. 

Tugas di Papua, para prajurit Paskhas Brajamusti ini akan bertugas di sejumlah bandara. Untung saja teknologi saat ini sudah semakin canggih. Jika rindu, mereka bisa v call atau berkirim gambar melalui pesan WhatsApp. 

Salah satu prajurit Paskhas Batalyon Komando 465 Brajamusti Lanud Supadio yang ikut berangkat ke Papua, Agus Triwibawa, menjelaskan, total 140 prajurit Paskhas yang berangkat ke Papua. Dari 140 prajurit ini, mereka akan ditugaskan di tujuh bandara di wilayah Papua. Yaitu, Bandara Ilaga, Bandara Mulia, Bandara Timika, Bandara Merauke, Bandara Jayapura, Bandara Enarotali, dan Bandara Munamani. "Saya kena di Bandara Ilaga," ungkapnya.

Nanti, lanjut dia, satu pos rerata diisi 20 prajurit. Tugas mereka di sana adalah pengamanan daerah rawan, dengan fokus di bandara. Pengaturan lalu lintas bandara di Papua juga jadi tanggung jawab para prajurit ini.

Keberangkatan ke sana, dijelaskan dia, dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berangkat menggunakan pesawat Hercules tipe A 1337 dan pesawat ke dua Hercules tipe A 1320. 

Persiapan keberangkatan, kata dia, sudah dilakukan sejak pukul lima subuh. Di mana semua prajurit berkumpul di lapangan Bandar Udara Lanud Supadio. 

Selain upacara dan pelepasan, persiapan barang-barang yang akan dibawa ke sana jadi fokus para prajurit. Berat meninggalkan keluarga. Apalagi tugasnya jauh di Papua. Tapi mengemban tugas negara harus dijalankan. Alat komunikasi juga semakin canggih. Jika rindu bisa menelpon. (*)

Berita Terkait