128.105 Anak Belum Berakta

128.105 Anak Belum Berakta

  Rabu, 7 September 2016 09:47
NAIK TOJANG: Salah satu prosesi yang digelar warga setempat yakni naik tojang, saat anak berusia 40 hari. Kini, meskipun anak telah melewati usia 1 tahun tapi belum berakta, tak perlu lagi menunggu penetapan pengadilan.

KETAPANG – Lebih dari separuh anak di Ketapang ternyata belum memiliki akta kelahiran. Dari 201.777 anak, hanya 73.672 anak yang memiliki akta kelahiran atau 36,51 persen. Jumlah ini masih sangat jauh dari target nasional pembuatan akta kelahiran yang mencapai 61,6 persen.

Kondisi ini disebabkan masih rendahnya kesadaran para orang tua untuk mengaktakan anak-anak mereka. Selain itu, luasnya wilayah serta rumitnya persyaratan juga dianggap sebagai salah satu penyebab rendahnya kepemilikan dokumen penting yang satu ini.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Ketapang, Mansen, mengingatkan bahwa akta kelahiran ini sangat penting dan besar manfaatnya. Bahkan, ditegaskan dia pula bahwa akta kelahiran ini bersifat wajib bagi anak. "Selain merupakan satu di antara dokumen penting, juga sebagai bukti sah mengenai status dan peristiwa kelahiran seseorang," kata Mansen.

Ia mengungkapkan, sampai Juli 2016, dari data yang dihimpun mereka, jumlah anak di Ketapang mencapai 201.777 anak. Sementara anak yang sudah memiliki akta dari jumlah tersebut, diakui dia baru mencapai 73.672 anak. Artinya, menurut dia, masih ada 128.105 anak yang belum memiliki akta. "Ini masih jauh di bawah target nasional. Target nasional 61,6 persen dari jumlah anak," jelasnya.

Untuk mencapai minimal target nasional, Disdukcapil pun melakukan beberapa cara. Di antaranya mereka jemput bola. Hal ini dianggap mereka cukup ampuh. Karena, diakui dia, salah satu faktor penyebab masih rendahnya kepemilikan akta lahir adalah luas wilayah, sehingga masyarakat sulit menjangkau. "Kita berharap cara ini mampu meningkatkan minat orang tua untuk membuatkan anaknya akta kelahiran," harapnya.

Selain itu, pihaknya juga akan mempermudah syarat, sehingga masyarakat tidak dipersulit dan tidak merasa malas. "Kita berharap masyarakat dapat semakin banyak membuat akta kelahiran maupun dokumen lainnya yang menyangkut kepentingan masyarakat itu sendiri seperti e-KTP, KK, dan lainnya," harapnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ketapang, Jamhuri Amir, berharap agar Disdukcapil proaktif dalam melayani pembuatan dokumen kependudukan. Proaktif yang dimaksudkan dia, mulai dari pembuatan akta kelahiran, akta kematian, kartu keluarga, dan kartu penduduk. "Kita minta agar tidak dipersulit," pintanya.

Selain tidak mempersulit, Jamhuri juga meminta agar melakukan inovasi pelayan yang lebih dekat kepada masyarakat. Dimisalkan dia seperti pelayanan pembuatan dokumen dengan cara jemput bola. Tidak hanya sampai di kecamatan, namun diharapkan dia juga bisa sampai ke desa-desa. "Bahkan kalau perlu hingga ke tingkat RT/RW," lanjut legislator Partai Hanura tersebut.

Ia sependapat bahwa sistem jemput bola cukup ampuh untuk meningkatkan minat masyarakat dalam mengurus dokumen kependudukan. "Kita berharap bisa menjadi motivasi bagi pemda melalui dinas terkait untuk terus berupaya, agar pembuatan akta kelahiran terus meningkat hingga melebihi standar nasional yang ditentukan," terangnya.

Selain itu, ia berharap agar bidan-bidan di seluruh wilayah Ketapang, khususnya di daerah pedalaman juga dapat membantu memberikan pemahaman dan saran kepada ibu-ibu yang melahirkan, untuk dapat membuat akta kelahiran. Apalagi, menurutnya, tidak semua masyarakat mengerti dan memahami soal akta kelahiran ini. (afi)