11 Hotspot, 2,5 Ha Hutan Terbakar

11 Hotspot, 2,5 Ha Hutan Terbakar

  Selasa, 12 June 2018 10:00
CEK LOKASI: Petugas gabungan sedang menyisir lokasi yang terdapat titik panas yang terpantau oleh sejumlah satelit. AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG – Dalam sepekan terakhir, 11 titik panas (hotspot) terpantau di Ketapang. Sebaran titik panas tersebut terdapat di beberapa kecamatan. Beberapa titik panas tidak ditemukan api saat dicek. Namun beberapa titik lainnya memang terjadi kebakaran, bahkan terjadi di hutan.

Kepala Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Ketapang, Rudi Windra Darisman, mengatakan, titik panas tersebut terpantau oleh sejumlah satelit dalam sepekan terakhir. Di antaranya Satelit Terra, Aqua, dan Noa. "Lokasinya menyebar di beberapa kecamatan. Untuk memastikan apakah itu kebakaran atau bukan, tim di masing-masing kecamatan yang mengeceknya," katanya, kemarin (11/6) di Ketapang.

Dia menjelaskan, pada 3 Juni terpantau tiga titik panas. Di antaranya, sebut dia, di Kendawangan sebanyak satu titik dan Nanga Tayap, dua titik. Pada 5 Juni, dia juga mengungkapkan bahwa terpantau tiga titik panas di Kendawangan, Simpang Hulu, dan Air Upas, masing-masing satu titik panas. Dia menambahkan bahwa pada 7 Juni kembali terdeteksi satu titik panas di Kendawangan. Kemudian pada 8 Juni, diakui dia, terdapat dua titik panas di Pemahan, dua titik panas di Tumbang Titi dan Kendawangan.

Rudi mengungkapkan, titik panas yang terpantau oleh satelit tersebut tidak dapat dikatakan kebakaran. Untuk menastikan itu, menurut dia, harus dilakukan pengecekan langsung ke lapangan. "Bisa saja hotspot itu hanya pantulan panas dari matahari. Terlebih lagi beberapa hari terakhir ini Ketapang memang dalam keadaan panas," jelasnya.

Untuk memastikan apakah terdapat api atau tidak, pihaknya bersama dengan TNI dan Polri melakukan pengecekan langsung ke lapangan (grouncheck). Dari hasil pengecekan langsung, diakui dia, memang terdapat kebakaran lahan dan hutan. Namun, dia menambahkan, sebagian lagi tidak ada. "Dari 11 hotspot ada yang merupakan kejadian kebakaran, namun ada juga bukan lantaran merupakan efek sun glint atau pantulan cahaya panas matahari yang tertangkap satelit," tuturnya.

Dari beberapa titik kebakaran tersebut, beberapa titik kebakaran di antaranya, menurut dia, terjadi di hutan. Pada 3 Juni, dia menambahkan, terdapat kebakaran hutan seluas 1,7 hektare. Pada 7 Juni, sebut dia, terdapat 0,5 hektare hutan terbakar dan 0,3 hektare hutan terbakat pada 8 Juni. "Tapi saat dilakukan pengecekan ke lapangan, api sudah mati. Kita hanya menemukan areal bekas terbakar," ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ketapang, Maryadi Asmuie, mengatakan, memasuki musim kemarau, Ketapang dihantui dengan musibah kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada munculnya kabut asap. Untuk bencana kebakaran hutan dan lahan, dia menambahkan, 45 desa di Ketapang dinyatakan rawan terjadi karhutla.

Dia menjelaskan, 45 desa tersebut tersebar di daerah pesisir dan daerah pedalaman Ketapang. Namun, dari sekian desa tersebut, diakui dia, terdapat daerah yang memang menjadi titik paling rawan yaitu, di sepanjang kawasan antara Desa Pelang Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS) hingga ke Kecamatan Sungai Melayu Rayak.

Di kawasan ini, tak dipungkiri dia jika setiap musim kemarau tiba, selalu saja terjadi kebakaran lahan. Kebakaran yang dimaksud dia, baik yang memang sengaja dibakar untuk dijadikan lahan pertanian oleh warga, maupun yang tidak sengaja terbakar. Bahkan, di daerah ini menjadi perhatian khusus bagi tim penanggulangan karhutla. "Daerah ini kawasan gambut. Jadi kalau terbakar mudah meluas dan susah ditanggulangi," ungkapnya.

Mengantisipasi ancaman karhutla di tahun ini, Pemda Ketapang telah membentuk tim pencegahan dan penanggulangan karhutla. Selain melibatkan pihak-pihak terkait seperti TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, BMKG, dan pihak lainnya, Pemda Ketapang juga membentuk tim pencegahan dan penanggulangan karhutla di tingkat desa. Salah satunya Kelompok Tani Peduli Api (KTPA).

KTPA ini sendiri rencananya akan dibentuk di 45 desa rawan karhutla. KTPA akan dibentuk kemudian dilatih serta akan dibekali dengan peralatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran berskala kecil. Jika tidak mampu ditangani oleh KTPA, maka akan ditindaklanjuti oleh tim kecamatan dan kemudian tim karhutla kabupaten.

Maryadi menambahkan, dari 45 desa tersebut, 11 desa di antaranya sudah terbentuk KTPA. Delapan desa di antaranya baru dibentuk tahun ini, di antaranya Desa Laman Satong, Kuala Tolak, Tanjung Baik Budi, Tempurukan, Ulak Medang, Mayak, Tanjungpura dan Desa Tanjung Pasar. "Kita targetkan hingga 2020 mendatang, 45 desa ini sudah terbentuk KTPA semua," ungkapnya. (afi)

Berita Terkait