“Selamat Jalan Mas, Semoga Tenang di Alam Sana”

“Selamat Jalan Mas, Semoga Tenang di Alam Sana”

  Selasa, 22 March 2016 09:04

Berita Terkait

Kisah Korban Tragedi Heli Jatuh di Mata Orang Dekatnya

Letnan Satu (CPN) Wiradhy Tri Darwoko, salah seorang di antara 13 korban jatuhnya Helikopter milik TNI AD Jumat (20/3) lalu, meninggalkan duka mendalam bagi guru dan adik tingkatnya di SMA TBK. Bahkan hari ini, pihak sekolah menginstruksikan mengibarkan bendera setengah tiang.

------

WIRADHY tercatat sebagai siswa angkatan XI di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa, Jalan Ahmad Yani II, Kubu Raya. Di mata gurunya, Wiradhy dikenal sebagai sosok yang energik, dan kreatif. 

Mantan Kepala Sekolah SMA TBK, Stevanus Purwanto menceritakan, sosok Wiradhy masih dingat jelas olehnya. Mantan guru Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam korban ini mengaku terkejut saat pertama kali mendengar kabar bahwa anak didiknya meninggal dalam kecelakaan pesawat.

“Anak itu aktif di banyak kegiatan sekolah. Drum band sebagai mayoret. Tim basket juga. Dia sangat energik dan berbakat,” kata Stevanus, Senin (21/3).

Selain dikenal berbakat, Wiradhy juga dianggap sebagai siswa yang berbudi pekerti baik. Meski sudah tamat dan menggapai cita-cita menjadi tentara, almarhum masih tetap mengingat almamaternya. 

Stevanus menceritakan, pernah suatu hari Wiradhy menyempatkan berkunjung ke sekolah, demi untuk memberi motivasi adik-adiknya. “Dia rela waktu cuti kerja diambil untuk datang ke sekolah, ngasih motivasi agar bisa seperti dia sekarang. Dia sangat perhatian,” terangnya.

Duka mendalam kepergian Wiradhy, bukan hanya dirasakan Stevanus. Diungkapkannya, saat mendengar kabar bahwa seorang di antara 13 korban jatuhnya helikopter merupakan mantan siswanya, Stevanus lantas meneruskan informasi itu ke sekolah. Bentuk duka citanya, jajaran guru dan murid sepakat, apabila hari ini untuk mengenang sosok Wiradhy dengan mengibarkan bendera setengah tiang.

“Kami keluarga besar sangat berduka cita atas kepergian Wiradhy. Dia cukup punya andil terhadap kemajuan sekolah,” tukasnya. 

Rekan Wiradhy, Panuntun Utama dalam account Twitter-nya menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak menyangka jika sahabat yang kerap memotivasinya itu telah tiada. 
“Selamat Jalan Mas Wiradhy. Semoga tenang di alam sana. Ternyata kemarin itu telfon mas untuk yg terakhir kalinya. Terimakasih ya mas untuk semua nasehat nya. Khusnul khotimah mas Wiradhy. Amin,” tulis rekan Winardhy melalui account @Panuntunutomo. 
Selain rekan dan guru Wiradhy, jajaran Kodam XII/TPR juga merasakan hal yang sama. Sebab, mantan Kasintel Kodam XXI/TPR, Kolonel Inf Ontang Roma P. Sitindaon, turut menjadi korban kecelakaan helikopter di Kabupaten Poso. 
Koloner Inf Ontang, selain dikenal tegas dalam mendidik, namun juga peduli dengan anggotanya. Salah seorang dari mantan bawahan di jajaran Kasintel Kodam yang enggan disebut nama lengkapnya menyatakan, jika dirinya sempat shock ketika pertama kali mendengar kabar mantan atasannya meninggal.
“Saya masih belum percaya, sampai ndak bisa tidur, sampai sekarang. Beliau itu supel sekali. Dia bisa membedakan mana jam tugas dan di luar kerjaan,” kata anggota Kasintel yang minta namanya disingkat Serka UK.
UK mengaku dekat dengan Kolonel Ontang. Bahkan, dia pernah ditolong atasannya itu, sewaktu mendapatkan musibah kecelakaan hingga mengalami patah tulang. Pada saat mendengar itu, almarhum langsung mendatangi dirinya dan memberikan sejumlah uang untuk pengobatan. 
Kebaikan mantan atasannya itu, jelas UK, juga ditunjukkan kepada semua jajaran Kasintel. Tidak mengenal atasan dan bawahan. Diceritakan dia, apabila diantara anggota maupun keluarganya yang mengalami sakit, Kolonel Ontang pasti menyempatkan untuk menjenguk.“Saya kaget sekali waktu mendengar kabar itu. Beliau sangat setia kawan,” katanya mengenang.
Disebutkan pula, jika kedekatan emosional dengan mantan atasannya itu bukan hanya dirasakan UK, tapi juga istrinya. Saat mendapat kabar Kolonel Ontang seorang diantara korban kecelakaan pesawat, ia dan istrinya terkejut. 
“Saya dapat telegram saat nonton Moto GP, istri saya nyedot air. Saat saya kasih tahu kabar itu, istri saya menangis,” ungkap UK.
Satu bulan sebelum peristiwa nahas, UK mengaku sempat dihubungi oleh Kolonel Ontang. Dalam pembicaraannya, almarhum berencana hendak pergi ke Kabupaten Ketapang. “Tanya kabar istri dan anak saya. Mungkin karena ada tugas di Poso, beliau ndak jadi ke sini,” ujarnya.
Serka Sutono, juga menegaskan hal yang sama, jika mantan komandannya itu punya jiwa komando yang hebat dalam mendidik. Meski keras, tapi dinilai bagus. 
“Kami bangga dengan beliau. Meski tegas, tapi terarah dan mendidik, semua anggota menerima. Beliau juga welcome terhadap semua orang,” tukasnya. (Gus)

Berita Terkait