Zika di Singapura Jenis Asia Tenggara

Zika di Singapura Jenis Asia Tenggara

  Selasa, 6 September 2016 09:30
WASPADA: Petugas kesehatan sedang melakukan fogging di salah satu sekolah di Kuala Lumpur, kemarin, untuk mengantisipasi penularan virus zika. MOHD RASFAN / AFP MALAYSIA

Berita Terkait

Berbeda dengan Virus dari Brasil

SINGAPURA – Persebaran virus Zika di Singapura kian luas. Tidak hanya ada kasus baru, tapi juga penularan di area anyar. Sabtu lalu (3/9) Kementerian Kesehatan (MOH) dan Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura mengonfirmasikan tambahan 26 kasus lagi. Sebanyak 24 kasus di antaranya memiliki hubungan dengan area Aljunied Crescent dan Sims Drive. Baik yang tinggal maupun bekerja di dua area yang menjadi pusat persebaran pertama tersebut. 

Sedangkan dua kasus lain ditemukan di lokasi yang berbeda. MOH maupun NEA tidak menyebutkan daerah asal dua kasus baru itu. Secara keseluruhan, sudah ada 215 orang yang tertular virus Zika di Singapura. 

MOH juga mengungkapkan, Laboratorium Kesehatan Masyarakat Nasional telah bekerja sama dengan Bioinformatics Institute untuk meneliti virus Zika di Singapura. Mereka mengambil sampel darah dari dua penderita Zika di Aljunied Crescent dan Sims Drive. Hasilnya, virus Zika yang ditemukan di Singapura tersebut merupakan jenis yang berbeda dengan yang menjangkiti Brasil maupun negara-negara Amerika Selatan lainnya.

”Dari hasil analisis, virus (yang menyebar di Singapura, Red) memiliki garis keturunan Asia dan tampaknya berkembang dari jenis yang sudah ada di Asia Tenggara,” ujar pihak MOH dan NEA dalam konferensi pers. Hal tersebut memperkuat dan menjawab analisis sebelumnya bahwa penularan di Singapura terjadi secara lokal. Sebab, orang-orang yang tertular virus Zika itu tidak melakukan perjalanan ke negara endemi baru-baru ini.  

MOH serta NEA tidak memerinci dengan jelas perbedaan antara virus Zika di Brasil dan jenis yang ada di Asia itu. Mereka hanya menegaskan bahwa tim peneliti segera merilis detailnya. Meski begitu, para pakar menyebut temuan itu menggembirakan.  

”Saya harus melihat data-data yang ada. Tapi, karena virus tersebut berbeda dari virus yang tersebar di Brasil, tentu saja kemungkinan mikrosefali (akibat Zika, Red) di sini akan lebih kecil,” ujar spesialis penyakit menular di  Mount Elizabeth Novena Hospital Dr Leong Hoe Nam. 

Dokter spesialis penyakit menular lainnya, yaitu Paul Tambyah, mengungkapkan bahwa virus Zika bisa saja telah beredar di Asia selama beberapa dekade. Sebab, virus itu pernah menjangkiti wilayah Asia Tenggara pada 1960-an. Dalam prosesnya, virus tersebut mengalami perubahan. Dengan begitu, bisa diartikan penduduk di wilayah Asia Tenggara telah mengembangkan imunitasnya terhadap virus tersebut. 

Virus yang menyebar di Brasil telah menginfeksi 1,5 juta penduduk. Sembilan di antara sepuluh kasus di Brasil terjadi di wilayah timur laut. Virus yang menyebar di Brasil tersebut bisa menyebabkan bayi terlahir dengan mikrosefali atau kepala menyusut jika saat hamil si ibu tertular. Para pakar telah meneliti apakah faktor lingkungan, sosial ekonomi, dan biologis berpengaruh terhadap penularan virus itu. 

Saat ini pemerintah Singapura mengalakkan gerakan membasmi virus Zika secara nasional. Gerakan berbasis komunitas tersebut meliputi 50 area, termasuk Bedok dan Whampoa. Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan penduduk agar bisa mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk di rumah masing-masing. 

”Yang paling penting, kita bisa mengontrol risiko (penularan Zika, Red) untuk setiap individu,” terang Wakil Perdana Menteri Singapura Teo Chee Hean. Dia mengungkapkan, mayoritas orang yang tertular Zika di Singapura hanya mengalami gejala-gejala ringan. Misalnya demam dan ruam. Namun, tetap saja penyebaran virus itu harus diwaspadai. Utamanya terhadap ibu hamil.

Di pihak lain, Menteri Lingkungan Hidup dan Pengairan Singapura Masagos Zulkifli menyatakan bahwa WHO memuji negaranya. Menurut dia, WHO menyebut usaha Singapura untuk memerangi Zika patut dicontoh oleh negara-negara lain. Begitu juga transparansi pemerintah Singapura terhadap penyebaran virus tersebut. 

Sementara itu, pria Malaysia yang tertular Zika akhirnya meninggal Sabtu lalu. Sebab, sebelumnya, kondisi kesehatan pria 61 tahun dari Kota Kinabalu, Sabah, tersebut sudah buruk. Dia memiliki komplikasi penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan beberapa penyakit lain. Pemerintah Malaysia memperkirakan bahwa bakal lebih banyak lagi orang yang tertular. Hal itu dibenarkan oleh beberapa pengamat.  

”Zika akan menyebar lebih cepat di Malaysia jika dibandingkan dengan Singapura karena jumlah nyamuk Aedes di Malaysia jauh lebih banyak dan perkembangbiakannya di masyarakat luar biasa,” tutur kepala Departemen Pediatrik di Hospital Raja Permaisuri Bainun. Sepanjang tahun lalu saja ada 120.836 kasus demam berdarah di Malaysia. Sebanyak 336 penderita meninggal dunia. Tahun ini sudah ada 75 ribu kasus dengan 166 korban meninggal. (Reuters/The Strait Times/sha/c11/sof)

Berita Terkait