Zainal Berencana Menikahi Pacarnya Tahun Depan

Zainal Berencana Menikahi Pacarnya Tahun Depan

  Selasa, 10 May 2016 09:30

Berita Terkait

Ayah Zainal mengaku melihat anaknya seharian di rumah untuk memperbaiki sepeda motor saat Yuyun hilang. Kondisi desa sudah mengkhawatirkan sejak sebelum Yuyun ditemukan tewas. 

ILHAM WANCOKO, Rejang Lebong  

PADA hari ketika Yuyun hilang, Zakaria mengingat benar anaknya, Zainal, sibuk dengan sepeda motornya di rumah. Hampir seharian pemuda 23 tahun itu memperbaiki sepeda tersebut. 

”Entah apa yang rusak, saya tidak mengetahuinya,” jelas warga Desa Kasie Kasubun, Lembak, Rejang Lebong, tersebut.

Itulah yang membuatnya yakin bahwa anak sulungnya tersebut tidak terlibat kekejian kepada Yuyun yang baru ditemukan dua hari kemudian (4/5) dalam kondisi tewas. Menurut bapak tiga anak itu, ada banyak faktor yang membuatnya berkeyakinan demikian. 

Selain dia menyaksikan sendiri Zainal seharian di rumah saat Yuyun hilang, selama ini putranya itu sangat protektif kepada dua adik perempuannya, Santi, 21, dan Yesi, 14.

”Mana tega dia melakukan itu? Dia punya dua adik perempuan,” ujarnya. 

Tapi, versi polisi, justru Zainal yang menjadi otak pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun. Kasatreskrim Polres Rejang Lebong AKP Chusnul Qomar sempat menuturkan, Zainal-lah yang menentukan siapa yang memerkosa Yuyun terlebih dahulu. 

”Ya, dia kan yang paling tua,” tuturnya saat ditemui di depan rumah Yuyun.

Menanggapi itu, Zakaria menuturkan bahwa selama ini tidak ada saksi yang melihat dengan mata sendiri bahwa ada 14 pelaku pemerkosaan. ”Saya mohon kepada polisi, jangan asal tangkap,” kata Zakaria. 

Zakaria semakin sangsi kalau Zainal dikatakan terlibat kekejian kepada Yuyun gara-gara gemar menonton film porno. Sebab, anaknya itu tidak memiliki handphone. ”Dia itu tak punya alat komunikasi. Mana bisa melihat video semacam itu?” tuturnya.

Selain itu, Zainal, setahu sang bapak, tak pernah bergaul dengan anak-anak yang berumur cukup jauh di bawahnya. Di antara 14 terduga pemerkosa Yuyun, separonya masih tergolong anak. 

”Banyak teman (Zainal, Red) yang datang ke rumah, tapi bukan anak kecil-kecil,” ucap Zakaria.

Seperti banyak keluarga lain di Kasie Kasubun, Zakaria sekeluarga mengandalkan pendapatan dari kebun kopi dan karet. Luas kebun mereka sekitar 1 hektare, tergolong kecil di Bengkulu. 

Harga karet juga tengah jatuh. Per kilogram cuma Rp 4 ribu–Rp 5 ribu. Padahal, dalam sehari, keluarga Zakaria hanya bisa menyadap 2 kilogram karet. Beban hidup memang menjadi lebih ringan ketika masa panen kopi tiba. 

”Tapi, itu hanya setahun sekali,” kata Zakaria, yang bersama keluarga tinggal di sebuah rumah kayu usang. 

Dari data, di antara 263 ribu warga Rejang Lebong, 93 ribu warga tergolong miskin atau sekitar 36 persen dari total populasi. Penghasilan mereka kurang dari Rp 30 ribu per hari. 

Jadilah ketiga anak Zakaria harus putus sekolah. Zaenal drop out saat kelas dua SMP. Tapi, yang perlu ditegaskan, penggambaran kemiskinan dan rendahnya pendidikan itu bukan sebuah upaya pemakluman. 

Seperti ditegaskan di bagian pertama tulisan ini, upaya menyusuri keluarga sejumlah terduga pemerkosa dan pembunuh Yuyun adalah sebuah ikhtiar untuk mendapatkan pemahaman utuh tentang peristiwa mengerikan tersebut. Tanpa bermaksud menghakimi. 

Latar belakang Zainal hampir sama dengan 13 terduga lain. Kepala Desa Kasie Kasubun Aji Kelas menuturkan, kebanyakan warganya memang hanya menjadi petani kebun kopi dan karet. 

Namun, mereka bukan petani kaya. Sebab, luas kebun mereka sangat terbatas. ”Mereka terbilang petani tanpa modal. Kalau bukan petani, tentu biasanya menjadi sopir atau pedagang,” ungkapnya.

Menurut dia, tekanan ekonomi yang dirasakan warganya semakin besar sejak harga karet turun. Dari yang pernah mencapai Rp 12 ribu per kilogram menjadi tinggal Rp 4 ribu–Rp 5 ribu. 

”Tentunya ini sangat berdampak,” ucap dia.

Salah seorang warga Desa Kasie Kasubun, Darmin, menuturkan, sebelum tragedi Yuyun terjadi, memang kondisi kampung tersebut cukup mengkhawatirkan. Ada banyak pemuda yang putus sekolah dan menganggur. 

”Teman anak saya banyak yang begitu,” tuturnya.   

Karena melihat besarnya potensi kerawanan sosial itu, dia memilih mengirim anaknya untuk bersekolah di dekat rumah neneknya di Lubuklinggau. ”Saya lihat, teman-teman anak saya sering nginap. Tapi, hampir semua putus sekolah. Salah satu pelaku juga pernah menginap di rumah saya,” jelasnya.

Tapi, menurut Zakaria, anaknya, Zainal, jauh dari kategori luntang-lantung. Sebelum ditangkap, Zainal biasa menemaninya ke kebun yang berjarak 8 kilometer dari rumah. Jarak sejauh itu harus ditempuh dengan berjalan kaki selama dua jam. 

Zainal gigih bekerja karena berencana menikahi pacarnya, gadis asal Lubuklinggau, Sumatera Selatan, daerah yang berbatasan dengan Rejang Lebong, tahun depan. ”Dia ingin memiliki kebun sendiri,” kata Zakaria.  

Alfiansyah, terduga lain, juga memilih berhenti bersekolah dari SMK Padang Ujung Tanduk pada Februari lalu karena tekanan ekonomi keluarga. Pemuda 17 tahun itu lebih memilih meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai sopir angkutan desa. Dia baru belajar mengemudi dengan mobil pikap tua milik keluarga itu. 

”Dia belajarnya belum sampai bawa penumpang. Baru berani mengangkut durian dari rumah ke pasar,” ujar Adida, ibunda Alfiansyah.

Keluarga itu setiap hari mengandalkan angkutan desa untuk mendapatkan uang. Sehari, paling banyak hanya Rp 50 ribu yang dikantongi. ”Karena itu, saya juga berjualan sembako di rumah,” jelasnya. 

Penangkapan terhadap Alfiansyah pun benar-benar pukulan berat bagi keluarga tersebut. Sebab, Alfiansyah tidak menunjukkan gelagat yang berbeda saat Yuyun ditemukan meninggal. ”Sikapnya biasa saja,” ujarnya.

Kalau menjadi pelakunya, lanjut Adida, dia pasti ketakutan saat jenazah gadis 14 tahun itu ditemukan. Apalagi setelah polisi turun tangan. ”Nah, saat itu dia tidak kelihatan terpengaruh penemuan mayat. Seperti biasanya saja,” paparnya.

Tentu bersikap tenang itu bukan jaminan bahwa Alfiansyah tidak bersalah. Alibi Zakaria bahwa Zainal seharian di rumah saat Yuyun hilang juga tidak berarti bahwa anaknya tak terlibat. Apalagi, tak ada orang lain yang mendukung pernyataannya. 

Tapi, di sisi lain, asas praduga tak bersalah harus tetap dijunjung seberapa pun marahnya semua orang gara-gara kekejian yang dialami Yuyun. Keadilan untuk remaja nahas itu hanya bisa tercapai jika pelaku sesungguhnya terungkap dan dihukum seberat-beratnya. (*/c11/ttg) 

Berita Terkait