Zailani Abdullah: Sastra dan Orientasi Lokal

Zailani Abdullah: Sastra dan Orientasi Lokal

  Jumat, 19 Agustus 2016 09:17   418

Oleh: Khairul Fuad

HAMPIR  sosok yang bergelut di bidang sastra tidak begitu akrab di telinga masyarakat karena suka atau tidak, sastra menjadi bidang ke sekian dari perhatian masyarakat. Meskipun, bidang sastra tidak dipungkiri memberi kontribusi dan dapat mengalihkan perhatian di tengah masyarakat. Beberapa karya sastra sempat menjadi sorotan masyarakat, seperti Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, dan Harry Potter, termasuk eksistensinya dalam sebuah peradaban.

Zailani Abdullah merupakan sosok yang jarang dikenal di tengah masyarakat karena selama ini bergelut di bidang sastra. Jika dikenal, hanya di seputar kalangan pegiat dan penikmat sastra Kalimantan Barat. Ditambah, kiprahnya bersama Odhy’s, Mizar Bazarvio, dan Yudhiswara yang jarang dikenal sekalipun di daerahnya sendiri. Begitu juga, Kompak yang merupakan sanggar sastra besutan seangkatannya jarang juga dikenal.

Fenomena-fenomena kasastraan Kalimantan Barat masih sering luput, untuk tidak mengatakan lepas, dari pandang beribu pasang mata masyarakat Kalimantan Barat. Termasuk, kontribusi Zailani Abdullah belum akrab diketahui oleh masyarakat dalam kesastraan, padahal kiprahnya telah lama melalui Kompak pada era 1980-an. Saking besar hasrat kepada sastra Kalimantan Barat, rumahnya sering dijadikan ajang diskusi sastra kala itu sebagai kontribusinya. 

Keresahan Zailani Abdullah atas ketidakakraban sastra lokal oleh masyarakat lokal sendiri, sudah dirasakan sejak lama. Saat kesempatan dalam sebuah acara sastra, seorang peserta disodorkan sebuah puisi dan ditanya karya siapa, dijawabnya karya orang Jakarta (baca: sastrawan nasional). Puisi yang disodorkan karya Odhy’s, sementara itu yang bersangkutan berada di situ dan diminta untuk membacakannya.  

Akan tetapi, geliat lokalitas berangsur beranjak setelah beberapa dekade melalui berbagai upaya para pegiat sastra Kalimantan Barat selama ini, seperti kampanye menulis, kelompok sastra, dan peluncuran karya sastra lokal. Dengan kata lain, keresahan Zailani Abdullah semakin sirna karena sastra lokal perlahan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Keresahannya merupakan tanggung jawab moral atas kepeduliannya untuk Kalimantan Barat di bidang sastra.

Meskipun demikian, Zailani Abdullah tetap menjaga asa kepeduliannya terhadap lokalitas dalam membangun imajinasi-kreatif, baik melalui cerpen maupun puisi. Karya-karyanya tidak beranjak sama-sekali dari lokalitas Kalimantan Barat. Ibarat di sana ada hiruk pikuk DKI 1 tidak dipedulikan, justru keresahan Kalimantan Barat yang dipikulnya di dalam karung imajinasi kreatif. Orientasi lokal telah merasuki karya-karyanya selama ini.

Zailani Abdullah di kalangan seangkatannya sering disebut dengan istilah daerah minded atas karya-karyanya. Orientasi lokal telah menjadi jaminan latar kemunculan karya-karyanya, yang tentunya melalui proses kreativitas yang dijalaninya dari awal berkarya sehingga sampai sekarang ini. Bahkan, demi menjaga asa lokalitas jarang dibacanya karya-karya luar agar tidak mudah terpapar pengaruh atas karyanya meski mengidolakan kelugasan Emha Ainun Najib. 

Poses kreativitas itu tampaknya menjadi ideologi yang dipegang Zailani Abdullah dalam berkarya dengan tidak banyak membaca karya orang lain, terutama karya luar Kalimantan Barat. Secara implisit tentunya tidak bulat seperti itu, karya-karya apapun dan siapapun tetap dibaca olehnya, hanya saja filter diri tetap dipegangnya kuat-kuat. Dengan demikian, membaca tetap dilakukan karena bagian dari menulis. Hanya, teknik khas dimilikinya dalam membaca.

Pada gilirannya, teknik khas itu memberikan ruang bagi Zailani Abdullah dalam membangun imajinasi kreatif selama ini. Fenomena sekeliling yang ada mudah direspons dan ditransformasikannya ke dalam bait-bait puisi yang kini kerap dihasilkannya. Puisi-puisinya kerap diunggah ke medsos milik Mark Zuckerberg melalui akun pribadinya Zailani Abdullah Almuthahar. Tentunya, respons dan transformasi itu melalui proses, tidak ujug-ujug.

Kepedulian Zailani Abdullah terhadap lokalitas Kalimantan Barat (daerah minded) telah mengantarkannya ke dalam proses imajinasi kreatif. Dari situ justru terbangun kekhasan meneroka kosmos Kalimantan Barat yang diwujudkan ke dalam karya sastra. Sosok seangkatan Odhy’s ini tetap menjaga asa dalam berkarya yang patut diapresiasi di saat kendala yang mungkin dihadapinya. Asanya masih untuk sastra Kalimantan Barat demi menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. **

*) Peneliti Sastra Balai Bahasa Kalbar