Yuk, Nonton Film Lokal!

Yuk, Nonton Film Lokal!

  Senin, 28 March 2016 10:01

Berita Terkait

TANGGAL 30 Maret nanti diperingati sebagai Hari Film Nasional. Eits tapi, sebelum menjadi modern, industri film lokal mengalami pasang surut. Film pertama yang dibuat di Indonesia adalah Loetoeng Kasaroeng (1926), produksi N.V. Java Film milik Hindia Belanda. Film itu disutradarai dua WN Belanda, yakni G. Krugers dan L. Heuveldorp. Film tersebut masih berupa film bisu hitam putih.

Nah, film pertama yang diproduksi orang Indonesia asli adalah Darah dan Doa (1950). Film itu disutradarai Usmar Ismail di bawah naungan Perusahaan Film Nasional Indonesia. Kisahnya pun masih seputar peperangan di Indonesia yang dibumbui dengan romansa cinta. Pengambilan gambar pertama film hitam putih tersebut dilakukan pada 30 Maret. Karena itulah, tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional.

Pesatnya perkembangan film pada 1950-an mendorong munculnya Festival Film Indonesia (FFI) pada 1955. Lalu, pada 1970–1980, film Indonesia makin digemari. Misalnya, film Romi dan Juli, serta berbagai film komedi ala Warkop DKI. Sayangnya, pada 1990-an, perfilman Indonesia kembali meredup. Sebab, saat itu acara TV dan sinetron menjamur. ’’Industri film saat itu bisa dibilang vakum, bahkan mati suri karena nggak ada yang produksi,’’ ujar Gregorius Arya, dosen editing ISI Jogjakarta dan editor film Siti (2014).

Pada awal 2000-an, perfilman Indonesia kembali bangkit. Ditandai dengan munculnya film Ada Apa dengan Cinta? (2002) yang meraih banyak penghargaan di FFI 2004. Sayangnya, memasuki pertengahan 2000-an, kualitas film Indonesia kembali menurun. Banyak rumah produksi yang terkesan asal-asalan dalam membuat film. Misalnya, film horor yang menyelipkan banyak adegan hot di dalamnya. ’’Produsen film mulai melupakan film yang bagus dan berbobot,’’ kata Gregorius.

Untung saja, dengan banyaknya sekolah film dan sineas muda yang fresh, film Indonesia bangkit kembali. Salah satunya, film The Raid: Redemption (2011) yang menjadi gebrakan baru bagi film laga di Indonesia. Film itu pernah bertengger pada urutan ke-11 sebagai film yang paling banyak ditonton di bioskop Amerika Serikat.

Dengan pengambilan alur cerita serta latar belakang yang menarik, film Indonesia pun makin disukai. Misalnya, film Surat dari Praha (2016) yang kental dengan nuansa Kota Praha, Slovakia. Atau, film Siti (2014) yang berhasil meraih penghargaan dalam FFI 2015. Uniknya, film tersebut sengaja dibuat hitam putih untuk menggambarkan kehidupan Siti, sang tokoh utama yang nggak berwarna. Eits, sekuel film drama Indonesia paling legendaris juga dirilis April nanti. Apalagi kalau bukan Ada Apa dengan Cinta 2. Yuk, nonton film lokal! (grc/c14/adn)

Berita Terkait