Yang Terburuk Sudah Berakhir

Yang Terburuk Sudah Berakhir

  Rabu, 6 January 2016 08:19
Theodore Permadi

Turbulensi perekonomian global yang merontokkan harga-harga komoditas membuat perlambatan ekonomi Indonesia dalam empat tahun terakhir kian parah. Namun, tak perlu gundah dan gelisah. Pada 2016 ini, ekonomi diproyeksikan kembali bergairah.

Proyeksi itu muncul dari buah pemikiran dan analisis Theodore Permadi (TP) Rachmat, yang pernah menjadi salah satu chief executive officer (CEO) tersukses di Astra International. Dia kini memimpin Triputra Investindo Arya (Triputra Group), kerajaan bisnis di sektor manufaktur, pertambangan, agrobisnis, dealership motor, logistik, hingga karet olahan yang dirintisnya sejak 1998.

Sepanjang satu jam perbincangan di kantor Triputra Group yang berada di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta, pada 17 Desember lalu, sosok yang berkali-kali dinobatkan sebagai CEO terbaik di berbagai ajang penghargaan itu terus menyuarakan optimismenya meskipun ekonomi Indonesia didera pelemahan dalam beberapa tahun terakhir.
Rupanya, begawan bisnis kelahiran Majalengka, Jawa Barat, 15 Desember 1943, itu memang tak menyisakan satu lembar pun bagi pesimisme untuk menyusup dalam kamus hidupnya. ”The worst is already over (yang terburuk sudah berakhir, Red),” ujarnya dengan mantap saat mengomentari tren perlambatan ekonomi Indonesia.
Di awal perbincangan, pebisnis yang akrab disapa Teddy itu menguraikan refleksi singkat perekonomian global dan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Kisahnya dimulai pada 2008, ketika krisis subprime mortgage atau kredit berisiko tinggi di sektor properti Amerika Serikat (AS) menjalar cepat bagai kanker ganas yang merontokkan kedigdayaan ekonomi Negeri Paman Sam, lalu menular cepat melalui instrumen pasar finansial ke Eropa dan berbagai belahan dunia lain. ”Ketika itu ekonomi Indonesia sempat kena demam sedikit,” kata keponakan pendiri Grup Astra, William Soeryadjaya, tersebut.
Untung, meriang ekonomi Indonesia segera reda karena datangnya obat dari Tiongkok. Teddy menyebutkan, saat itu raksasa ekonomi Asia yang tengah bangkit tersebut tak ingin tertular krisis ekonomi global. Langkah strategis pun diambil pemerintah Tiongkok dengan menggenjot investasi besar-besaran agar bisa terus menyerap tenaga kerja. Karena itu, Tiongkok pun menjelma ”naga lapar” yang menyedot berbagai komoditas, baik pertambangan maupun perkebunan. ”Itulah pemicu commodity boom (booming komoditas, Red) yang menjadi motor ekonomi Indonesia sejak 2009,” jelasnya.
Lonjakan harga batu bara dan komoditas tambang lain serta CPO (kelapa sawit) dan komoditas perkebunan lainnya membuat sektor tambang serta perkebunan tumbuh pesat. Bergairahnya sektor pertambangan dan perkebunan memicu efek pengali di sektor otomotif, perbankan, hingga sektor konsumsi karena naiknya daya beli. ”Commodity boom ini adalah hokinya Indonesia,” ucap pebisnis yang pada 2015 masuk daftar 20 orang terkaya di Indonesia versi Forbes dengan pundi-pundi USD 1,35 miliar (sekitar Rp 18 triliun) tersebut.
Sayang, papar Teddy, booming komoditas itu membuat Indonesia terlena. Kita tak kunjung memperbaiki struktur fundamental ekonomi. Minimnya infrastruktur serta rumitnya regulasi dan birokrasi membuat pelaku usaha harus menanggung ekonomi biaya tinggi. Akibatnya, produk Indonesia kurang memiliki daya saing saat produk asing menyerbu. Imbasnya, defisit neraca perdagangan kian menganga. ”Mestinya, penerimaan pajak dari booming komoditas ketika itu dipakai untuk membangun infrastruktur. Tapi sayangnya, uang ratusan triliun justru habis untuk subsidi BBM (bahan bakar minyak, Red) tiap tahun,” ujarnya.
Sikap terlena itu harus dibayar mahal ketika pada 2013 pemerintah Tiongkok mengerem laju pertumbuhan ekonomi karena merasa ekonominya sudah overheat alias terlalu panas. Strategi pertumbuhan berbasis infrastruktur dan industri diubah menjadi berbasis konsumsi serta jasa. Dengan demikian, permintaan komoditas dari Tiongkok merosot tajam. Buntutnya, harga komoditas seperti batu bara, tembaga, timah, CPO, karet, dan lainnya anjlok. ”Akibatnya, ekonomi Indonesia terus melemah,” kata pengusaha yang bersama saudara sepupunya, Edwin Soeryadjaya, membesarkan raksasa batu bara Adaro Energy itu.
Pertumbuhan ekonomi yang mampu melesat hingga 6,5 persen pada 2011 turun menjadi 6,23 persen pada 2012. Lalu melambat lagi pada 2013 ke level 5,78 persen; melemah lagi pada 2014 dengan menjadi 5,02 persen; dan tahun ini kembali melambat sehingga diproyeksikan hanya sanggup menyentuh angka 4,7 persen.
Namun, Teddy melihat, lorong gelap perlambatan ekonomi itu telah berakhir. Pertumbuhan ekonomi 2015 di kisaran 4,7 persen dinilainya bakal menjadi titik terendah sekaligus titik balik bagi ekonomi Indonesia untuk rebound mulai 2016. ”Pemerintah mematok target (pertumbuhan ekonomi, Red) 5,3 persen pada 2016. Saya lebih optimistis, 5,5 persen,” ujarnya.
Apa yang melandasi optimismenya? Teddy menyebutkan, salah satu yang utama adalah reformasi struktural yang dijalankan pemerintahan Jokowi-JK. Pertama, kebijakan memangkas subsidi BBM untuk dialihkan ke sektor infrastruktur. Kedua, perbaikan iklim investasi melalui berbagai paket kebijakan ekonomi, terutama deregulasi berbagai aturan yang tak ramah kepada dunia usaha. Ketiga, penetapan Peraturan Pemerintah (PP) Pengupahan yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha. ”Keberanian politik Jokowi-JK untuk mengambil kebijakan yang tidak popular, seperti menaikkan harga BBM, layak diapresiasi,” katanya.
Keberanian politik seperti itu, menurut Teddy, sangat dibutuhkan. Dia mengibaratkan, struktur ekonomi Indonesia yang tengah sakit butuh obat yang harus ditelan meski pahit agar ke depan lebih sehat. Seperti pepatah berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian. ”Good times creates bad policy. Bad times creates good policy (Kondisi baik biasanya menciptakan kebijakan buruk. Kondisi buruk biasanya menciptakan kebijakan baik, Red),” ucap dia soal kebijakan subsidi BBM kala booming komoditas dan perlambatan ekonomi saat ini.
Menurut Teddy, yang dilakukan pemerintah sepanjang 2015 sudah membuat ekonomi Indonesia kembali ke jalur yang benar. Indikator makroekonomi juga dinilainya kian kukuh. Misalnya, nilai tukar rupiah tak lagi bergejolak, bahkan cenderung menguat, meskipun bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga Desember lalu. Juga, laju inflasi terkendali di kisaran 3,3 persen. Demikian pula postur anggaran APBN 2016 yang dirasa lebih punya daya dorong terhadap perekonomian. ”Itu semua menjadi fondasi kuat bagi ekonomi Indonesia untuk melompat lebih tinggi tahun depan,” tutur pebisnis yang berkarir di Astra sejak 1968 itu.
Masa depan ekonomi Indonesia pun dia proyeksikan kian cerah, meski kompetisi makin ketat pada era perdagangan bebas. Bahkan, menurut dia, berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) serta rencana bergabung ke pakta perdagangan bebas Trans-Pacific Partnership (TPP) akan memperkuat otot-otot perekonomian Indonesia. Sebab, mau tidak mau, pemerintah dan pelaku usaha akan bergerak untuk meningkatkan daya saing agar tak tertinggal.
”Ibaratnya, kalau kita ikut lomba PON (Pekan Olahraga Nasional, Red), paling hanya latihan dua jam sehari. Kalau ikut SEA Games, harus latihan enam jam sehari. Kalau ikut Olimpiade, mungkin harus latihan 12 jam sehari. Memang terasa berat, tapi akan membuat ekonomi kita lebih kuat,” urainya.
TPP adalah pakta perdagangan yang digagas AS. Pada Oktober lalu, 12 negara telah menandatangani kemitraan dalam skema TPP. Yakni, AS, Jepang, Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Cile, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam. Melalui TPP, negara-negara anggota akan mendapat kemudahan dan potongan tarif bea masuk. Dengan begitu, komitmen untuk bergabung dengan TPP bisa menjadi nilai positif bagi Indonesia saat harus bersaing menarik investor yang ingin menjadikan Vietnam sebagai basis produksi.
Menurut Teddy, tidak sepatutnya pelaku usaha disergap kepanikan karena rencana bergabung dengan TPP. Sebab, dengan Tiongkok yang produknya mirip saja, Indonesia berani menandatangani perjanjian perdagangan bebas. Padahal, menurut dia, perdagangan bebas dengan AS tidak akan memberikan ancaman berarti seperti Tiongkok. ”Sebab, produk AS itu spesifik, hanya sedikit yang bisa masuk pasar Indonesia. Beda dengan produk Tiongkok yang bisa membanjiri pasar kita,” ujarnya.
Ada benarnya pernyataan Teddy. Sebab, selama ini Indonesia selalu tekor atau menderita defisit saat berdagang dengan Tiongkok. Sebaliknya, Indonesia bisa untung atau mencatat surplus saat berdagang dengan AS. ”Jadi, aneh kalau kita takut dengan rencana pemerintah bergabung ke TPP,” katanya.
Karena itu, optimisme terus membubung di benak Teddy. Saat ditanya sektor apa yang bakal menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun-tahun mendatang, dia menyebut sektor infrastruktur, consumer goods, serta finance. Sektor lain juga dinilainya bakal cemerlang, kecuali komoditas pertambangan dan perkebunan yang menurut dia masih butuh waktu untuk pulih. ”Saya tidak pernah hilang keyakinan. Kalau dikelola dengan baik, Indonesia akan jadi bangsa yang besar,” ucap dia. (owi/c11/sof)