Yang Dibutuhkan Petani saat Ini adalah Pelatihan

Yang Dibutuhkan Petani saat Ini adalah Pelatihan

  Minggu, 16 Oktober 2016 10:04
SAWIT RAKYAT: Berbagai kendala yang dialami para petani perkebunan kelapa sawit di Kalbar lebih dikarenakan minimnya pelatihan buat mereka. WWW.MONGABAY.CO.ID

Berita Terkait

Melirik Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat di Kalbar

Rendahnya produktivitas kelapa sawit rakyat di Kalimantan Barat, salah satunya diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknologi budidaya tanaman kepala sawit. 

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

WAKIL Ketua Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) Kalbar, Ilham Sanusi, menuturkan, para petani rakyat saat ini begitu membutuhkan pelatihan, agar pengetahuan dan keterampilan mereka meningkat. “Dan diharapkan produktivitasnya juga meningkat,” katanya, Kamis (13/10) siang di Pontianak.

Umumnya, dia mengungkapkan, kondisi perkebunan rakyat lebih dikarenakan kurang terpelihara. Kondisi tersebut, menurut dia, dikarenakan para petani ini tidak mendapatkan dukungan memadai dari segi fasilitas, infrastruktur, dan institusi pendukung. Tak mengherankan, tidak hanya produktivitas dan kualitas produknya yang rendah, tetapi juga memberikan pendapatan yang rendag terhadap pemiliknya. Terlebih lagi mereka berada didalam tekanan pasar yang dikuasai para tengkulak.

Dari data yang didapat dari GPPI Kalbar, secara rata-rata petani sawit eakyat memperoleh pendapatan sekitar Rp1 – 2 juta perhektare setiap bulannya. Dan, petani plasma dapat mencapai Rp2 – 3 juta perhektare setiap bulannya. Apabila dibandingkan dengan pertanian padi yang lebih intensif modal dan tenaga kerjanya, petani sawit memang sedikit lebih rendah.

Akan tetapi, karena luas lahan usaha tani padi secara rata-rata jauh lebih kecil. Luas lahan petani padi di Pulau Jawa secara rata-rata hanya 0.25 hektare. “Maka, secara umum petani kebun lebih tinggi pendapatannya ketimbang petani padi,” katanya.

Dalam beberapa studi yang pernah dilakukan, pendapatan keluarga pekebun kelapa sawit dalam pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) dengan luas usaha 2 hektare mencapai Rp3 – 4 juta perbulan. Sedangkan usaha karet dengan luas kebun yang sama bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp1,5 – 2 juta perbulan. Sementara petani padi yang luas usahanya 0,25 hektare hanya memperoleh Rp1 juta perbulanya.

Ilham melanjutkan, pemberdayaan perkebunan sawit rakyat tidak hanya berdampak positif terhadap kontinuitas industri sawit nasional, tetapi juga terhadap kesejahteraan petani sawit. Dengan luas total perkebunan sawit rakyat yang besar dan dapat memberikan penghasilan yang lebih tinggi dari pada petani padi. Peningkatan usaha kebun mereka akan berdampak pada pengembangan industri sawit, peningkatan pendapatan petani, mengurangi kemiskinan dan secara tidak langsung memperbaiki pemerataan pendapatan.

“Pemberdayaan perkebunan sawit rakyat mendesak untuk segera dilakukan, salah satu caranya adalah berupa pelatihan kepada petani sawit dalam hal pengetahuan dan keterampilan teknologi budidaya tanaman sawit dan manajemennya,” cetusnya.

Pemerintah melalui Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit merespod dengan memberikan pelatihan budidaya tanaman kelapa sawit tentang replanting dan produksi kepada para petani kepala sawit guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam melakukan budidaya tanaman kelapa sawit. Pada gilirannya untuk meningkatkan pendapatan dan taraf ekonomi petani kelapa sawit. 

Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Tanjung Pura dan GPPI secara bersama-sama memberikan pelatihan di daerah – daerah yang memiliki potensi sawit tinggi. “Dan tentu pelatihan ini dilakukan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kualitas TBS perkebvunan sawit rakyat di Indonesia, dan khususnya di Kalbar,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait