WHW Sembunyikan TKA Saat Demo

WHW Sembunyikan TKA Saat Demo

  Senin, 9 January 2017 09:30
ORASI : Orasi di pintu masuk PT WHW. Perwakilan manajemen PT WHW menerima perwakilan didampingi Kapolres dan Dandim 1203 Ketapang. AHMAD SOFI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

KETAPANG - Sekitar 100 orang mendatangi PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW AR) di Dusun Sungai Tengar Desa Mekar Utama Kecamatan Kendawangan, Sabtu (7/1) siang. Massa yang menamakan diri dari Front Perjuangan Rakyat Ketapang (FPRK), menuntut perusahaan tidak mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (TKA) ilegal.

Aksi tersebut dimulai pukul 13.00 dan selesai pada pulul 14.30 WIB. Ada 13 tuntutan yang disampaikan kepada pihak perusahaan. Usai menyampaikan orasi dan berkas tuntutan, massa membubarkan diri. Jalannya aksi juga mendapat pengawalan ketat dari ratusan personil Polri dan TNI. Dibantu Satpol PP dan satpam perusahaan.

Selama aksi berlangsung, ada sedikit kejanggalan. Tak satupun TKA terlihat di sekitar perusahaan. Hal ini bertolak belakang dengan hari-hari biasanya. Jika pada hari biasanya, ada puluhan TKA yang berada di sekitar perusahaan. Bahkan, mereka juga sering terlihat di berjalan kaki di jalan raya dan berbelanja di warung milik warga sekitar.

Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan para pendemo. Kemana ratusan pekerja asing yang bekerja di perusahaan tersebut.

"Kemana mereka? Apakah sudah dipulangkan? Biasanya mereka seliweran di jalan-jalan. Tapi hari ini tak ada satupun yang terlihat," tanya salah satu pendemo, Kasman, kemarin (7/1).

Ia menduga jika para orang asing tersebut disembunyikan atau dikeluarkan dari lokasi perusahaan. Pasalnya, ada beberapa bus milik perushaan yang kedapatan sedang mengangkut puluhan orang asing keluar dari perusahaan melalui penyebrangan di Kalampai.

"Kalau mereka memiliki izin, kenapa dibawa lewat penyebrangan? Kan ada akses jalan darat menuju Kota Ketapang. Apakah mereka ilegal? Kenapa juga baru kali ini lewat penyebrangan?" jelasnya.

Bis-bis pengangkut orang asing tersebut diketahui menyeberang di Kelampai pada Jumat (6/1) sekitar pukul 14.00 WIB. Sebagian masyarakat yang mengetahui hal tersebut langsung mengabadikan menggunakan handphonnya. Sebagian juga membagikannya di media sosial.

Menanggapi pertanyaan masyarakat tersebut, Public Relations Executive PT WHR, Hen Roliya Helana, mengatakan, orang asing yang kedapatan sedang keluar dari perusahaan tersebut adalah legal. Bahkan, Roliya mengaku jika orang asing tersebut bukan pekerja, melainkan hanya berkunjung ke perusahaan.

"Mereka bukan tertangkap. Mereka hanya dikroscek dokumennya. Dan mereka lengkap dokumen semuanya. Mereka memiliki visa kunjungan dalam rangka mempelajari biji bauksit asal alumina kami," kilahnya.

13 Tuntutan Sebanyak 13 tuntutan disampaikan oleh Front Perjuangan Rakyat Ketapang (FPRK) kepada manajemen PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW-AR). Dari 13 tuntutan tersebut, di antaranya menolak TKA ilegal yang selama ini dianggap banyak terdapat di pabrik pemurnian bauksit tersebut. "Kami menolak keras TKA ilegal yang bekerja di PT WHW," tegas Ketua FPRK, Isa Anshari, saat menyampaikan orasinya, kemarin.

Selain itu, FPRK juga meminta agar PT WHW mempekejakan masyarakat pribumi yang mempunyai keahlian tanpa ada perbedaan. Memberikan gaji yang sama dengan TKA. Menyalurkan CSR kepada masyarakat. Menghargai adat istiadat dan memberikan waktu untuk beribadah tanpa harus sembunyi-sembunyi.

Tidak kalah pentingnya, TKA yang bekerja di PT WHW diminta dengan tegas untuk tidak menyebarkan paham komunis. Serta mendesak kepada Imigrasi dan Bea Cukai untuk membuat pos pengawasan terpadu di dalam pelabuhan WHW, dan mengawasi orang asing di Badara Rahadi Osman Ketapang. "Pihak kepolisian juga diminta turut mengawasi kegiatan bongkar muat di pelabuhan WHW demi menjaga keamanan dan ketertiban," pintanya.

Public Relations Executive PT WHR, Hen Roliya Helana, mengatakan, pihaknya merespon baik 13 tuntutan tersebut. "Semua tuntutan itu akan diakomodir. Bahkan sebagian sudah terealisir seperti, CSR. Termasuk juga kerjasama dengan Pemda sudah dilakukan. Kami menyambut baik," katanya kepada wartawan.

Ia menjelaskan, saat ini perusahaan terus menerus melakukan peningkatan dan perbaikan pelayanan. Perusahaan juga baru saja menyelesaikan pembangunan konstruksi pabrik. "Sekarang kita mulai menata manajemen sebuah pabrik. Persyaratan untuk keamanan dan keselamatan kerja sangat tinggi. Karena ini kimia," jelasnya.

Terkait jumlah karyawan, Roliya, merincikan ada 2.436 orang. Termasuk di antaranya 258 Tenaga Kerja Asing (TKA). "TKA ini semuanya tenaga ahli. Karena kita sedang alih teknologi. Semua TKA yang masuk melalui imigrasi. Tidak ada yang ilegal. Mereka semua memiliki visa kerja," ungkapnya.

Terkait jam istirahat, perusahaan memberikan waktu selama dua jam dari pukul 11.00-01.00 WIB. Pihak perusahaan juga berdalih melarang karyawannya melaksanakan ibadah.

Sementara untuk gaji, PT WHW mengaku memberikan gaji di atas rata-rata Upah Minimum Kabupaten (UMK). "Untuk gaji, kita menggunakan UMK. Upah yang kita bayarkan di atas UMK. Sehingga secara pengupahan, tidak ada yang kita langgar aturannya. Kalau perbedaan, tergantung kepada kemampuan dan skil masing-masing dari personalnya. Kita punya struktur penggajian. Tapi jelas gaji yang kami berikan di atas rata-rata UMK," paparnya.

Kapolres Ketapang, AKBP Sunario, mengatakan, jalannya aksi berjalan lancar. Mulai dari datang hingga para pendemo membubarkan diri. "Aksi ini sudah ada koordinasi dengan pihak pengamanan dan perusahaan. Semuanya berjalan aman dan lancar," katanya.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terpancing dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Apa yang dituntut oleh pendemo telah disampaikan dan diterima oleh perusahaan. "Perusahaan akan melakukan perbaikan di lapangan. Ini hanya miss communication saja. Makanya tadi dari pihak perusahaan meminta kepada masyarakat agar berkoordinasi tidak perlu melakukan demo seperti ini lagi," pungkasnya. (afi) 

Berita Terkait