WAYANG SEMAKIN DISAYANG

WAYANG SEMAKIN DISAYANG

  Minggu, 31 July 2016 10:41

Berita Terkait

Mungkin sebagian besar masyarakat pernah menonton pagelaran wayang kulit. Tapi tidak semua masyarakat tahu dimana wayang kulit ini diproduksi oleh pengrajinnya. 

Oleh: NUGROHO, Wonogiri 

DESA Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah ini salah satunya. Sejak tahun 2011, desa ini berubah menjadi Desa Wisata Kampung Wayang.

Di desa inilah sejumlah dalang kondang terlahir. Tak hanya itu, di desa ini juga banyak dalang terkenal di kota Solo seperti Mantep dan Warseno Slank memproduksi tokoh wayangnya melalui tangan-tangan teampil pengrajinnya. 

Penasaran dengan Desa Kampung Wayang ini? Pontianak Post berkesempatan untuk mengunjungi desa yang biasa disebut Wayang Village itu.

Perjalanan untuk ke Desa Kampung Wayang ini kurang lebih memakan waktu sekitar 2 jam dari kota Sukoharjo, Jawa Tengah atau sekitar 3 jam dari Yogyakarta. Lokasi desa itu terletak di wilayah perbukitan dengan hamparan sawah hijau. Tak jauh dari desa terdapat air terjun yang oleh masyarakat setempat dinamai Banyu Nibo. 

Kedatangan saya disambut dengan ramah oleh salah satu pengrajin di sana. Saya dipersilahkan untuk melihat-lihat galeri kecil yang didirikan untuk mengakomodir sebagian karya dari pengerajin wayang di desa itu. 

Namun sayang, saat saya berkunjung ke sana, masih dalam suasana lebaran, sehingga  tak banyak pengerajin yang sedang melakukan pekerjaannya. 

Saya bertemu dengan Retno Lawiyani, sekertaris Pokdarwis Tetuka. Yaitu kelompok sadar wisata di desa itu. 

Perempuan berkerudung itu kemudian mulai bercerita tentang asal usul desa wisata ini. Menurut Retno, latar belakang berdirinya Wayang Village ini bermula ketika UNESCO menetapkan wayang sebagai salah satu mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni tutur. 

Menurutnya, Wayang Village ini bisa berdiri atas dasar kecintaan sekelompok pemuda yang menganggap wayang kulit sebagai budaya Indonesia yang harus dilestarikan. "Kerana wayang kulit mempunyai nilai sejarah tersendiri dibidang seni dan kebudayaan Indonesia," katanya.

Menurut sejarah, sejak abad pertama wayang kulit telah digunakan sebagai sarana penyebaran agama di Indonesia, dan kini kesenian wayang kulit tetap digemari meskipun tidak secara langsung. 

Namun dalam setiap karakter dan cerita yang disutradari para dalang pasti mengandung cerita penuh makna dan filosofis yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari. Wayang Kulit sendiri kini seolah-olah sudah mendarah daging  di desa itu. 

Tidak hanya mendengar cerita, saya pun melihat langsung proses pemahatan wayang kulit oleh pengerajin di sana. Dengan penuh ketelitian, para pengerajin ini memahat kulit kerbau yang sudah  dibentuk. Mengikuti alur sesuai karakter tokoh wayang. 

"Yang paling sulit membuat gunungan. Selain rumit, gunungan juga harus detail. Karena gunungan merupakan gambaran alam semesta yang ada di dunia. Tidak semua pengrajin bisa membuatnya," kata Joko, seorang pengerajin wayang di desa itu.  

Menariknya lagi, memahat wayang kulit sudah diajarkan kepada anak-anak usia dini di desa itu. Bahkan kerajinan membuat wayang kulit sudah masuk dalam muatan lokal di sekolah tingkat SD. 

Desa ini juga menyediakan showroom khusus (galeri) yang menjual berbagai macam wayang dari kulit asli yang harganya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per tokoh wayang. Semakin terkenal tokoh wayang tersebut semakin mahal juga harganya. 

Selain wayang, desa Kepuhsari juga memberikan beberapa paket wisata mulai dari 1 hingga 3 hari. Bahkan kita juga bisa menyaksikan show performance, ikut dalam kegiatan di kehidupan kampung tersebut dan beberapa workshop mulai dari pembuatan wayang dan gamelan.

Semua paket-paket tersebut sudah di atur oleh pihak pengelola dan perangkat Desa Kepuhsari, sehingga jika ada wisatawan yang mau menginap sudah dapat beberapa fasilitas. (*)

Berita Terkait