Wawasan Kebangsaan: Mewaspadi Ancaman Terhadap Pancasila

Wawasan Kebangsaan: Mewaspadi Ancaman Terhadap Pancasila

  Selasa, 16 Agustus 2016 12:54   3,433

Oleh : Prof. Dr. H. Maswardi M. Amin, M.Pd

MEMAHAMI WAWASAN KEBANGSAAN mencakup pemahaman tentang Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yaitu : Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, pada kesempatan ini spesial disajikan tentang Pancasila yaitu sama-sama kita semua komponen bangsa; kepemimpinan nasional, elite politik, tokoh-tokoh masyarakat, tokohtokoh agama, tokoh-tokoh lintas budaya, tokoh-tokoh pemuda, tokoh-tokoh mahasiswa, tokoh-tokoh perempuan, tokoh-tokoh LSM/NGO, dan insan pers untuk mewaspadai ancaman terhadap Pancasila.

Pancasila yang sudah digagas oleh founding fathers oleh tiga orang tokoh bangsa Indonesia yaitu Soekarno, Muhammad Yamin dan Soepomo. Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, Pandangan Hidup, Jiwa dan Kepribadian, Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia, Sumber dari Segala Sumber Hukum, Moral Pembangunan, dan Tujuan Serta Citacita Bangsa Indonesia. Rumusan Pancasila yang sah yaitu yang digagas oleh founding fathers Ir. Soekarno yang terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sejak kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Pancasila mengalami pasang surut ancaman. Namun, karena Pancasila mengandung nilai-nilai moral yang luhur yang diroh-i (dijiwai) oleh nilai-nilai luhur agama, maka sampai sekarang ini tetap up to date berisi nilai-nilai yang universal dan foundamental :

1. Ancaman pemberontakan yang pernah terjadi di Republik Indonesia tercinta ini yaitu:

1) Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1946 dan 1948. Tahun 1946 dikenal dengan pemberontakan tiga daerah Brebes, Tegal dan Jawa Tengah), pada tahun 1948 dikenal dengan pemberontakan PKI Muso di Madiun (Jawa Timur). Pemberontakan PKI ini berlatar belakang ideologi politik Marxisme, Leninisme yaitu ideologi komunis yang menjadi dasar perjuangan PKI, sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila. Pemberontakan PKI Madiun dipimpin oleh Muso dan Amir Syarifuddin.

2) Pemberontakan PKI di Jawa Barat dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo yang berhaluan ideologi ekslusif keagamaan. Ia memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) dan mengorganisasi gerakan DI/TII. Pemberontakan tersebut merajalela di pedalaman Jawa Barat dengan teror dan mencekam penduduk menjadi takut. Aksi balas dendam dengan tindakan yang kejam dan tidak berprikemanusiaan. Pemberontakan DI/TII mendapat dukungan dari daerah Sulawesi Selatan, Aceh, dan Kalimantan Selatan yang berideologi ekslusif keagamaan.

3) Di Sulawesi Selatan gerakan DI/TII dipimpin oleh Abdul Qahhar Mudzakkar. Pada tanggal 17 Agustus 1951, ia menyatakan dirinya dan pasukannya sebagai bagian dari gerakan DI/TII yang dipimpin oleh Kartosuwiryo di Jawa Barat.

4) Di Aceh, gerakan DI/TII bertujuan mendirikan NII dipimpin oleh Mohammad Daud Beureuh sebagai tokoh agama Islam. Pada tanggal 7 Agustus 1953. Muhammad Daud Beureuh menyatakan Aceh sebagai bagian dari NII dan memimpin gerakan DI/TII di Aceh.

5) Di Kalimantan Selatan, gerakan DI/TII dipimpin oleh Ibnu Hajar. Seperti juga dengan pimpinan DI/TII lainnya ia juga kecewa dengan keadaan sosial politik yang diterimanya pada tahun 1953, Ibnu Hajar menyatakan Kalimantan Selatan sebagai bagian dari gerakan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat. Mereka semua menghendaki Islam sebagai Dasar Negara dan Hukum Islam sebagai Undang-undang Dasar yang berlaku.

6) Pada akhir tahun 1956 dan 1957 terjadi lagi krisis kenegaraan yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara yaitu lahirnya gerakan PRRI/Permesta. Awalnya karena tidak ada kepuasan beberapa pemimpin komando di luar Jawa seperti Sumatera dan Sulawesi. Kemudian muncul pemberontakan dari gerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) ini bergabung dengan gerakan Pembangunan Rakyat Semesta (Permesta), mereka merekrut tokoh-tokoh dari Partai Masyumi dan PSI.

7) Pada tahun 1962 pemberontakan-pemberontakan tersebut di atas seperti DI/TII, PRRI/Permesta merapat untuk menyusun kekuatan, menyatukan kekuatan dan muncullah nama gerakan baru yaitu RPI (Republik Persatuan Indonesia). Karena masalah ideologi masing-masing yang berbeda maka terjadi perpecahan di antara gerakan ini.

Semua pemberontakan tersebut berhasil ditumpas setelah Abdul Qahhar Mudzakar pimpinan DI/TII di Sulawesi Selatan mati ditembak, sedangkan Katosuwiryo ditangkap pada tahun 1962. Pemberontakan-pemberontakan tersebut belum berhenti. Pada tahun 1965 muncul lagi pemberontakan PKI yang dipimpin oleh Aidit yang berideologi komunis Maxisme-Leninisme. Pemberontakan ini dikenal dengan nama Gerakan Tiga Puluh September yang didalangi oleh PKI sehingga lebih lazim dikenal dengan G. 30 S/PKI.

Pemberontakan ini berakibat terbunuhnya secara kejam dan sadis tujuh perwira tinggi ABRI pimpinan Angkatan Darat di Jakarta dan dua orang Perwira Menengah yang dibunuh di Yogyakarta dan ratusan ribu rakyat menjadi korban. Bahaya dari gerakan 30 September/PKI ini yaitu ingin merubah Dasar Negara Pancasila dan ingin menguasai pemerintah. Pemberontakan gerakan 30 September/PKI berhasil ditumpas oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan kekuatan pendukung Dasar Negara Pancasila yang bergabung dalam Front Pancasila dan masyarakat bangsa Indonesia didukung pula oleh para pelajar yang bergabung dalam KAPPI dan mahasiswa yang bergabung dalam KAMI. (BP 7 Pusat, 1996)

2. Ancaman terhadap Pancasila melalui cara-cara institusional, antara lain :

1) Melalui pendekatan ideologi pada saat ini memanfaatkan kebebasan dan keterbukaan bagi partai-partai politik untuk menentukan asasnya telah banyak dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai asas selain Pancasila, seperti keagamaan, asas Pancasila dengan penekanan religiusnya bahkan ada asas yang bersifat kekiri-kirian seperti demokrasi kerakyatan secara terbuka mereka telah mewadahi dan menggalang kekuatan dengan bekas tahanan Gerakan 30 September/PKI yang dibebaskan. Keadaan ini kalau dibiarkan akan membentuk kekuatan yang mampu meniadakan Pancasila.

2) Kebebasan dan keterbukaan, menimbulkan keberanian partai tertentu untuk mengatakan bahwa ideologi keagamaan sebagai ideologinya yang tidak mengikuti Pancasila sebagai ideologi Nasional.

3) Melalui pendekatan politik dapat dikemukakan antara lain “politik adalah berarti kekuasaan, dengan kekuasaan bisa menentukan ideologi yang harus dianut”. Biasanya dilakukan melalui pemberontakan yang dapat melemahkan, mengubah, mengganti pemerintahan yang syah dan selanjutnya mengembangkan ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila.

4) Melalui pendekatan ekonomi di era globalisasi dan pasar bebas akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia telah berkembang menjadi krisis kepercayaan di semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Contoh-contoh negara-negara di Eropa Timur dan Uni Sovyet yang terpaksa harus merubah sistem ideologinya karena tekanan krisis ekonomi.

5) Melalui pendekatan sosial budaya dan krisis multi dimensi. Bangsa yang pluralistik mudah sekali dikembangkan menjadi sentimen-sentimen kesukuan, keagamaan, adat istiadat, maupun kedaerahan. Lemahnya kemampuan negara untuk memberikan rasa keadilan, kesejahteraan maupun keamanan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Sentimen sosial itu banyak menimbulkan tindak kekerasan yang mengarah pada disintegrasi bangsa.

6) Melalui pendekatan pertahanan dan keamanan dapat dilakukan dengan cara menimbulkan huru-hara, tindakan kekerasan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sehingga menempatkan unsur-unsur keamanan negara menghadapi kesulitan dalam menanganinya. Dalam kondisi seperti ini bisa saja terjadi pengambil alihan kekuasaan melalui pemberontakan maupun kudeta militer yang diikuti dengan penggantian Pancasila sebagai Dasar Negara maupun ideologi nasional. Pengambil alihan kekuatan secara militer bisa dilakukan secara sendirisendiri ataupun kerjasama dengan negara asing. Berbagai tekanan, cemoohan, hujatan pada TNI dan Polri bisa saja mempersulit tugas-tugas TNI dan Polri sebagai satu komponen utama pengawasan dan pengamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berlandaskan Pancasila. (Pokja, Adhoc, Lemhannas, 2002).

3. Ancaman terhadap Pancasila secara konstitusional, antara lain :

1) Mengganti Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang dasar 1945 dengan ideologi lain seperti ideologi komunis dan ideologi berpahamkan keagamaan;

2) Sengaja menciptakan berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak memperhatikan keterkaitannya dengan nilai dasar Pancasila;

3) Nilai-nilai Pancasila tidak diaktualisasikan ke dalam norma moral, norma hukum maupun norma pembangunan bangsa;

4) Memperjuangkan aspirasi, ciri atau asas serta jaringan serta program-program yang bertentangan dengan Pancasila atau mengaburkan Pancasila dengan norma lainnya;

5) Masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia ke dalam peraturan perundang-undangan;

6) Pengendoran nilai-nilai gotong-royong, kekeluargaan, tenggang rasa, norma susila, kesopanan dan adat istiadat bangsa dalam menyusun peraturan perundang-undangan dan pelaksanaannya;

7) Mengemas substansi seolah-olah menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi dan keterbukaan tetapi bertentang dengan Pancasila;

8) Pancasila dimanipulasi, diritualkan dan ditafsirkan berbeda dengan nilai-nilai hakiki melalui peraturan perundang-undangan untuk kepentingan sesaat;

4. Ancaman terhadap ideologi Pancasila melalui perkembangan lingkungan strategi baik internasional maupun nasional :

1) Runtuhnya kekuatan komunisme di Eropa Timur yaitu di Uni Sovyet dengan bangsa Rusianya melahirkan pemerintahan yang lebih terbuka terutama dalam bidang ekonomi global. Pertentangan di bidang ideologi bergeser menjadi perampasan di bidang ekonomi.

2) Negara-negara komunis di Eropa Timur mengalami krisis ideologinya sehingga pecah menjadi beberapa negara seperti Hungaria, Polandia, Rumania dan Bulgaria dan

Cekoslowakia yang pecah lagi menjadi negara Ceko dan Slowakia yang memastikan diri menganut sistem pemerintahan demokrasi.

3) Rumbuhnya Tembok Berlin, menyatukan Jerman Timur dan Jerman Barat menjadi negara Jerman.

4) Beberapa negara yang masih berpegang teguh pada ideologi komunis masih merupakan ancaman bagi negara Indonesia. Cina misalnya yang unggul dalam jumlah sumber daya manusia, unggul dalam penguasaan teknologi dan memiliki modal yang besar berusaha menguasai negara-negara ASEAN termasuk dunia dalam sistem perdagangan bebas yang menguntungkan mereka karena keunggulan. Demikian juga negara Vietnam dengan faham/ideologi komunisme tetap merupakan ancaman bagi bangsa dan negara Indonesia.

5) Runtuhnya Uni Sovyet membuat Amerika Serikat besar kepala, memastikan dirinya menjadi polisi dunia dengan kekuatan militer dan non militernya untuk mewujudkan kepentingan negaranya.

6) Strategi internasional yang dimainkan oleh Amerika Serikat yaitu dengan menjunjung tinggi demokrasi, hak asasi manusia (HAM) dan lingkungan hidup sebagai tema strategi kebijakan luar negerinya dapat memperbesar faham liberalisme-kapitalisme di Indonesia.

7) Perkembangan global dapat mempengaruhi cara kehidupan masyarakat seperti munculnya faham agama/pragmatisme dan nasionalisme sempit cenderung menggunakan kekerasan-kekerasan.

8) Kuatnya peranan Non-Government Organization (NGO) luar negeri dan dalam negeri (LSM) yang ikut masuk dalam kekuatan global mampu menekankan pemerintah dalam lingkup nasional maupun internasional.

5. Ancaman yang paling berbahaya dan ditakuti oleh negara-negara adalah ancaman dari terorisme yang tak kenal perikemanusiaan.

Beberapa negara ASEAN sepakat untuk memerangi terorisme seperti kesepakatan Indonesia, Malaysia dan Filipina. “Pertemuan Menteri Luar Negeri 10 negara ASEAN di Phuket, Thailand (Kamis, 21 Februari 2002) setelah terjadi serangan teroris tanggal 11 September 2001 di Amerika Serikat yang telah setuju terhadap kesepakatan tersebut (Alex Dinuth, Lemhannas, 2002). Tanda-tanda besar terorisme internasional tampak pada runtuhnya gedung WTC (World Trade Center) dan markas Pertahanan Pentagon di Washington DC oleh terorisme internasional berpengaruh luas terhadap sendi-sendi kehidupan negara di dunia termasuk Indonesia.

Keyakinan kita sebagai masyarakat bangsa Indonesia hendaklah seyakin-yakinnya mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945, karena sangat relevan dengan karakteristik bangsa Indonesia yang kental dengan gotong-royong, kemanusiaan, keberadaban, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Pancasila dalam masyarakat yang pluralistik seperti Indonesia sangat sesuai karena Pancasila mengandung nilai-nilai luhur sangat sakti mempersatukan bangsa. Mewaspadai ancaman terhadap ideologi Pancasila sekaligus bermakna mewaspadai ancaman terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Sila-sila Pancasila jangan sampai ‘dimatikan’ atau ‘dihilangkan’ oleh oknum anak bangsa yang tidak bertanggungjawab.

Sebagai komponen anak bangsa yang bertanggungjawab mengemban amanah founding fathers yang telah memproklamasikan Kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, sekaligus sebagai Indonesian genius yang menggagas lahirnya Pancasila.

Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, mari kita isi kemerdekaan bangsa ini dengan pembangunan disegala bidang secara merata di

seluruh wilayah NKRI.**