Wawancara dengan Kepala BNN Budi Waseso

Wawancara dengan Kepala BNN Budi Waseso

  Rabu, 9 December 2015 07:59
Komisaris Jenderal Budi Waseso

Berita Terkait

SEPAK terjang Komisaris Jenderal Budi Waseso belum habis. Kepala Badan Narkotika Nasional yang karib disapa Buwas itu terus menggencarkan perang terhadap narkoba. Berikut petikan wawancara wartawan Pontianak Post MOHAMMAD KUSDHARMADI dengan Buwas, di kantor BNN, Jakarta, Selasa (8/12).

Ada berapa jumlah pengguna narkoba di Indonesia?

Pada Juni 2015, pengguna narkoba di Indonesia tercatat sebanyak 4,5 juta jiwa. Hingga sekarang, Desember 2015, sudah 6 juta jiwa. Jadi, dalam kurun waktu kurang lebih empat bulan naik 1,5 juta jiwa.
Banyak penyebab peningkatan itu. Misalnya, dari sudut g    eografi, demografi dan lainnya. Pengguna terbesar di Asia sekaligus pangsa besar dan pabrikan narkoba juga ada di sini, Indonesia. Ini fakta dan tidak bisa ditangani dengan tenang karena ancamannya negara.

Informasinya ada 36 jenis narkoba baru. Bisa dijelaskan?
Iya, dari 36 jenis narkoba baru yang sudah punya konstruksi hukumnya atau bisa digolongkan narkoba sesuai Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Itu ada 18, yang lain atau selebihnya masih dalam proses.

Apa saja jenisnya?
Misalnya, antara lain itu ganja sintetis, tembakau gorilla, serta makanan dan permen.

Siapa yang diincar bandar-bandar besar narkoba sekarang ini?
Pengedar narkoba mengincar para generasi baru, seperti anak SD dan TK. Caranya,  mencampurkan narkoba ke minuman lalu dibuat ketergantungan bagi anak-anak. Ini harus dicegah.

Anda antirehabilitasi?  
Saya tidak antirehabilitasi. Undang-undang  memang menjamin merehabilitasi,  mengobati warga negaranya. Tapi, rehabilitasi tidak menjamin orang tak kembali menggunakan narkoba, tidak ketergantungan lagi.  Yang kemarin itu pokoknya rehab saja. Hasilnya bagaimana, kita tidak pernah evaluasi. Kan harus jelas output, outcomenya. Ini uang negara loh.
Jadi tidak ada pemantauan pascarehabilitasi? Tidak ada, lepas. Habis rehab, lepas. Di (tempat rehabilitasi) Lido itu, ada yang tiga kali bolak-balik direhabilitasi.

Apakah Anda setuju semua pengguna narkoba itu korban?
Saya bilang pengguna ini tidak ada unsur paksaan, lalu kenapa disebut jadi korban? Korban itu kalau dia dikorbankan, ada unsur-unsur pemaksaan. Saya misalnya, jika dipaksa makai narkoba, ditekan, saya lapor. Undang-undang yang ada itu seolah-olah begitu, pengguna, pecandu dianggap korban dan wajib direhabilitasi serta tidak dipidana. Semua akan pakai dong kalau begitu. Padahal dia menggunakan narkoba dengan kesadaran. Mulai dari belajar, nyoba-nyoba akhirnya kecanduan.  Saya sudah tanya pecandu dan mantan pecandu, dia itu dengan sadar memakai narkoba. Makanya saya bilang, dia merusak diri sendiri dengan kesadaran dia untuk menggunakan terus negara disuruh tanggungjawab, kan tidak masuk akal?

Lalu bagaimana mengatasinya?
Undang-undang itu harus diubah. Saya kalau di sini, BNN, saya perintahkan kalau pemakai tangkap dan tahan juga. Tegas ini. Di Malaysia, Singapura, pemakai itu dihukum mati, apalagi bandar narkoba. Ini (di Indonesia) masa pecandu, pengguna tidak boleh ditahan? Kalau ditangkap untuk pengembangan, ya ditahan. Untuk pengembangan dari mana dia beli. Jadi kalau pengguna ditangkap dianggap korban dan tidak boleh ditahan, susah. Nalar hukumnya darimana?

Dulu kabarnya ada "persaingan" antar sesama instansi atau lembaga yang memberantas narkoba?

Iya, dulu memang ada. Tapi sekarang tidak ada ego sektoral. Kita sama-sama melakukan penyelamat bangsa dari narkoba dengan caranya masing-masing. Ayo sama-sama kita gabungkan. Yang menindak di BNN juga anggota Polri, back up dari Polri, kenapa ribut?  Maka harus satu kesatuan dan saling  mendukung.  Kita pangsa pasar nomor satu di Asia.  Tidak hanya itu, tapi juga produsen. Ini yang ingin dihancurkan adalah generasi. Kalau saya bilang itu bisa lost generation. Kalau itu terjadi, negara dalam ancaman.

Konsep penjara berisi buaya itu bagaimana?
Sekarang begini untuk terpidana yang kena hukuman mati, bandar-bandar besar, sekarang kan masih bisa menggunakan jaringan segala macam (untuk menjual narkoba). Sekarang, kita isolasilah dia misalnya ini tempat mereka (penjara). Di sekelilingnya kita buatkan kolam yang dijaga buaya. Mereka ini terisolir, tidak bisa kontak dengan manusia. Karena selama ini kelemahannya kalau mereka bisa kontak dengan manusia disitu mereka bisa mendapatkan akses. Jadi, betul-betul diisolasi. Nah, di sekililingnya untuk penjaganya kita berikan kolam buatan yang isinya buaya. Jadi kalau mereka mau melarikan diri ya berhadapan dengan buaya.

Jadi tidak ada penjaga manusia di penjara itu?
Tidak ada penjaga manusia. (Penjaga) itu di luar area penjara itu. (Penjara) ini untuk bandar besar. Karena bandar besar ini menguasai jaringan.

Yakin ini bisa memberikan efek jera terhadap bandar?
Oh insyaallah pasti bisa. Orang kalau diisolasi tidak bisa berhubungan dengan manusia bisa jera. Itu untuk membuat kapok. (*)

 

Berita Terkait