Waspadai Vaksin Palsu Bayi , Polisi Curigai Beredar sejak Lima Tahun

Waspadai Vaksin Palsu Bayi , Polisi Curigai Beredar sejak Lima Tahun

  Kamis, 23 June 2016 09:30
Brigjen Agung Setya

Berita Terkait

JAKARTA – Pemalsuan produk bioteknologi kedokteran kian mengerikan. Kemarin (22/6) Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim mengungkap adanya enam jaringan pembuat vaksin palsu untuk bayi. Di antaranya, vaksin polio, campak, dan bacillus calmette-guerin (BCG). Dampak penggunaan vaksin palsu itu sedang dianalisis di laboratorium.

Direktur Dittipideksus (Dirtipideksus) Bareskrim Mabes Polri Brigjen Agung Setya mengatakan, pengungkapan kasus itu dimulai dari adanya indikasi pemalsuan vaksin di sejumlah lokasi di Jakarta. ”Kami kemudian telisik lebih dalam,” paparnya kemarin.

Berdasar hasil penyelidikan, ternyata ada enam jaringan yang memproduksi vaksin palsu tersebut. Enam jaringan itu adalah penjual vaksin di Pasar Kramat Jati, Jalan Manunggal Kalisari, Jatibening, Puri Bintaro Hijau, Jalan Serma Hasyim, dan Kemang Regency. ”Semua sedang didalami, apakah mereka terkait atau tidak,” jelasnya.

Vaksin palsu itu dibuat dengan mencampurkan berbagai bahan kimia. Di antaranya, antibiotik dan cairan infus. Dia menuturkan, pembuatan vaksin palsu dari enam jaringan tersebut hampir sama. ”Kami juga menemukan beberapa alat press yang digunakan untuk mencetak tempat vaksin,” paparnya.

Yang pasti, enam jaringan pemalsu vaksin bayi itu telah berproduksi lebih dari lima tahun. Dengan begitu, vaksin palsu tersebut sangat mungkin telah beredar luas. Bahkan, bisa jadi telah ada yang digunakan. ”Wilayah peredarannya di seluruh Indonesia,” terangnya.

Wilayah mana yang telah terdeteksi menggunakan vaksin palsu bayi itu? Dia menuturkan sudah menyebar di mana-mana. Tapi, yang sudah pasti terdeteksi berada di Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. ”Kami mengembangkan terus,” jelasnya.

Yang mengkhawatirkan, proses membedakan antara vaksin asli dan palsu itu cukup rumit. Sebab, lanjut dia, keduanya sangat mirip dan hanya bisa diketahui kepalsuannya dari tes laboratorium. ”Bahkan, saya khawatir tenaga medis seperti dokter dan perawat juga tidak bisa membedakannya. Yang bisa menggunakan vaksin itu hanya tenaga medis. Tentunya diharapkan tenaga medis bisa lebih waspada. Setidaknya jangan membeli vaksin yang harganya lebih murah dari pasaran,” jelasnya.

Lalu, bagaimana dampaknya pada bayi yang telah menggunakan vaksin palsu itu? Dia menuturkan, saat ini sampel vaksin palsu tersebut telah dimasukkan ke laboratorium. Tentunya akan dianalisis apa kandungan zatnya dan dampaknya pada tubuh bayi. ”Kami cek, beberapa hari ke depan bisa diketahui,” ujarnya.

Dia menegaskan, enam jaringan itu bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 25 juta dalam sepekan. Tentunya, kondisi tersebut dapat diartikan bahwa pemesan vaksin palsu yang murah itu memang banyak. ”Ya, orang tua dan tenaga medis sebaiknya berhati-hati,” jelasnya.

Rencana ke depan, lanjut dia, Bareskrim akan berupaya mengungkap penjualan vaksin palsu tersebut hingga ke pasar-pasar. Dia menjelaskan, pihaknya berupaya mencegah penggunaan vaksin palsu itu. ”Kami upayakan agar masyarakat tidak dirugikan dengan vaksin palsu ini. Walau sejauh ini belum ada laporan adanya korban dari vaksin palsu,” tuturnya. (idr/c6/agm)

Berita Terkait