Waspadai Penularan Penyakit Hewan

Waspadai Penularan Penyakit Hewan

  Kamis, 31 March 2016 09:25
PELATIHAN ISIKHNAS: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu menggelar Pelatihan ISIKHNAS Penyuluh Pertanian dan Petugas Peternakan di Aula Dinas Pertanian, kemarin. MUSTA’AN/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Serangan penyakit terhadap hewan yang bisa menular pada manusia menjadi perhatian serius pemerintah daerah Kapuas Hulu. Melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Kabupaten Kapuas Hulu, digekar pelatihan Integrated Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (ISIKHNAS) untuk penyuluh pertanian dan peternakan yang bertugas di Bumi Uncak Kapuas.

Pelatihan ini digelar agar pelaporan bisa cepat disampaikan apabila ditemukan kasus meninggalnya hewan karena penyakit menular. Kegiatan yang difasilitasi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Kalbar ini, juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman petugas di lapangan, jika terjadi kasus kematian hewan. Harapannya, ketika kasus pada hewan benar-benar terjadi, tidak sampai menulari manusia pemilik hewan.

“Saya apresiasi Dispertanak Kapuas Hulu telah menyelenggarakan pelatihanini. Sebagai fasilitator, kami harapkan apapun kejadian di lapangan, dalam waktu detik itu juga bisa diketahui oleh seluruh pihak,” terang Elidar, kepala Seksi Pelayanan Keswan dan Kesmavet Disnakeswan Provinsi Kalbar, sekaligus sebagai narasumber pelatihan ISIKHNAS di Aula Dispertanak Kapuas Hulu, Selasa (29/3) pagi.

Elidar mencontohkan, jika terjadi kasus orang digigit anjing, maka saat itu juga petugas lapangan bisa mengirim layanan pesan singkat (SMS) ke nomor khusus yang telah disediakan. Pesan itu, dipastikan dia, juga sampai ke Jakarta dan diketahui juga petugas di Provinsi, kemudian dari server dikembalikan lagi ke daerah. “Karena di kabupaten ada dokter hewannya. Setelah dikirim SMS, saat itu juga diproses,” ungkap dia memastikan.

Dijelaskannya, setelah pesan dikirim balik ke petugas di kabupaten besangkutan, maka dokter hewan langsung turun  mengambil tindakan. Jika petugas di kabupaten sulit melakukan tindakan, maka, dipastikan dia, dari provinsi yang akan turut membantu membantu. “Hindari terjadinya penyebaran, terutama penyakit hewan yang bisa menularkan ke manusia atau zoonosis. Dalam waktu cepat kita bisa mencegah penularan penyakit hewan,” katanya.

Elidar yang didampingi medik Veteriner Pratama Disnakeswan Provinsi Kalbar, Ahmad Mike Ariyanto ini, tak memungkiri jika selama ini mereka terkendala penanganan kematian hewan lantaran lambatnya informasi dari lapangan. “Hari ini ia tahu ada hewan tertular penyakit di sebuah desa, mencari dokter memakan waktu beberapa jam, sementara hewan yang tertular sudah dulu meninggal,” ungkapnya.

Maka, Elidar berharap, dengan sistem ISIKHNAS ini, penanganan kematian hewan bisa ditangani sesegera mungkin. Karena, dia berharap, kelak bukan hanya petugas Dinas Pertanian yang dilatih, namun ke depan para peternak juga bisa melapor langsung kejadian di lapangan. “Dalam waktu bersamaan, peternak bisa mengirim SMS ke petugas, petugas langsung turun ke lapangan melakukan tindakan pengobatan,” kata Elidar.

 

Waspada Rabies & Hog Cholera

Berbagai penyakit hewan yang bisa menular pada manusia menjadi ancaman serius di negeri ini. Untuk Kabupaten Kapuas Hulu, kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Kalbar, Elidar, mengingatkan bahwa penyakit yang perlu diwaspadai sebagai zoonosis melalui penularan hewan adalah rabies dan hog cholera. Karena, diakui dia, sebelumnya penyakit ini pernah mewabah di sini.

"Kalau sekarang yang perlu diwaspadai di Kalbar yakni penyakit rabies. Di Kapuas Hulu wabah rabies heboh sekali," kata Elidar saat di Putussibau. Dijelaskan dia, rabies adalah penyakit yang menyerang susunan saraf pusat, yang ditularkan melalui gigitan hewan yang sudah terkena rabies, seperti anjing, kucing, dan kera. Sementara untuk penyakit hog cholera, menurut dia, disebabkan oleh babi. Kasus ini, diungkapkan dia, pernah terjadi  di daerah Badau.

Sementara untuk flu burung (avian influenza) Elidar memastikan kabupaten ini tetap aman. Kendati demikian, dia juga mengingatkan jika wabah ini sedang terjadi di Pulau Jawa. "Kalbar aman, tapi harus diantisipasi, karena di Jawa mulai mewabah lagi," katanya.

Di Kalbar, disebutkan dia bahwa penyakit hewan yang harus diwaspadai ada lima, disingkat RABAH. Yang dimaksud dia dengan RABAH tersebut yakni rabies, avian influenza,  brucellosis atau keguguran pada ternak, antraks pada sapi dan kambing, serta hog cholera.

“Di Kapuas Hulu yang mesti diantisipasi rabies dan hog cholera," tegas dia. Dikatakan Elidar, pada 2017 mendatang, ada beberapa provinsi yang dijadikan pilot project lima zoonosis, termasuk Kalbar. Yakni Riau, Jawa Tengah dan Kalbar. Seperti antraks, rabies, dan nipah, menurut dia, itu yang menjadi perioritas. Selain dua penyakit tadi, dia juga mengingatkan dengan kondisi Kapuas Hulu yang berbatasan dengan Malaysia, harus mengantisipasi wabah virus nipah (NiV). Terlebih, dia menambahkan, virus yang satu ini pernah diketemukan di Malaysia. Virus ini sendiri, dijelaskan dia, bisa dibawa oleh kelelawar. Artinya, dia berpendapat, penyakit yang belum ada, sudah terjadi, dan bisa saja muncul.

“Semua jenis penyakit bisa saja muncul. Karenanya perlu diantisipasi sejak dini," paparnya. Apalagi, dia menambahkan, Kapuas Hulu yang berbatasa langsung dengan negara tetangga, sehingga berbagai jenis penyakit hewan bisa masuk ke Kapuas Hulu.(aan)

Berita Terkait