Waspadai Obesitas pada Anak

Waspadai Obesitas pada Anak

  Jumat, 29 July 2016 10:02

Berita Terkait

Obesitas tak hanya terjadi pada orang dewasa. Anak-anak juga bisa mengalaminya dan ini harus diwaspadai. Anak yang mengalami obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mendapatkan gangguan di masa mendatang, terutama penyakit kardiovaskuler.

Oleh: Chairunnisya

“Aih, lucunya. Gemuk. Pipinya chubby,” . Kalimat ini sering didengar Dien saat ia membawa sang anak yang kini berusia hampir empat tahun. Buah hatinya memang bertubuh gemuk. Bahkan, berat badannya melebihi anak-anak seusianya.

“Saat ini empat tahun beratnya sudah mencapai 25 kilogram. Kalau orang lain lihat, mungkin lucu. Tetapi anak saya sudah disuruh diet sama dokter anak,” ujar Dien.

Dien menyadari secara kasat mata anaknya menggemaskan. Putih dan gemuk. Tetapi ia juga memahami bahwa sang anak termasuk kategori obesitas dan kondisi ini harus diwaspadai.

“Dokter sudah menjelaskan risiko-risiko jika anak obesitas,” katanya.

Dokter anak, Wiwik Windarti, Sp.A menuturkan obesitas adalah penyakit. “Kadang kalau orangtua melihat anak yang gemuk, suka bilang lucu. Padahal obesitas itu tak lucu. Obesitas adalah penyakit,” ujar Wiwik.

Dokter di Poli Anak RS Untan ini menjelaskan anak yang mengalami obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mendapatkan gangguan di masa mendatang terutama penyakit kardiovaskuler. Mereka berisiko terkena penyakit kencing manis, jantung, dan stroke pada usia muda. Ini dikarenakan terjadinya proses pengerasan pembuluh darah sejak kecil.

Secara rinci Wiwik menjelaskan obesitas berarti kelebihan berat badan dikarenakan adanya kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk lemak. Kelebihan energi ini bisa disebabkan asupan yang terlalu banyak atau pengeluaran energi terlalu sedikit, sehingga ada yang disimpan berbentuk lemak dalam badan.

Saat ini angka obesitas balita secara nasional 11,9 persen dan anak umur 5 hingga 12 tahun sebesar 8,8 persen. Di Kalbar, angka obesitas tersebut melebihi rata-rata nasional. Sebesar 90 persen penyebab obesitas bersifat nutrisional atau biasa disebut obesitas primer. Sedangkan sisanya 10 persen merupakan obesitas sekunder, yang dikarenakan sang anak menderita penyakit tertentu seperti kelainan genetik, gangguan hormon, atau karena efek samping pengobatan.

“Penyebab obesitas itu multifaktorial. Bermacam-macam. Obesitas primer itu biasanya ada riwayat keluarga. Orangtuanya ada yang gemuk, sehingga kadang-kadang anaknya punya risiko lebih tinggi untuk gemuk,” jelas Wiwik.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura ini pola makan anak yang kurang benar juga mendorong terjadinya obesitas. Apalagi ketika sang anak kurang gerak.

“Anak-anak sekarang suka main gadget dan kurang gerak. Akhirnya gizi terpenuhi tetapi tak digunakan untuk aktivitas yang bisa membakar energi,” kata Wiwik.

Anak mengalami obesitas bisa dilihat dari penampakannya. Pipinya terlihat tembem atau chubby, leher pendek atau bahkan susah dilihat lehernya, dagunya dua atau biasa disebut double chin. Perutnya buncit dan saking gemuknya bisa berlipat-lipat. Saking beratnya badan, kaki pun bisa pengkor.

“Karena berat badan itu kan ditopang kaki dan panggul,” ujar Wiwik.

Untuk mengetahui obesitas atau tidaknya sang anak, orangtua bisa mengukur berat badan dan tinggi badan. Kemudian, dimasukkan ke kurva sesuai usia dan jenis kelamin anak.

Kalau  anak mempunyai tanda obesitas, maka orangtua bisa membawanya ke pelayanan kesehatan. Tak mesti ke dokter anak, puskesmas juga bisa. Nanti dilihat indeks massa tubuhnya,” ungkap lulusan Universitas Indonesia ini.

Pencegahan obesitas bisa dilakukan sejak anak lahir yakni dengan memberinya ASI ekslusif, karena sering kali bayi dengan susu formula diberikan kalori melebihi yang seharusnya. Peran orangtua juga penting dalam memberi contoh pada anak. “Jika melarang anak ngemil, orangtua juga harus memberi contoh dan jangan ngemil,” kata Wiwik.

Tindakan pencegahan juga bisa melalui aktivitas fisik yang baik, bermain aktif, membatasi menonton televisi atau DVD, serta tidak meletakkan televisi di dalam kamar tidur anak.

“Anak juga sebaiknya makan dengan diet seimbang dan  harus menghindari junk food,” tutur Wiwik.

Pada anak berusia lebih dari 12 bulan, dianjurkan untuk menghindari minum manis, konsumsi jus, dan susu yang berlebihan. “Konsumsi susu tidak boleh lebih dari 480 hingga 720 mililiter perhari, karena akan menambah energi ekstra atau menggantikan nutrien lain,” ungkap Wiwik. **

---------------------------------------

 

Ketika Anak Kelebihan Berat Badan

Saat anak menunjukkan gejala obesitas, dokter anak Wiwik Windarti menyarankan dilakukan tindakan multidisiplin. Orangtua juga harus melakukan beberapa hal seperti berikut.

*Mengatur pola makan

Orangtua bisa berdiskusi dengan dokter anak atau ahli gizi dan mengatur pola makan.

Pengaturan pola makan ini penting untuk menurunkan berat badan. Karena anak masih dalam proses tumbuh kembang, harus diterapkan diet yang tepat.

*Hindari junk food

Sekarang ini banyak sekali dijual berbagai junk food . Orangtua harus bisa menghindari makanan tersebut untuk dikonsumsi anak.

*Diet seimbang

Pada anak harus ada food rules atau aturan makan. Diet pada anak tak sama dengan orang dewasa. Anak tetap makan tiga kali sehari dan ngemil dua kali sehari. Makanan yang dimakan harus mengandung karbohidrat 60 persen dari total kalori, lemak maksimal 30 persen, dan protein 15 hingga 20 persen. Jangan lupa mengkonsumsi serat dan buah. Mengonsumsi buah dan serat membuat cepat kenyang, kalorinya sedikit, dan bisa meningkatkan oksidasi lemak. Buah sebaiknya buah segar dan tidak diblender. Perlu diingat, antara jam makan besar dan jam ngemil, tak boleh ngemil. Jika anak merasa lapar diantara jam tersebut, berikan air putih saja.

*Aktivitas fisik

Meningkatkan aktivitas fisik penting untuk dilakukan. Paling tidak mereka melakukan aktivitas fisik 60 menit setiap hari dan hanya menonton televisi atau main gadget satu hingga dua jam sehari. Aktivitas fisik ini bisa digabungkan dengan kegiatan sehari-hari, seperti berjalan kaki ke sekolah jika letaknya dekat dengan rumah. Atau, bisa mendorong hobi anak seperti karate, berenang, maupun senam.

*Peran berbagai pihak

Orangtua, anggota keluarga, teman, dan guru harus dilibatkan dalam tata laksana obesitas. Seluruh anggota keluarga berpartisipasi dalam program diet, mengubah perilaku dan aktivitas yang mendukung keberhasilan anak. Guru dan teman sekolah bisa ikut berpartisipasi misalnya dengan memberikan pujian bila anak gemuk berhasil mengikuti program dan tidak mengejek dengan sebutan anak gemuk. (uni)

Berita Terkait