Waspadai Dampak Cuaca Buruk di Kalimantan

Waspadai Dampak Cuaca Buruk di Kalimantan

  Kamis, 15 September 2016 09:30   849

Oleh: Khalid Fikri Nugraha Isnoor

 

MEMASUKI  bulan September intensitas hujan di beberapa wilayah di Indonesia akan semakin meningkat di karena kan memasuki awal musim penghujan di tahun 2016. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih mengingatkan ancaman cuaca buruk, gelombang tinggi, dan angin kencang di beberapa wilayah di Indonesia masih harus diwaspadai. BMKG juga memprediksi tingginya intensitas hujan diakibatkan oleh adanya pembelokan arah angin (shearline) yang memiliki indeks negatif sehingga memicu pertumbuhan awan yang cepat di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Provinsi Kalimantan.

Berdasarkan tinjauan kondisi atmosfer, BMKG memprediksi selain pembelokan angin kencang disertai gelombang tinggi yang akhir-akhir ini terjadi, intensitas hujan tinggi juga disebabkan dari adanya penumpukan massa udara yang mengakibatkan terbentuknya awan cumulonimbus (Cb) yang pekat, sehingga dapat menimbulkan curah hujan tinggi disertai petir, dan angin kencang yang dapat berpotensi menjadi badai atau berpotensi menjadi angin puting beliung di wilayah Kalimantan.

Curah Hujan Tinggi

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi dalam jangka waktu satu pekan ke depan di bulan September cuaca di wilayah Kalimantan akan didominasi oleh hujan secara merata, mulai dari hujan dengan intensitas ringan sampai tinggi/ lebat akan mengguyur beberapa wilayah di Kalimantan. Selain itu BMKG memberikan prediksi, angin dengan kecapatan sedang akan terjadi seiring turunnya hujan, serta nilai kelembaban udara dilapisan atas yang tinggi akan mempengaruhi pertumbuhan awan konvektif  yang memicu tinggi nya intensitas curah hujan di wilayah Kalimantan. Kondisi ini berkaitan dengan pola musim, dimana secara umum wilayah Indonesia mengalami dua kali periode musim kering (kemarau) dan dua kali periode musim basah (hujan). Periode pertama pada umumnya terjadi pada bulan peralihan musim seperti sekarang ini. Menurut BMKG awal musim hujan, dapat ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti beberapa dasarian berikutnya. Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.

Pemicu

Pada dasarnya jumlah curah hujan yang cukup tinggi disebabkan oleh faktor sirkulasi angin di Indonesia. Sirkulasi angin ini ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun yang mengakibatkan sirkulasi angin di Indonesia umumnya adalah pola monsunal, yaitu sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah setiap setengah tahun sekali. Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di Indonesia.

BMKG memprediksi faktor lain yang dapat memicu kemungkinan yaitu adanya aktivitas Indian Ocean Dipole (IOD) atau sirkulasi angin tertutup di Samudera Hindia bagian barat. Wilayah pertemuan angin ini terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, hingga Kalimantan Timur, sedangkan perlambatan kecepatan angin terdapat di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi bagian Tengah, dan Papua bagian Utara. Angin gradien di wilayah Indonesia umumnya bertiup dari Tenggara hingga Barat Daya dengan kecepatan angin berkisar antara 09 – 36 km/jam. Dengan kecepatan angin tertinggi berada di Samudera Hindia bagian barat Sumatera hingga Selatan Jawa bagian timur. Kondisi ini mendukung proses pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

IOD adalah fenomena lautan-atmosfer di daerah ekuator Samudera Hindia yang mempengaruhi iklim di Indonesia dan negara-negara lain yang berada di sekitar cekungan (basin) Samudera Hindia. Sesuai namanya, IOD dikarakteristikkan oleh anomali suhu muka laut atau SST (Sea Surface Temperature) antara dua kutub Samudera Hindia, yaitu Samudera Hindia barat dan tenggara. Perbedaan anomali SST antara dua daerah ini disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI), dan digunakan untuk mengukur kekuatan dari IOD itu sendiri. Periode di mana DMI bernilai positif umumnya disebut sebagai periode IOD positif (IOD+), dan sebaliknya, ketika DMI bernilai negatif disebut periode IOD negatif (IOD-). Indian Ocean Dipole umumnya dimulai pada bulan Mei atau Juni, dan mencapai puncaknya pada bulan Oktober dan akan berakhir pada bulan November atau Desember.

 

Waspadai Dampaknya

Dengan kondisi cuaca saat ini potensi terjadinya peningkatan curah hujan yang berpeluang mengakibatkan banjir, longsor, wabah penyakit dan munculnya badai akan semakin besar. Tidak menutup kemungkinan sistem saluran drainase yang kurang baik akan menimbulkan banjir lokal dan munculnya wabah penyakit demam berdarah yang dapat menyerang masyarakat. Dari segi kesehatan, cuaca yang lembab memperluas persebaran nyamuk malaria dan demam berdarah serta air laut yang lebih hangat memperbesar peluang timbulnya penyakit tifus di sekitar pantai.

Dari sumber data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika kondisi cuaca di wilayah Kalimantan disebutkan hujan ringan hingga sedang memang masih berpeluang terjadi, arah angin bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecapatan  2 - 20 knots, dengan suhu berkisar antara 24 – 28 derajat celcius, serta kelembaban suhu yang cukup tinggi akan mempengarui peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Kalimantan dan berpeluang terjadi hujan disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat, dihimbau untuk masyarakat yang ingin menggunakan transportasi baik darat maupun udara harus tetap waspada dan berhati-hati dengan kondisi cuaca ini untuk beberapa hari kedepan.***

 

*) Taruna Sekolah Tinggi

Meteorologi Klimatologi dan Geofisika