Waspada Sejak Dini, Kanker pada Anak tak Bisa Dicegah

Waspada Sejak Dini, Kanker pada Anak tak Bisa Dicegah

  Selasa, 8 December 2015 09:32
CEGAH: Kegiatan Seminar Sehari Penyakit Tak Menular Dinkes Kalbar terkait pencegahan penyakit kanker sejak dini. SHANDO SAFELA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

 
Ditemukan sebanyak 4.100 kasus baru kanker pada anak setiap tahunnya. Berbeda dengan orang dewasa, kanker pada anak tak dapat dicegah dan hanya satu jenis yang dapat dideteksi sejak dini. Tetapi mewaspadai tanda-tanda kanker sejak dini dapat mengurangi risiko kanker yang ditemukan dalam stadium lanjut.   CHAIRUNNISYA, Pontianak

 
“SEMAKIN dini dan cepat seorang anak yang terkena kanker ditangani, semakin besar kemungkinan si anak untuk sembuh. Jadi, penting bagi orangtua untuk mewaspadai gejala kanker pada anak sejak dini, khususnya leukemia,” ujar Konsultan Onkologi Anak RS Dharmais Jakarta, dr Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A (K) MHA dalam Seminar Sehari Penyakit Tak Menular Dinkes Kalbar, Senin (7/12) di Hotel Santika Pontianak.

Edi mengungkapkan kanker pada anak dibagi atas dua kelompok besar yakni cair dan padat. Bentuk cair dalam tubuh manusia adalah darah. Kanker darah ini dikenal dengan istilah leukemia. Sedangkan bentuk padat biasanya terlihat sebagai benjolan yang dapat dijumpai pada semua organ tubuh manusia seperti otak, mata, hati, ginjal, dan lainnya.

Edi menjelaskan kanker pada anak berbeda dari kanker yang dijumpai pada orang dewasa. Kanker pada orang dewasa dapat dicegah, sementara pada anak-anak tidak. Kendati demikian, orangtua tetap harus mengajarkan pola hidup dan makan yang sehat pada anak-anak sejak dini. Tujuannya bukan untuk mencegah timbulnya kanker pada usia anak, melainkan menghindarkan mereka dari berbagai jenis kanker yang biasa menyerang saat dewasa.

“Orangtua dianjurkan mengajarkan anak-anak untuk tidak merokok, makan dengan pola gizi seimbang, dan mengikuti program imunisasi,” ungkap Edi.Edi menuturkan setiap tahun ditemukan 4.100 kasus baru kanker pada anak. Paling banyak diderita adalah leukemia. Kedua terbanyak adalah kanker bola mata atau retinoblastoma.Hingga saat ini, dari sekian banyak kanker yang ditemui pada anak, baru retinoblastoma yang bisa dideteksi secara dini. Deteksi dini itu untuk menemukan kanker pada stadium awal. Jika kanker ditemukan pada stadium awal, kemungkinan sembuh lebih besar dibandingkan ketika ditemukan pada stadium lanjut.

Deteksi dini untuk retinoblastoma dinamakan “Lihat Merah”. Pemeriksaannya bisa dilakukan tenaga kesehatan yang telah dilatih, sehingga tak harus dilakukan dokter di rumah sakit besar.“Di puskesmas pun bisa dilakukan dengan alat yang disebut opthalmoscope, alat untuk melihat bagian dalam dari mata yang diperiksa,” katanya.Edi menjelaskan retinoblastoma terjadi pada anak usia balita. Dalam proses pemeriksaan, anak tersebut biasanya duduk di pangkuan ibu. Pemeriksa berada tak jauh dari hadapan mereka. Bila mata anak dalam kondisi normal, pemeriksa melalui alat opthalmoscope akan melihat warna merah terpantul dari mata anak. Jika tidak melihat warna merah terpantul, dianjurkan kepada orangtua untuk membawa anaknya ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa lebih lanjut.

“Tetapi selama ini yang banyak saya temui adalah pasien datang dengan stadium lanjut, bukan stadium awal,” katanya.Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Yulisus Jualang mengatakan perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat mengakibatkan terjadinya transisi epidemiologi. Masalah kesehatan utama mulai bergeser dari penyakit menular menjadi penyakit tak menular.

“Hipertensi dan kanker termasuk penyakit tidak menular yang mempunyai kecenderungan meningkat setiap tahunnya,” kata Yulisus ketika membuka seminar mewakili Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Andy Jap, kemarin.Yulisus mengatakan menurut WHO pada 2003 setiap tahun timbul lebih dari 10 juta kasus penderita baru kanker, dengan prediksi peningkatan setiap tahunnya sekitar 20 persen. Diperkirakan pada 2020 jumlah penderita baru penyakit kanker meningkat hampir 20 juta orang. Sebanyak 84 juta orang akan meninggal 10 tahun kedepan, jika tidak dilakukan intervensi memadai.

“Penanganan penyakit kanker di Indonesia belum dilaksanakan secara optimal. Ini dilihat bahwa hampir 70 persen kasus baru ditemukan dalam keadaan stadium lanjut,” ungkap Yulisus.Pengendalian penyakit kanker dan penyakit tak menular lainnya terus dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar. Upaya ini ditekankan pada promotif dan preventif.“Dinkes Kalbar mengembangkan deteksi dini faktor risiko dan tata laksana penyakit tak menular,” ujarnya. (*)

Berita Terkait