Waspada Kejahatan Seksual Mengintai Anak

Waspada Kejahatan Seksual Mengintai Anak

  Rabu, 11 May 2016 09:52

Berita Terkait

Rika Indarti Psikolog

Anak-anak adalah makhluk yang lemah. Ancaman menjadi senjata bagi pelaku untuk menguasai tubuh korban. Orang tua harus melatih parenting skill atau keterampilan pengasuhan, terutama menyesuaikan dengan tuntutan zaman.

////////////////

Kejahatan seksual, terutama pada anak terus mengancam. Pelakunya beragam, dari orang jauh hingga orang terdekat korban. Orang tua harus mengambil peranan, agar masa depan anak tak terancam. Semua pihak harus bergandeng tangan, memutus lingkaran setan dari kejahatan seksual. 

Oleh :Marsita Riandini

Kasus kekerasan seksual pada anak terus bermunculan. Belum surut keprihatinan masyarakat terhadap kasus yang menimpa Yuyun, kasus kekerasan seksual kembali terjadi. Tak tanggung-tanggung, 19 orang diduga menjadi pelaku pemerkosaan terhadap gadis asal Manado berinisial V. 

Dua kasus ini menjadi sorotan publik. Bahkan Komnas Perlinduangan Anak menyatakan Indonesia darurat kejahatan seksual terhadap anak. Tentu saja ini tak bisa diabaikan begitu saja, sebab bukan tak mungkin akan muncul korban kekerasan seksual lainnya. Lantas apa yang bisa dilakukan orang tua mencegah anaknya menjadi korban kekerasan seksual?

Menjawab For Her, Rika Indarti, M. Psi, Psikolog mengatakan banyak faktor yang menyebabkan kejahatan seksual terjadi pada anak. Orang tua berperan penting untuk mengantisipasi hal tersebut. Apalagi saat ini, anak tak hanya menjadi korban, banyak pula yang menjadi pelaku. 

Mengapa anak-anak yang sering menjadi korban? Rika mengatakan bahwa anak-anak adalah makhluk yang lemah. Ancaman secara verbal saja bisa membuat mereka takut untuk melawan. Ini menjadi senjata bagi pelaku untuk menguasai tubuh korban. “Dari ancaman, muncul rasa takut. Sementara kalau orang dewasa, tentu akan melawan. Paling tidak berteriak minta pertolongan, sementara anak-anak baru ancaman mulut saja sudah ketakutan,” papar salah satu pendiri Biro Konsultasi Persona ini. 

Itulah sebabnya, lanjut dia ada pelaku yang sudah memerkosa berkali-kali baru ketahuan. Ini pula yang menjadi alasan pedofil memilih anak-anak. Sebab mereka merasa di depan anak-anak mereka bisa berkuasa, lebih kuat, lebih bisa mendominasi dibanding dengan orang dewasa.  

Anak-anak yang sudah menjadi korban pemerkosaan berkali-kali pada akhirnya bisa menjadi pelaku. “Banyak orang yang dewasa menjadi pelaku kekerasan seksual, karena ketika anak-anak dia adalah korban. Awalnya, korban merasakan kesakitan, pemerkosaan kedua korban meronta-ronta, selanjutnya korban mulai menikmati yang pada akhirnya dia akan menjadi calon pelaku kejahatan. “Bila tak segera diputus, maka ini bisa menjadi lingkaran setan,” papar dia. 
 
Orang tua harus melatih parenting skill atau keterampilan pengasuhan terutama yangs sesuai dengan kebutuhan zaman. Memang bukan hal yang gambang mengasuh anak, tetapi orang tua bisa belajar banyak hal. Apalagi saat ini anak dihadapkan pada teknologi yang semakin berkembang, sebaliknya ini menjadi tantangan bagi orang tua dalam pola pengasuhan. “Orang tua harus sadar kelemahannya, terutama dalam pengasuhan. Sebisa mungkin menguatkan kelemahan itu Mau tidak mau, orang tua harus belajar. Bisa melalui seminar parenting dan lainnya,” tuturnya.

Sayangnya, lanjut dia banyak yang merasa bahwa menjadi orang tua itu adalah proses alamiah. Padahal tidak semua orang tua sebenarnya siap menjadi orang tua. Apalagi pada kasus anak-anak yang menikah muda karena kehamilan yang tidak diinginkan. Kesiapannya menjadi orang tua menjadi tidak matang. Hal terpenting lainnya, kata dia tak hanya peran orang tua saja, tetapi juga lingkungan sekitar rumah dan lingkungan masyarakat yang lebih luas lainnya. 

Hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual menjadi tuntutan banyak orang, lantaran geram dengan aksi kejahatan yang dilakukan. Tetapi tentu saja ini tidak bisa diterapkan pada pelaku yang masih berstatus anak-anak. Itu sebabnya kata Rika, bagi para pelaku terutama anak-anak itu tak sekadar diberikan hukuman, tetapi juga terapi dan rehabilitasi. “Katakanlah pelaku usianya 17 tahun. Jika hukumannya 10 tahun, tanpa diberikan terapi dan rehabilitasi. Ketika keluar penjara usia 27 tahun, kemungkinan untuk kembali melakukan kejahatan seksual cukup besar,” pungkasnya mengingatkan. **

-----------------------

Cara Mengantisipasinya

Latih kemampuan komunikasi dengan anak
Selain kesiapan menjadi orang tua, Psikolog Rika Indarti mengatakan melatih kemampuan komunikasi kepada anak sangatlah penting. Semakin baik komunikasi orang tua kepada anak, semakin terbuka anak dengan orang tua. Sebaliknya, jika komunikasi anak dengan orang tua buruk, maka anak akan semakin tertutup. Ada masalah enggan bercerita dengan orang tua. 

Pendidikan seksual 
Pendidikan seksual pada anak termasuk hal penting yang harus diberikan orang tua. Pendidikan seksual yang dimaksud, lanjut dia tentu yang bersifat positif. Orang tua bisa mengajari anak tentang fungsi dari alat kelamin mereka. Tidak membiarkan orang lain menyentuhnya, termasuk ayah ataupun kerabat dekat lainnya. Kenapa seks education itu penting? Sebab kata Rika banyak pelaku kekerasan seksual terhadap anak itu adalah orang terdekat. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak, malah menjadi ancaman. Orang tua memperkosa anak, kakak memperkosa adik, paman memperkosa keponakan, adalah kasus-kasus yang marak terjadi. “Seharusnya rumah itu menjadi awal anak belajar tentang kehidupan sosial, tetapi bisa menjadi ancaman bagi anak. Itu sebabnya orang tua perlu memahami karakter setiap individu yang tinggal di rumah. Orang tua tetap harus memantau perkembangan anak, termasuk peka terhadap perubahan-perubahan anak,” jelas Rika. 

Tanggung jawab dan peranan sebagai anak perempuan dan laki-laki
Ajarkan pula mereka tanggung jawab dan perannya sebagai perempuan dan lelaki. Ini yang harus diperhatikan para orang tua. Sebab kata dia, banyak orang tua yang fokus pada anak perempuan saja. Bagaimana cara menjaga dirinya, bagaimana cara berpakaian. Sementara anak lelaki hanya diajarkan secara umum saja. “Anak lelaki juga harus diajarkan tanggung jawab, terutama menghormati dan melindungi perempuan, baik itu ibunya maupun saudaranya. Jika hal ini sudah dibiasakan, maka akan berpengaruh pada kehidupan sosialnya. Dia juga akan melindungi dan menjaga temannya, tidak akan melecehkan,” papar dia. 

Memantau anak
Kejahatan bisa mengintai anak kapan saja. Itu sebabnya, orang tua harus lebih ekstra lagi dalam memantau anak, termasuk ketika anak berangkat dan pulang sekolah. “Orang tua harus tahu kemana anak pergi, dengan siapa. Saat ke sekolah juga harus tahu rute mana yang dilewati anak, berapa jarak dan bagaimana kondisi jalanan tersebut,” sarannya. 

Waspada pengaruh media sosial
Internet memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak. Apalagi jika anak akrab dengan media sosial. Jika orang tua tidak bisa memantaunya, bukan tak mungkin anak mengarah kepada pornografi. “Orang tua juga harus tanggap teknologi. Jika anak lebih paham dari orang tua, maka pemanfaatan gedget yang digunakan anak sulit terpantau,” tutur dia. 

Berita Terkait