Waspada Demam Berdarah

Waspada Demam Berdarah

  Selasa, 9 February 2016 08:54

Berita Terkait

PONTIANAK – Musim penghujan telah tiba. Demam Berdarah Dengue (DBD) diprediksi semakin rentan terjadi memasuki musim penghujan saat ini. Di sejumlah daerah di Kalbar, demam berdarah mulai merebak. Sepanjang pertengahan Januari hingga awal Februari 2016 demam berdarah telah menjangkiti sedikitnya 151 orang. Dua orang di antaranya meninggal dunia. Keduanya berasal dari Kabupaten Melawi.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Andy Jap mengatakan, sepanjang 2016 dari 14 kabupaten dan kota yang ada di Kalbar, tiga kabupaten mengalami kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi. Rinciannya, di Melawi sebanyak 37 orang, Sintang 37 orang, dan Sekadau 30 orang. "Sementara daerah lainnya tidak terlalu tinggi," katanya saat dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Menurutnya, tingginya kasus DBD di tiga daerah tersebut disebabkan faktor lingkungan. Untuk itu setiap daerah wajib mengupayakan agar wilayahnya tidak menjadi tempat perindukan dan sarang-sarang nyamuk. Kebersihan lingkungan menjadi tanggung jawab setiap warga masyarakat.

Meski di beberapa daerah kasus DBD cukup tinggi, namun secara umum Andi menilai penyebaran dan penanganan DBD di Kalbar masih terkendali. Untuk itu pihaknya belum mau menetapkan sebagai peristiwa KLB.  Dinkes juga akan terus berupaya mengantisipasi supaya serangan demam berdarah yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti ini tidak semakin meluas.

Dalam beberapa tahun terakhir, angka penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kalimantan Barat berfluktuasi. Jumlah penderita terbanyak terjadi pada 2009 dengan jumlah penderita sebanyak 9818 kasus. Pada tahun berikutnya, jumlah penderita deman berdarah dengue mengalami penurunan.

Namun pada 2014, jumlah penderita DBD kembali meningkat, sebanyak 4.952. Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Andy Jap memprediksi, ada siklus lima tahunan di mana penderita DBD meningkat dengan tajam. Penyebaran penyakit ini terjadi di seluruh kabupaten atau kota di Kalbar.

Andy mengimbau agar seluruh daerah di Kalbar bisa selalu menjaga dan memonitor penyebaran DBD di daerah masing-masing. Terus melakukan upaya-upaya pencegahan dini. Di antaranya dengan tindakan 3M plus, yakni menguras, menutup, dan mengubur, serta membudayakan hidup sehat di lingkungan keluarga dan lingkungan sosial di sekelilingnya.

Selain itu dinas kesehatan juga telah menyiapkan bubuk abate untuk tempat-tempat penampungan air. Kemudian melakukan fogging secara rutin untuk membunuh jentik-jentik nyamuk yang bersarang di tempat-tempat yang sulit dijangkau. "Sejauh ini untuk logistik juga terbilang masih sangat cukup," terangnya.

Harapannya seluruh masyarakat bisa menjalankan langkah antisipasi ini. Untuk menghindari gigitan nyamuk Aedes aegypti, Andy berpesan kepada anak-anak sekolah agar menggunakan baju berlengan panjang atau mengoleskan minyak serai pada tubuh. "Karena nyamuk ini justru keluarnya pada jam siang saat aktivitas sekolah anak," ujarnya.

Melihat tingginya kasus DBD di sejumlah daerah, Dinas Kesehatan Kota Pontianak meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan fogging berfokus di wilayah endemik dan sekolah-sekolah. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu Widoyono mengungkapkan, fenomena KLB DBD di beberapa wilayah jadi perhatian serius Dinkes Pontianak. Sampai akhir Januari, terdapat enam kasus DBD di Pontianak. Namun tidak menelan korban jiwa. “Kita siaga, guna mengantisipasi bertambahnya jumlah DBD. Meski masih dalam taraf normal, tetapi perlu disikapi dan pastinya melakukan antisipasi,” ucapnya kepada Pontianak Post, (5/2) sore.

Temuan enam kasus itu tidak berada di satu kecamatan namun merata, dengan korban rerata anak-anak. Selain melakukan rapat konsolidasi tim gerak cepat, dalam waktu dekat pihaknya juga akan melakukan fogging berfokus di wilayah endemik serta akan masuk ke sekolah-sekolah.

Dipaparkan, tahun 2015 korban DBD ada 69 kasus namun kesemua korban tidak sampai meninggal dunia. Dia berharap di tahun 2016 kasus DBD terus menurun. Salah satu cara untuk menangkal DBD tentu masyarakat harus menjaga kebersihan, dengan cara membersihkan sarang nyamuk serta memantau kembang biak jentik di tiap tempayan.

“Pemeliharaan predator pemangsa jentik juga dianjurkan di masukkan ke tempayan, seperti ikan selomang dan pemangsa natural,” anjurnya.

Selain dengan fogging ia juga meminta masyarakat waspada terutama soal tumbuh kembang nyamuk yang tak terdeteksi, seperti di dalam botol bekas, ban bekas, serta beberapa tempat yang berpotensi bisa tumbuh kembang jentik.

“Selama ini penularan jutsru datang dari tempat yang tak di sangka, makanya masyarakat juga mesti peka,” ucapnya.

Mesti Pontianak belum berstatus siaga DBD, namun ia tetap memberi perhatian serius, dengan tujuan menekan kasus DBD khususnya di Pontianak.

Dikonfirmasi secara terpisah, Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin meminta agar pemkot sigap dalam mengatasi wabah DBD. Melihat kejadian di dua daerah di Pulau Sumatera yang ditetapkan KLB DBD maka pemkot Pontianak mesti melakukan antisipasi terlebih dahulu. “Kasus ini sering ditemukan, maka harus segera dicegah,” ungkapnya.

Potensi DBD bisa saja terjadi, melihat bulan-bulan ini curah hujan sangat tinggi. Ia meminta dinas terkait segera melakukan langkah-langkah seperti penyuluhan kepada masyarakat soal antisipasi DBD. Agar masyarakat memahami bahaya DBD, puskesmas turut aktif terutama soal informasi tentang DBD. “Dinkes segera lakukan penyuluhan, jangan tunggu korban baru sibuk sana sini,” cetusnya.

Ia juga meminta komisi terkait untuk menangani masalah ini dan segera turun kelapangan untuk melakukan pengecakan apakah ada korban DBD. Ia juga meminta masyarakat pro aktif, apabila kedapatan kasus DBD segera dilaporkan  agar cepat ditangani dengan cepat.

Di musim hujan seperti ini diperlukan kerjasama semua pihak, mulai dari masyarakat, RT/RW dan pemerintah dalam mengantisipasi wabah DBD. Penyuluhan, penaburan abate dan penanggulangan wabah harus terus dilakukan.Karena menurutnya, wabah ini tidak mengenal umur dan tempat. Bukan karena kotor tetapi lingkungan yang bersih merupakan tempat mereka bersarang juga. “Saya harap semua pihak mesti waspada, sehingga kasus DBD di Pontianak dapat turun. (bar/iza)

Berita Terkait