Waspada Cuaca di Laut , Dua Perahu Pecah Diterjang Ombak

Waspada Cuaca di Laut , Dua Perahu Pecah Diterjang Ombak

  Jumat, 12 February 2016 08:26
DIHAJAR OMBAK: Meski sudah sandar ke pinggir, tetapi dua perahu nelayan tetap pecah dihantam ombak laut di perairan Mempawah yang tinggi. Nelayan pun diingatkan untuk waspada saat melaut. WAHYU IZMIR/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

SUNGAI KUNYIT- Angin kencang yang menyebabkan ombak tinggi di perairan Kabupaten Mempawah menelan korban. Dua perahu nelayan Sungai Kunyit pecah akibat terjangan ombak, kemarin pagi sekitar pukul 03.00 WIB. Meski tidak ada korban jiwa, namun kerugian materil diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

Dari informasi yang berhasil dihimpun Pontianak Post dilapangan, cuaca ekstrem yang melanda kawasan Kabupaten Mempawah sudah terjadi sejak sepekan lalu. Angin kencang dan curah hujan yang tidak menentu melanda kawasan darat pemukiman masyarakat. Sementara di wilayah perairan, cuaca ekstrem menyebabkan gelombang tinggi.Seperti yang terjadi di RT 06 dan RT 07 Desa Sungai Limau Kecamatan Sungai Kunyit. Gelombang tinggi membuat ratusan nelayan enggan berangkat melaut. Mereka pun hanya menyandarkan perahu pada tiang steigher di muara sungai. Tak kurang dari 300 buah perahu berlabuh akibat terjangan gelombang.

Banyaknya perahu nelayan yang bersandar membuat muara sungai penuh sesak. Bahkan, sejumlah perahu yang berada diantrean belakang harus berlabuh di luar muara. Sementara itu angin kencang yang terus menerjang membuat hempasan gelombang mencapai muara sungai. Naas, dua buah perahu yang bersandar dibagian belakang muara harus menjadi korban hantaman ombak laut.

Badan perahu pecah akibat hempasan ombak laut yang terus menerus menerjang. Hingga kedua perahu milik Madi, nelayan Sungai Limau dan Iwan, nelayan Sungai Kunyit Laut harus tenggelam kedalam sungai. Kejadian yang berlangsung pada subuh hari itu baru diketahui nelayan pada pagi hari.“Badan perahu rusak berat hingga seluruhnya tenggelam. Pemilik perahu hanya menyelamatkan mesin saja agar tidak rusak terendam air. Sementara bagian badan perahu sementara ini masih dibiarkan begitu saja,” papar Julianto, tokoh masyarakat Sungai Kunyit, Kamis (11/2) siang.

Menurut pria yang akrab disapa Uli ini, kuatnya terjangan ombak dikawasan tersebut disebabkan angin kencang. Ditambah lagi alur muara sungai yang langsung berhadapan dengan laut lepas hingga tidak ada penghalang ombak untuk mencapai kawasan sungai dan pemukiman masyarakat.“Makanya kami sangat berharap pemerintah pusat maupun Pemprov agar dapat mengalokasikan anggaran untuk pembangunan kubus pemecah ombak. Jika ada kubu pemecah ombak disepanjang garis muara, maka ombak tidak akan mencapai perahu-perahu yang sedang bersandar di steigher,” pendapatnya.

Lebih jauh, dia menilai keberadaan kubus pemecah ombak sebagai upaya untuk mengantisipasi abrasi pantai diwilayah itu yang kondisinya cukup memprihatinkan dan mengancam kelangsungan pemukiman masyarakat.“Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, maka ancaman abrasi akan semakin besar. Tidak hanya merusak kawasan pantai, melainkan juga membuat masyarakat kehilangan tempat tinggal. Makanya, kami berharap pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan kubus pemecah ombak pada APBD 2016 ini,” harapnya mengakhiri.(wah)

Berita Terkait