Waspada Anak Kecanduan Televisi

Waspada Anak Kecanduan Televisi

  Rabu, 2 March 2016 08:49

Berita Terkait

Anak-anak merupakan usia yang cepat tertarik pada hal-hal yang menarik, salah satunya media televisi. Menonton televisi memiliki dampak positif bagi perkembangan anak. Disisi lain, dapat pula menjadi alat contoh anak-anak untuk berperilaku negatif. Oleh : Marsita Riandini

Hampir setiap rumah memiliki televisi. Ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk lebih sering menghabiskan waktunya menonton. Apalagi jika anak tidak memiliki aktivitas lain. Bukan tidak mungkin, kebiasaan anak ini menyebabkan kecanduan televisi. Seorang anak dapat dikatakan mengalami kecanduan televisi saat mereka bersedia mengorbankan hal-hal yang disukainya dulu dan mengalihkan perhatian sepenuhnya terhadap televisi.

Anak-anak akan dengan mudah meniru apa yang ditontonnya. Ini yang harus diperhatikan orang tua, agar tidak sembarangan memilihkan tontonan pada anak. Demikian yang disampaikan oleh Ismi Ardhini, M. Psi, Psikolog kepada For Her. “Sama halnya dengan orang dewasa, tontonan bisa menjadi hiburan bagi anak-anak. Melatih kreativitas anak, memiliki wawasan, hingga pengetahuan,” ucap Kepala UPTD Autis Center ini. Tapi, ada hal lain yang harus dipahami orang tua. Secara tidak langsung apa yang ditonton anak bisa mempengaruhi alam bawah sadarnya. Tak heran bila anak bisa cepat hapal dengan lagu yang didengarnya, iklan yang ditontonnya. “Dampak negatifnya cukup banyak sekali,” timpalnya.

Secara fisik, anak yang kecanduan nonton TV aktivitasnya lebih banyak duduk atau berbaring. Apalagi jika sambil makan ataupun ngemil. Ini bisa membuat anak menjadi obesitas.  “Anak secara sosial tidak banyak bergaul dengan lingkungan sekitar. Waktu lebih banyak dihabiskan di depan televisi,” papar dia. Emosi anak juga cenderung labil, dan mudah dipengaruhi. “Secara emosional question-nya, anak yang kecanduan nonton TV lebih kurang dibanding anak yang lebih banyak bergaul dengan lingkungan sosial,” ulas wanita 38 tahun ini.

Hal tak kalah penting lainnya, anak bisa saja dewasa sebelum waktunya. Seperti ketika anak menonton film yang menunjukkan pornografi, kekerasan, ataupun umpatan. “Kekerasan dan umpatan akan membuat anak cepat meniru tanpa difilter lagi. Untuk anak kecil banyak menyebabkan gangguan verbal dan bicara. Sementara untuk anak khusus seperti autis banyak meracau tanpa tahu artinya,” jelas dia.

Disinilah lanjut Ismi, peran orang tua dituntut lebih ekstra mengontrol anak. Orang tua harus lebih arif dalam menerapkan pola asuh. Sebab ada banyak resiko yang dimunculkan, jika orang tua membiarkan anak menonton secara bebas. “Ketika nonton, orang tua dan anak juga sering kehilangan waktu berkomunikasi. Apalagi jika anak sudah larut dalam tontonannya,” jelas dia.

Tak hanya menonton saja, segala aktivitas anak harus dalam pengawasan orang tua. Tentu saja dilakukan dengan cara-cara yang tepat. Apalagi sekarang ini, media hiburan anak tak hanya televisi saja, melainkan sudah lebih canggih. “Tak hanya televisi saja, anak juga rentan kecanduan game, apalagi jika orang tua turut memfasilitasi anak,” pungkasnya mengingatkan. **

 

Berita Terkait