Warga Tinggal SMS atau Telepon, Sampah pun Diambil

Warga Tinggal SMS atau Telepon, Sampah pun Diambil

  Jumat, 5 Agustus 2016 09:30
PEDULI LINGKUNGAN: Vika Wahyu Aji (dua dari kanan) bersama tiga aktivis bank sampah Gardu Action di Bantul (27/7). Tri Mujoko Bayuaji/Jawa Pos

Berita Terkait

Bank Sampah yang digagas Vika Wahyu Aji berawal dari kegelisahan melihat sekujur Parangtritis dikotori pengunjung. Sebagian kecil limbah warga sekitar yang ’’ditabung’’ dikreasi jadi objek selfie dan rekreasi. 

TRI MUJOKO BAYUAJI, Bantul

TELUNJUK Vika Wahyu Aji mengarah ke atas. Ke sebuah kotak tempat pembuangan sampah (TPS). ’’Dulu, dari atas sana itu sampai turun ke pantai sini, isinya sampah semua,’’ katanya. 

Kami berdiri di markas Gardu Action, sekitar 200 meter dari Pantai Parangtritis, Bantul, Jogjakarta. Markas komunitas sekaligus spot wisata yang kini menjadi alternatif pengunjung Parangtritis itu memiliki dua pintu masuk. 

Akses utama berdekatan dengan TPS. Kedua sembari menyusuri Parangtritis. Baik yang pertama maupun kedua, sama-sama bersih. Rapi dan elok dipandang. Sepanjang akses kedua, pengunjung bahkan bisa menikmati ornamen-ornamen yang dibuat dari tangan-tangan kreatif anggota Gardu Action. 

Misalnya, papan bertulisan love dan kincir angin yang sama-sama terbuat dari plastik air mineral. Atau, gardu pandang dari kayu bekas yang bisa digunakan untuk melihat lanskap Parangtritis dari ketinggian.

Padahal, dulu yang dimaksud Vika tadi tidak merujuk ke masa yang jauh sekali. Baru tahun lalu, persisnya 4 Juli, ketika Vika menggagas gerakan bersih-bersih pantai bersama anak-anak muda kampungnya, Mancingan, yang merupakan bagian dari Desa Parangtritis. 

’’Kami awalnya beberapa saja, kumpul, memfoto lokasi ini, kami share ke teman-teman, ternyata ada 25–30 kawan yang ngumpul,’’ ujarnya.

Gerakan tersebut berawal dari kegelisahan Vika yang ketika itu masih bekerja sebagai lifeguard alias penjaga pantai melihat hamparan sampah yang ditinggalkan pengunjung. Dia lebih jengah lagi karena pemerintah setempat tidak secara kontinu mengambil sampah di kawasan TPS tempat tinggal mereka.

’’Sampah itu dulu diambil tidak rutin. Itu pun cuma satu truk sekali ambil, tidak sebanding dengan jumlah sampahnya,’’ ujar Vika. 

Akhirnya, dia bersama sejumlah kawan sekampung sepakat bergerak membersihkan tumpukan sampah di pinggir Parangkusumo, pantai tetangga Parangtritis, tersebut. Sampai terkumpul 30 kantong besar ketika itu. 

Isi kantong-kantong sampah tersebut sudah terpilah antara sampah organik dan non-organik. ’’Setelah terkumpul, kami bingung ini mau diapakan,’’ kata Vika.

Sampai kemudian ada masukan agar mereka membuat bank sampah. Berkenalanlah mereka dengan Bambang Suwerda, penggagas bank sampah di Indonesia. 

Vika bersama lima temannya kemudian nyantrik ke tempat Bambang di Badegan, Bantul, untuk mengetahui seluk-beluk pengelolaan bank sampah. 

’’Hasilnya kami sharing sama kawan-kawan, di sini, sambil kamping malam,’’ kata Vika.

Setelah mantap menentukan konsep bank sampah, para pemuda Gardu Action pun merasa langkah mereka harus didukung perangkat desa. Mereka pun meminta waktu agar bisa bertemu dan menyampaikan langkah mereka dengan para kepala dusun.

Vika mengaku, salah satu ketua RT saat itu mengingatkan komitmen mereka dalam penanganan sampah. ’’Kami dikasih tahu, kalian masih muda. Kalau mau ngurus sampah nanti nggak ada uangnya, apa sanggup?’’ ungkapnya.

Vika menyebutkan, pernyataan itu menjadi ujian komitmen bagi para pemuda di Gardu Action. Namun, Vika menyatakan, sebelum ada pertemuan dengan para perangkat dusun, para pemuda berkomitmen untuk berfokus pada lingkungan. 

’’Uang bagi kami nanti dulu. Kalau itu ada, kami anggap bonus. Biar nanti teman-teman yang mengelola,’’ ujarnya.

Setelah mendapat persetujuan, Gardu Action merumuskan sebuah acara yang sekaligus menjadi deklarasi pendirian komunitas bank sampah itu. Pada 14–19 Agustus 2015, Gardu Action menggadakan recreational dan education camp. 

Dengan mengandalkan internet dan komunikasi seluler, sekitar lima sekolah, ditambah beberapa teman dari Banten, Kalimantan, dan Sumatera, mengikuti acara sosial itu. ’’Kami kamping bersama sambil membersihkan lokasi, lalu hari terakhir adalah peresmian berdirinya Gardu Action,’’ kata Vika yang memutuskan mundur sebagai penjaga pantai demi menyeriusi bank sampah.

Rutinitas para pemuda Mancingan pun praktis bertambah sejak saat itu. Dimulai dengan mendata para warga yang ingin menjadi nasabah bank sampah sampai mendistribusikan sampah itu ke bank sampah induk di Sleman.

Jika biasanya konsep bank sampah adalah para nasabah mengantarkan ’’tabungan’’ mereka ke bank sampah, para pemuda ini memilih untuk jemput bola. ’’Kalau ada warga yang mau diambil, mereka SMS atau telepon, kami ambil,’’ ujar Vika.

Awalnya, di dekat TPS tersedia gerobak sampah milik dusun yang bisa digunakan para pemuda Gardu Action untuk mengambil sampah. Namun, lama-kelamaan gerobak itu pun rusak. 

Saat ini para pemuda hanya mengandalkan motor pribadi mereka untuk digunakan mengambil sampah warga. Saat diterima dari tangan warga, para aktivis Gardu Action mencatat jumlah sampah yang dimasukkan ke buku tabungan dan buku induk. Sesampai di Gardu Action, sampah dipilah antara yang organik dan non-organik. 

Sampah organik yang bisa diolah akan dibuat menjadi kompos. Sedangkan yang sudah tercampur dengan sampah lain dititipkan ke TPS. Adapun sampah non-organik dikumpulkan dan dibawa ke bank sampah induk di Sleman untuk dijual.

’’Harga sampahnya sudah ditentukan bank sampah induk. Kami turunkan dikit harga buat warga untuk bonus karena ada biaya untuk pemilahan. Tenaganya harus banyak,’’ ujar Vika.

Hasil penjualan sampah ke bank induk dicatat dalam buku tabungan dan buku induk. Warga bisa mengambil uang hasil sampah itu setiap tanggal 4 setiap bulan. 

Namun, kebanyakan warga memilih untuk menabung dan menunggu uang hasil sampah itu terkumpul. ’’Kalau memang urgen, bisa diambil sewaktu-waktu,’’ ungkap Vika.

Sebagian kecil sampah warga itu pun dikreasi yang kini banyak menjadi objek selfie dan rekreasi para wisatawan. Menurut Vika, daripada diserang kebosanan karena terus-menerus mengolah sampah, para pemuda di Gardu Action awalnya iseng-iseng membuat spot-spot untuk difoto.

’’Yang paling awal memang yang dekat-dekat pantai. Ternyata ada yang datang. Akhirnya kami perbanyak sampai sekarang,’’ ujarnya. 

Saat ini banyak kreasi para pemuda yang dibangun di sudut-sudut di Gardu Action. Mereka juga menambahnya dengan membangun sebuah kafe sederhana untuk pemasukan bagi Gardu Action.

Pemasukan Gardu Action sendiri, kata Vika, juga hanya dari kafe atau donasi. Demi memacu agar bisa segera membeli operasional bank sampah, saat ini pengunjung yang masuk ke Gardu Action ’’terpaksa’’ dimintai tiket seharga Rp 2.000. 

Vika menyebut uang tiket itu tidak untuk menggaji para anggota pemuda Gardu Action. ’’Sampai sekarang kami pun belum bisa memberi buat teman-teman, mereka sukarela berada di sini,’’ ujarnya. 

Yang juga dia sayangkan, setelah setahun Gardu Action berkiprah, belum ada sedikit pun inisiatif pemerintah setempat untuk membantu. Padahal, dengan kerja sosial mengumpulkan sampah, Gardu Action masih terkendala sarana dan prasarana. Misalnya, gerobak baru untuk mengangkat sampah.

’’Kami sekarang sedang mengumpulkan uang supaya bisa beli minimal motor roda tiga yang punya bak itu. Kalau pakai motor, sulit untuk membawa sampah yang besar,’’ ungkap Vika.

Dengan segala keterbatasan tersebut, Vika dan kawan-kawan toh tak pernah menyerah. Parangtritis jadi lebih bersih dan sedap dipandang. Meski, di antara 25–30 orang yang ikut di Gardu Action, saat ini hanya 13 orang yang benar-benar aktif.

’’Kami memang tidak memaksa karena kami cuma minta kepedulian lingkungannya saja,’’ ujarnya. (*/c5/ttg)

Berita Terkait