Warga Tak Perlu Repot Menyalakan Petromaks Lagi

Warga Tak Perlu Repot Menyalakan Petromaks Lagi

  Rabu, 12 Oktober 2016 09:30
TENAGA SURYA: Ibu-ibu di Kupang kini bisa bercengkerama dengan ditemani sinar lampu bertenaga surya. Masih banyak daerah terpencil yang belum teraliri listrik PLN. Andra nur oktaviani/jawa pos

Berita Terkait

Yayasan Sosial Kopernik di Kupang selama ini dikenal karena keandalannya dalam mengaplikasikan teknologi tepat guna untuk masyarakat terpencil. Juga memberdayakan para perempuan untuk menjadi agen masuknya teknologi ramah lingkungan itu.

ANDRA NUR OKTAVIANI, Kupang

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta

Sehari-hari Tirsha Mariana Boemau bekerja di kantor Yayasan Kopernik di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sudah lebih dari setahun dia membantu bersih-bersih di kantor itu. Nah, suatu hari, saat sedang bersih-bersih itulah, secara tidak sengaja perempuan yang akrab disapa Mama Tirsha tersebut melihat beberapa barang yang akan dipasarkan Kopernik ke desa-desa terpencil di daerahnya.

”Saya lihat barangnya bagus-bagus. Ada lampu tenaga surya, kompor kayu api, dan saringan air higienis,” kata ibu enam anak itu saat ditemui di kediamannya di kawasan Kayu Putih, Kupang, Selasa (4/10).

Karena melihat ketertarikan Mama Tirsha itu, pihak Kopernik lantas menawari perempuan 41 tahun tersebut untuk bergabung dalam program Wonder Woman. Sesuai dengan nama programnya, perempuan menjadi agen utama. Namun, sebelum bergabung, Mama Tirsha diminta untuk mencoba lebih dulu produk-produk Kopernik yang nanti didistribusikan sesuai dengan kebutuhan di daerah  tujuan. Kebetulan sekali, di Kupang, listrik, air, dan kompor hemat energi sangat dibutuhkan. Terutama di daerah-daerah terpencil.

Setelah resmi bergabung dengan program tersebut, Mama Tirsha mengaku bisa merasakan manfaat kompor kayu api dan saringan air produk Kopernik. Dengan kompor kayu api, dia tidak perlu lagi menghambur-hamburkan minyak tanah untuk pengapian. Begitu pula dengan saringan air higienis, dia tidak perlu lagi merebus air sampai mendidih untuk dikonsumsi. 

Dia pun langsung bersemangat masuk-keluar desa untuk promosi. Bukan semata-mata untuk mendapatkan uang komisi. Lebih dari itu, Mama Tirsha ingin membagikan manfaat dari barang-barang aplikatif tersebut.

 ”Saya selalu berusaha agar mereka bisa punya sendiri. Kalau mereka belum ada uang, saya kasih cicilan. Saya ingin mereka merasakan manfaatnya,” tutur Mama Tirsha.

Bukan hanya warga desa di sekitar rumah yang diajak Mama Tirsha untuk mencoba teknologi-teknologi ”modern” tersebut. Dia juga rela mengunjungi desa-desa yang berjarak cukup jauh dari tempat tinggalnya. Waktu tempuhnya mencapai tiga jam. Otomatis, hampir seharian dia harus meninggalkan anak-anaknya di rumah.

”Saya berangkat pagi dengan menggunakan kendaraan umum. Saya bawa barang sekalian promosi. Siapa tahu ada yang mau langsung beli. Sorenya, saya baru pulang,” terangnya.

Untung, anak-anak Mama Tirsha cukup mandiri. Si sulung kini sudah 15 tahun dan bisa mengasuh adik-adik selama bundanya tidak berada di rumah. Awalnya, si bungsu selalu menangis saat Mama Tirsha pergi. Namun, belakangan dia sudah bisa mengerti. 

”Sekarang bungsu saya sudah (berusia, Red) lima tahun. Tahun depan masuk SD. Jadi, dia sudah tidak histeris lagi kalau ditinggal pergi,” tutur perempan asli Timor itu.

Mama Tirsha tidak sendirian. Ada juga Mama Adit yang tidak kalah giat. Setiap hari, saat sore tiba, Mama Adit dan suami berkeliling kampung dengan membawa beberapa produk teknologi ramah lingkungan untuk ditawarkan kepada warga. Dari tempat tinggal di kawasan Batuplat, pasangan suami istri itu mulai bergerak. 

”Minimal, mereka kenal dulu barangnya. Setelah itu, terserah mereka,” kata Mama Adit saat ditemui di kediamannya Selasa (4/10).

Mama Adit mengatakan, kegiatannya memasarkan beragam produk ramah lingkungan itu tidak semata-mata bertujuan mendapatkan keuntungan. Memang, dari penjualan, Mama Adit mendapat untung meskipun tidak besar. Tapi, yang utama, dia ingin membantu masyarakat dengan memudahkan hidup mereka. 

Perempuan bernama asli Agustina Raja itu sebenarnya tergolomg cukup berada. Suaminya, Dwi Istanto, adalah anggota polisi yang bertugas di Polda NTT. Mereka punya rumah dan kendaraan pribadi yang lumayan bagus untuk ukuran warga Kupang.

”Kalau mau cari untung, saya nggak perlu keluar-masuk kampung. Tapi, saya ingin masyarakat di sini melek teknologi ramah lingkungan. Terutama ibu-ibu,” ujar dia. 

Demi bisa menyebarkan manfaat produk-produk  itu, Mama Adit dan suami rela berkendara lebih dari 40 kilometer (km) tanpa kepastian bahwa produknya akan laku. ”Kami sudah putar jauh-jauh, eh yang beli malah tetangga sendiri,” cerita Mama Adit, lantas tertawa.

Kegesitan dan kegigihan Mama Adit dan suami dalam menyebarkan informasi tentang teknologi ramah lingkungan patut diacungi jempol. Mama Adit mengatakan, kegiatan itu juga menjadi terapi yang efektif bagi dirinya. Menurut dia, jika berada di rumah saja tanpa mengerjakan apa-apa, kesehatan fisik dan psikologisnya bisa drop. 

”Kalau kami tidak jalan sore, saya seperti orang gila. Kepikiran terus anak tunggal saya yang meninggal hampir tiga tahun lalu,” ungkap perempuan 53 tahun itu dengan wajah sendu.

Mama Adit melanjutkan, dengan bergabung di program Wonder Woman, dirinya punya kegiatan yang bisa membuat pikiran lebih ringan. Bagi dia, kehilangan Adit, anak semata wayangnya, adalah pukulan yang sangat berat. Kendati sudah hampir tiga tahun lalu, kejadian memilukan tersebut terasa seperti baru kemarin bagi Mama Adit. Pada November 2013, Adit ditemukan tidak bernyawa di pinggir jalan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Adit meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

”Dan (kegiatan, Red) ini jadi terapi buat saya. Tiap hari saya usahakan jalan. Biar tidak gila. Sampai rumah sudah malam, tinggal istirahat,” ujar Mama Adit.

Sang suami yang tidak tega melihat istrinya terus kalut dalam kesedihan pun mendukung penuh kegiatan itu. Malah sang suamilah yang kali pertama memperkenalkan Mama Adit dengan Kopernik. ”Awalnya, saya lihat produk itu di toko. Lalu, tidak sengaja ketemu Pak Rico dari Yayasan Kopernik. Saya bilang sama istri. Dia tertarik,” terang Dwi. 

Wonder Woman merupakan program unggulan Yayasan Sosial Kopernik. Melalui program itu, yayasan ingin memberdayakan para perempuan di daerah terpencil untuk menjadi agen penyebaran teknologi ramah lingkungan. Melalui cara itu, masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan untuk merasakan nikmatnya lampu listrik, manfaat air minum higienis, dan sebagainya. 

Program Officer Kopernik Ananta Hariya mengatakan, sebenarnya masyarakat binaan pihaknya tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Termasuk Kupang. 

”Saya sendiri saat ini bertugas mendampingi 67 ibu-ibu di Bojonegoro dan 45 ibu-ibu di Tuban, Jawa Timur,” ujarnya. Selain di Jawa Timur, Kopernik beroperasi di Aceh, Lombok, Sumba, Kupang, Larantuka, Labuan Bajo, Maumere, dan Lembata.

Ananta menceritakan, kegiatan pemberdayaan ibu-ibu itu berjalan sejak 2012. Memang, soal akses listrik di Jawa Timur, tidak ada masalah. Namun, yang masih sering jadi masalah adalah ketersediaan air bersih. Karena itu, barang multiguna yang dibawa ke kawasan tersebut berupa teknologi pemurnian atau penyaringan air.

Pria asli Solo itu menegaskan, kegiatan utama pihaknya bukan berjualan. ”Kami ingin lebih mendekatkan teknologi ramah lingkungan dengan keluarga yang tinggal di daerah terpencil dan butuh teknologi,” paparnya.

Untuk wilayah Indonesia bagian timur, misalnya, yang dibutuhkan adalah teknologi yang bisa menghadirkan listrik hingga pelosok-pelosok desa. Listriknya juga harus berasal dari sumber energi terbarukan seperti sinar matahari. Sebab, di sejumlah wilayah, jaringan PLN belum masuk.

”Sebelumnya, masyarakat menggunakan lampu petromaks. Tentu tidak baik untuk kesehatan karena asapnya jelek. Untuk menyalakannya juga repot. Tapi, dengan teknologi yang kami bawa itu, warga tinggal memencet sakelar, lampu sudah nyala,” jelasnya. (*/c11/ari)

Berita Terkait