Warga Tak Perlu Pergi 20 Km untuk Beli Bensin

Warga Tak Perlu Pergi 20 Km untuk Beli Bensin

  Sabtu, 17 September 2016 09:30
MINTA DUKUNGAN: Budiyanto di depan dispenser….

Berita Terkait

 
Berkat kreativitas dan kegigihannya, Budiyanto, penjual bensin eceran di Garut, mampu menciptakan mesin SPBU digital. Kini di kota itu mulai menjamur produsen pembuat mesin dispenser SPBU tersebut. Namun, penggunaan nama Pertamini diprotes Pertamina.

  

ILHAM WANCOKO, Garut

DHIMAS GINANJAR, Jakarta

 

Malam itu (8/9) Budiyanto baru saja menyelesaikan satu mesin stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Dia tampak puas melihat hasil uji cobanya. ’’Ini sudah siap kami kirim ke Bandung. Ada yang pesan,’’ tutur Budi –panggilan Budiyanto– saat ditemui di bengkel PD Workshop Barokah Energi miliknya. Bengkel pembuatan mesin SPBU digital itu terletak di Jalan Kemojang, Samarang, Garut, Jawa Barat. Tampak di showroom enam unit mesin SPBU yang juga siap digunakan.

Budi sejatinya dulu penjual bensin eceran. Dia mengaku sulit mencari pekerjaan selepas lulus kuliah dari Fakultas Ekonomi Universitas Garut pada 2004. Untuk mengisi waktu, dia lalu berjualan bensin yang dikemas dengan botol bekas. Dia kulakan bensin di SPBU satu-satunya di Garut.

”Pada 2004 itu hanya ada satu SPBU di kota ini. Itu sangat menyulitkan masyarakat yang tinggal di pedesaan,” ujar pria 32 tahun tersebut.

Dari keprihatinan itulah, terbetik gagasan untuk membuat SPBU sendiri di desanya. Pada 2006 Budi mulai mencari mesin SPBU bekas yang masih bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan idenya tersebut. Dia akhirnya mendapatkan satu mesin bekas dari temannya di Bandung. ”Namanya juga bekas, tentu kondisinya tidak bagus,” tuturnya.

Yang juga membuat Budi masygul, mesin bekas itu juga sudah rusak. Berkali-kali diperbaiki, rusak lagi. Padahal, untuk memperbaiki, dia mesti mengundang tukang servis dari Bandung. Itu berarti biaya yang tidak sedikit.

Tak ingin terus mengeluarkan biaya, Budi lalu belajar cara memperbaiki mesin SPBU-nya yang rusak itu. Lama-lama dia hafal apa yang harus dilakukan ketika SPBU ngadat sehingga tidak perlu lagi mengundang tukang servis dari Bandung.

Setelah merasa menguasai kerusakan mesin, Budi tertantang untuk bereksperimen dengan membeli satu mesin SPBU bekas lagi yang juga rusak. ’’Saya pereteli semua mesinnya. Saya ingin tahu komponennya,” kenang pria kelahiran Garut, 23 Desember 1984, itu.

Ada beberapa komponen yang harus dia kuasai untuk bisa membuat mesin SPBU tersebut kembali hidup. Di antaranya, pompa roda gigi (gear pump), alat ukur (assy meter), dinamo pompa, dan alat pengerem (solenoid valve). ”Kalau pemrogramannya, saya belajar dari teman,” ujarnya.

Agar benar-benar menguasai komponen mesin itu, Budi membutuhkan tiga unit mesin SPBU bekas sebagai kelinci percobaan. Tiga mesin tersebut dia bongkar-pasang untuk mengetahui cara memperbaiki, bahkan membuatnya.

’’Dari eksperimen tiga mesin SPBU bekas itu, saya habis sekitar Rp 100 juta,’’ ungkapnya.

Akhirnya, pada awal 2007 Budi mulai memberanikan diri membuka usaha pembuatan mesin SPBU. Dia menjamin mesin buatannya sama persis dengan mesin SPBU impor dari Jepang dan Tiongkok.

Selain berjualan mesin, Budi masih menjual bensin eceran. Akibatnya, dia sering berurusan dengan polisi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memerkarakan usaha jualan bensin eceran dengan mesin SPBU buatannya.

Padahal, saat itu jumlah SPBU di Garut masih terbatas. Untuk bisa mendapatkan bensin, warga di desa Budi harus ke pusat kota yang berjarak lebih dari 20 km. ’’Saya hanya bermaksud membantu masyarakat dengan mendirikan SPBU di desa. Tapi, kok seperti tidak didukung. Bukan hanya polisi, orang-orang LSM juga sering menakut-nakuti,’’ tuturnya.

Selama membuka usaha pembuatan mesin SPBU, beberapa karyawan Budi keluar masuk. Yang keluar kemudian mendirikan usaha pembuatan mesin SPBU sendiri. Kini sedikitnya ada 15 produsen mesin SPBU di Garut. Bagusnya, mereka tetap rukun, bahkan kemudian membuat paguyuban yang diberi nama POM Mini atau ada yang menyebut Pertamini.

Dampak lainnya, sekarang semakin banyak penjual bensin eceran yang menggunakan mesin SPBU digital di Garut. Dari pantauan Jawa Pos, di sepanjang Jalan Kamojang yang mengarah ke tempat tinggal Budi saja ada 30 penjual.

’’Jadi, sekarang produsen mesin SPBU-nya menjamur, penjual bensinnya membanjir,’’ paparnya.

Bagaimana soal keamanannya? Budi menjamin mesin produksinya memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Ada sistem tombol darurat yang bisa menghentikan aliran bahan bakar bila terjadi kebakaran. ’’Tapi, biasanya pembeli meminta mesin yang sederhana saja, disesuaikan dengan kemampuan keuangannya,’’ katanya.

Soal akurasi takaran liternya, Budi juga berani menjamin sesuai dengan standar ukuran yang berlaku di mesin-mesin SPBU pada umumnya. ’’Biasanya konsumen meminta yang harga mesinnya tidak mahal. Soal akurasinya, kami upayakan setepat-tepatnya,’’ jelasnya.

Budi sempat ingin mematenkan mesin SPBU buatannya. Tapi, karena kesibukan, dia belum mengurusnya hingga kini. Termasuk ke Badan Metrologi untuk mengetes akurasi takaran literannya.

Menurut dia, sebagai usaha kecil dan menengah (UKM), selama ini usahanya belum mendapat dukungan apa pun dari pemerintah. Padahal, masyarakat Garut telah menunjukkan kreativitasnya dengan membuat mesin SPBU sendiri. ’’Kami ini menggencarkan produk lokal, bukan buatan asing. Tapi, selama ini pemerintah diam saja,’’ keluhnya.

Yang malah terjadi, kata Budi, PT Pertamina memprotes penggunaan nama Pertamini untuk mesin SPBU dan usaha penjualan bahan bakar yang dilakukan masyarakat Garut. ’’Ya, beberapa waktu lalu Pertamina melarang penggunaan nama itu,’’ ujarnya.

Akhirnya, Budi dan kawan-kawan memutuskan untuk menggunakan nama POM Mini agar aman dari gugatan. ’’Kami sebenarnya ingin dibantu (Pertamina, Red). Misalnya, bagaimana menyempurnakan mesin itu dan bagaimana memasarkannya,’’ tuturnya.

Sementara itu, mengenai munculnya POM-POM Mini di Garut, Dirjen Migas Kementerian ESDM Wiratmaja Puja mengapresiasi kreativitas Budi dkk. Menurut dia, kreativitas warga Garut itu perlu didukung. Meski demikian, dia berharap Budi tidak sembarangan dalam menjual dispenser digitalnya.

’’BBM itu barang berbahaya dan mudah meledak. Maka, semua peralatan harus lolos uji coba dan mendapat sertifikat keselamatan,’’ jelasnya.

Wiratmaja mendorong agar Budi segera meminta pengujian atas alat buatannya ke Ditjen Migas maupun Badan Metrologi untuk kalibarasi takaran. Kalau semua lolos, Ditjen Migas akan mengeluarkan sertifikat keselamatan. ’’Jangan khawatir, dijamin tidak ada biaya di Ditjen Migas,’’ tegasnya.

Apresiasi serupa datang dari Direktur Pemasaran PT Pertamina Ahmad Bambang. Dia menyebutkan, perseroan membuka peluang untuk mengajak Budi bekerja sama dalam menyalurkan BBM di Garut. Dispenser BBM karya Budi akan digunakan untuk SPBU mini atau subpenyalur Pertamina.

Namun, untuk itu, dia menekankan pentingnya sertifikasi keamanan alatnya. ’’Meski untuk daerah terpencil, standar safety untuk SPBU tetap sama,’’ katanya.

VP Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menambahkan, sebenarnya untuk mengoperasikan alat seperti itu, perlu ada izin niaga dan distribusi BBM dari Ditjen Migas. Karena itu, dia mendorong agar Budi melengkapi alatnya dengan izin resmi supaya bisa beroperasi dengan baik.

Jika semua izin didapat, bukan tidak mungkin dispenser digital miliknya bisa dipakai berjualan secara resmi. ’’Harus cek pada regulator yang keluarkan izin dan sertifikasinya. Termasuk dari Badan Metrologi dan Kementerian ESDM,’’ tandas Wianda. (*/c10/ari)

Berita Terkait