Warga Keluhkan Jalan Becek

Warga Keluhkan Jalan Becek

  Selasa, 9 February 2016 09:41
AKSES JALAN: Warga bersusah payah mengangkut kebutuhan hidup seperti elpiji saat melintasi jalan yang rusak akibat belum mengalami pengerasan di Desa Durian Kecamatan Ambawang,Kubu Raya.Jalan tersebut menghubungkan empat desa sebagai akses utama. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

SUNGAI RAYA - Kondisi infrasruktur jalan di Kabupaten Kubu Raya terutama wilayah pedesaan sangat memprihatikan. Hancurnya jalan ketika musim penghujan berdampak terhadap berbagai aktifitas masyarakat.

Salah satu warga di Dusun Limau, Desa Puguk, Kecamatan Sungai Ambawang Ahmad Nisob mengungkapkan kondisi jalan di tempatnya semakin hari semakin hancur. Terutama saat musim penghujan seperti sekarang, waktu tempuh untuk sampai ke kota menjadi jauh lebih lama.Bahkan hal ini juga berdampak pada usaha penyeberangan antar desa di Sungai Ambawang miliknya. Pendapatan menurun drastis akibat masyarakat yang melintas berkurang. “Semenjak jalan di bagian seberang dijumbo sangat becek, warga memilih jalan lain, sudah tiga bulan penyeberangan hampir lumpuh,” katanya.

Padahal usaha penyeberangan itu merupakan satu-satunya penopang hidup bagi dia dan keluarga. Di tempatnya, ongkos menyeberang dikenakan Rp5 ribu untuk sepeda motor plus orang, jika hanya orang PP Rp5 ribu. “Dulu pendapatan per hari bisa lebih Rp100 ribu, minimalnya Rp60 ribu, sekarang rata-rata hanya Rp30 ribu, malah pernah hanya dapat Rp15 ribu saja, belum dibagi dengan tukang jaga,” keluhnya.

Selain aktifitas ekonomi sehari-hari, proses mengajar dan belajar sekolah juga kerap terganggu karena jalan becek. Apalagi sebagian guru-guru, seperti beberapa SD di Kecamatan Sungai Ambawang menetap di Kota Pontianak.Kepala SD 04 di Dusun Limau, Desa Puguk, Kecamatan Sungai Ambawang, Husin (48 tahun) mengatakan, keberadaan desa yang dilihat dari segi geografis justru tidak begitu jauh dari Ibu Kota Kalbar Pontianak tentu menjadi keprihatinan. Besar harapannya agar kondisi jalan-jalan ini ada perbaikan.

Dia dan guru-guru yang lain sudah akrab merasakan susahnya mengajar saat musim hujan. Dalam setahun dikatakan dia, jalan paling enak untuk dilalui paling hanya tiga bulan. Saat musim betul-betul kemarau. "Masuk musim penghujan seperti sekarang, sangat sulit," ujarnya.

Jalanan yang licin juga mengancam keselamatan berkendara, meski sudah berhati-hati, tak jarang Husin tergelincir dari sepeda motornya. Paling parah dia pernah mengalami patah tulang tangan akibat jatuh dan tertimpa sepeda motor. Belum lagi dia dan para pengajar lainnya harus mengeluarkan ongkos lebih untuk sampai ke sekolah. Mulai dari membantu pembiayaan perbaikan jalan secara sederhana dengan kayu atau papan, sampai harus membayar warga yang menjaga jalan dan siap membantu jika motor terjebak dikubangan lumpur.“Di sana disiapkan kotak infak, mau tidak mau harus menyumbang, untuk sampai ke sekolah mungkin ada sekitar lima tempat yang seperti itu,” pungkasnya.(bar)

Berita Terkait