Warga Kalbar Demo Tangani Kabut Asap di Belanda

Warga Kalbar Demo Tangani Kabut Asap di Belanda

  Senin, 3 Oktober 2016 10:43

Berita Terkait

Perjuangan untuk menuntut tanggungjawab dari peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang dilakukan sebagian perusahaan perkebunan sawit tidak hanya dilakukan di Indonesia. Bahkan, dua warga Kalimantan Barat yang juga merupakan korban dari dampak bencana ekologis itu menyuarakannya hingga ke Belanda.  Mereka adalah Adi Prabowo (21) dan Nilus Kasmi (43). Warga Kabupaten Kubu Raya dan Ketapang. 

            Keduanya bersama delapan aktivis Greenpeace menginjakkan kaki di Rotterdam, Belanda setelah kapal Esperanza milik Greenpeace menambat di belakang penyulingan minyak milik IOI, Kamis (29/9).

            Meskipun suhu udara saat itu sangat dingin, 8 derajat celsius, namun misi itu tak boleh gagal. Yakni memblokade masuknya minyak sawit ke kilang IOI, salah satu perusahaan sawit terbesar asal Malaysia.

            Aksi berisiko itu bukan tanpa alasan. Menurut Adi Bowo, kebakaran hutan dan lahan di Kalbar yang terjadi setiap tahun telah menghancurkan hutan gambut dan mendorong populasi orangutan menuju kepunahan.

            “IOI membangun kebun dengan cara mengeringkan gambut yang membuatnya mudah terbakar yang menghancurkan hutan habitat orangutan,” kata pria yang biasa disapa Bowo itu saat dihubungi dari Pontianak. Bowo saat ini masih berada di Belanda.

            Menurutnya, kebakaran gambut tahun lalu telah membuat 43 juta orang Indonesia terpapar asap, termasuk dirinya dan Nilus. 

            Sebuah studi terbaru dari Universitas Harvard dan Universitas Columbia memperkirakan kematian dini terhadap 100.300 jiwa di tiga negara Asia Tenggara, dan 91 ribu di antaranya di Indonesia.

            Menurut Bowo, warga dunia harus tahu biaya kemanusiaan oleh CPO yang terkandung di dalam produk yang mereka konsumsi sehari-sehari. “IOI harus berhenti menghancurkan hutan gambut Indonesia,” kata Bowo.

            Mereka mendesak IOI Group untuk memutus kontrak dengan perusahaan-perusahaan yang diduga menyuplai CPO dengan melakukan pembakaran hutan dan lahan gambut.

"Kita ingin memberi tahu kepada dunia bahwa kami (saya dan Nilus) adalah salah satu korban yang terdampak dari asap akibat kebakaran hutan dan gambut perusahaan yang nakal seperti IOI dan perusahaan-perusahaan yang menyuplai IOI. Tidak hanya kebakaran dan perusakan hutan dan gambut, tapi juga pelanggaran hak asasi manusia dan eksploitasi buruh," kata Bowo.

            Sebelum berangkat ke Rotterdam, ia bersama 20 relawan pemadam yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, tergabung dalam tim pencegah dan pemadaman kebakaran yang dibentuk Greenpeace Indonesia.

            Bukan saja dilatih bagaimana memadamkan api, namun kata Bowo, jauh lebih penting lagi juga dilatih bagaimana mencegah kebakaran.

            "Kami melakukannya karena kami ingin mengakhiri era kebakaran dan kabut asap di Indonesia," terang warga Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya itu.

            Menurutnya pekerjaan memadamkan api diperlukan, tapi memastikan perlindungan hutan dan gambut secara total adalah juga sangat penting serta penegakan hukum untuk perusahaan-perusahaan yang tidak taat ini juga harus dilakukan.

            Pemerintah tidak seharusnya mengalokasikan dana ratusan miliar rupiah dan tidak seharusnya jutaan orang yang terpapar hanya karena perusahaan perkebunan seperti IOI bebas merusak dan menghancurkan.

            Sementara Nilus, merupakan warga Kabupaten Ketapang, tempat di mana IOI memiliki kebun sawit yang dituding merusak gambut.

Sebelumnya, Organisasi Greenpeace menuding perusahaan raksasa sawit asal Malaysia sengaja mengeringkan lahan gambut di Kalimantan Barat untuk ditanami kembali, meski pemerintah Indonesia tak lagi memberi izin baru buat pengelolaan di lahan gambut.

            Tudingan Greenpeace didasari investigasi di lahan konsesi PT Bumi Sawit Sejahtera, anak perusahaan IOI Group, yang terletak di Ketapang, Kalimantan Barat.

            Dalam investigasi tersebut, Greenpeace mendokumentasikan pembukaan kanal-kanal serta pengeringan lahan gambut.

            Jika lahan gambut mengering, kebakaran sangat mudah terjadi. Greenpeace kemudian merujuk kebakaran yang terjadi di kawasan itu dan sekitarnya pada tahun 2013, 2014, dan 2015.

            Greenpeace juga mengaku menemukan bibit sawit di area gambut yang sudah terbakar. Bibit-bibit itu, menurut sumber Greenpeace di lokasi, siap ditanam apabila tanah gambut telah mengering.

            IOI adalah pemegang konsesi terbesar di kawasan gambut Ketapang seluas puluhan ribu hektare. Perusahaan itu mengendalikan empat konsesi sawit, melalui PT BSS, PT SKS, PT BNS, dan PT KPAM. Kecuali PT KPAM, perusahaan Singapura, Bumitama, memiliki saham minoritas sebesar 28% di tiga perusahaan. (arf)

Berita Terkait