Warga Heboh Sambaran Petir di Dusun Bagasing, Sukadana

Warga Heboh Sambaran Petir di Dusun Bagasing, Sukadana

  Senin, 18 January 2016 08:59
SOBEK: Baju yang dikenakan korban ketika tersambar oleh petir tampak sobek hingga, hingga menewaskan korban. DANANG PARSETYO/Pontianak Post.

Berita Terkait

Sabli(42) warga Dusun Bagasing, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara menghembuskan nafas terakir setelah tersambar petir sepulang memancing di sawah,Sabtu(16/1) pukul 05.00 wib dengan posisi tergeletak. Laporan Danang Prasetyo, Sukadana

MALANG tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih. Saat itu, Sabli, isteri dan anaknya baru saja pulang dari memancing di sekitar persawahan. Sabtu (16/1) sore itu, kondisi cuaca begitu ekstrim.Awan gelap pekat bergantung di langit, dan dentuman suara petir silih berganti. Saat itu, Sabli beserta istri dan seorang anaknya sedang berada di di dalam pondok persawahan yang dibuat oleh Sabli.

Tapi, Sabli tetap nekad. Dia mengajak keduanya untuk pulang. Melwati pematang sawah, saat hujan mengguyur, tiba tiba selarik kilat menyambar Sabli yang berjalan di belakang anak dan isteri, di pematang sawah tersebut. Sabli rebah dengan kondisi memprihatinkan. Baju dan celana jins yang dikenakannya robek di sana sini.Peristiwa itu jelas sekali terlihat di depan mata sang isteri, Neneng (35). Dia panik, apalagi melihat kondisi suami yang cukup mengenaskan. Badan terbakar, bahkan terlihat asap.

Pontianak Post, menyambangi kediamannya di Dusun Bagasing, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara, Minggu (17/1) kemarin. Neneng pun bercerita. Awalnya, Sabtu(16/1) pagi, Sabli pamit dari rumah untuk pergi ke sawah. Namun hingga siang hari tak kunjung pulang.Tentunya, rasa wasa-was dirasakan Neneng. Kemudian, Neneng pun berinisiatif menyusul Sabli di sawah. Meski, jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Setibanya di sawah, ternyata Sabli asik memperbaiki pondok yang berada di pematang sawah.

Neneng pun meminta Sabli untuk pulang ke rumah guna beristirahat dan makan.“Mas Sabli, paginya pamit ke sawah ternyata hingga siang hari tidak pulang-pulang. Ternyata dia asik membetulkan pondok. Setelah itu, akhirnya Sabli pun pulang kerumah untuk beristirahat, setelah dijemput oleh istrinya,” terang Mistari(61), yang merupakan paman Sabli, kepada Pontianak Post, Minggu(17/1) dikediamannya.

Almarhum dikenal sebagai sosok yang baik, ramah dan mudah bergaul di lingkungan masyarakat. Almarhum  pun telah dikebumikan Minggu(17/1). Sabli meninggalkan seorang isteri dan dua orang anak.Mistari kembali menjelaskan, memang untuk kesehariannya dia sebagai petani yang telah menjadi sumber mata pencaharian bagi kelurganya. Saat itu, sambung Mistari, setelah pulang kerumah untuk beristirahat dan makan siang, Sabli pun kembali ke sawah, mengajak anak beserta istrinya untuk memancing ikan, dengan menggunakan motor.

Ia menambahkan, berdasarkan keterangan dari anak Sabli, Ardiansyah (9) yang ikut memancing dan turut menyaksikan ayahnya tersambar petir, rampun memancing. Saat itu, Sabli dan istri beserta anaknya sudah berniat untuk pulang kerumah.Di dusun Bagasing , sudah tiga kali ada orang yang tersambar petir. Dan ini kejadian ketiga kalinya. Mugkin daerah ini dikarenakan dataran tinggi, jadi sering kali petir menyambar. Apa lagi pada hari yang sama pun, Sabtu(16/1) terdapat pohon durian tersambar oleh petir, hingga mengeluarkan api.

“Sabli berniat untuk pulang kerumah. Padahal saat itu, sedang hujan. Ketika turun hujan sore itu Sabli beserta anak dan istrinya sedang berteduh di pondok yang sudah diperbiki sebelumnya. Namun tak berapa lama berteduh di pondok, Sabli malah ingin pulang dan mengajak serta anak istrinya. Dalam perjalanan pulang itulah, Sabli tersabar petir, disaksikan istri dan anknya,” terang Mistari.Pada saat perjalanan pulang, yang harus melewati pematang sawah, sambung Mistari menjelaskan. Posisi Sabli berada dibelakang, istrinya di tengah dan anaknya berada paling depan. Tidak jauh dari pondok itulah petir menyambar.

“Posisi mereka bertiga saat pulang tidak begitu jauh jaraknya,”ucapnya.Sementara itu, Ardiansyah(9) yang ikut memancing bersama ibu dan ayahnya.“Sebelum meniggalkan pondok, ayah sempat berpesan kepada Ibu saya, untuk menjaga kedua anak kita baik-baik. Dan ibu pun bertanya kenapa bicara seperti itu,” ujar bocah ini lagi. Sayang, saat itu tak ada jawaban yang keluar dari almarhum. *

Berita Terkait