Warga Desa Ini Bisnis Olahan Ular, Kodok dan Cicak

Warga Desa Ini Bisnis Olahan Ular, Kodok dan Cicak

  Kamis, 29 September 2016 20:23
FOTO Okri Riyana/Radar Cirebon/JawaPos.com

Berita Terkait

Tiga jenis hewan melata ular, katak, dan cicak begitu populer bagi warga Desa Kertasura, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Ratusan warga di desa itu kini aktif menjalani bisnis rumahan pengolahan hewan tersebut.

Ada yang jadi pemburu (pengobor), pekerja borongan, penyamak kulit ular, hingga pemotong hewan. Menurut Yono, salah seorang pengepul kodok di Kertasura, ular-ular yang diolah kebanyakan merupakan kiriman dari para pengobor luar dearah seperti Karawang, Indramayu, bahkan sampai datang dari daerah Sumatera.

“Kalau dari Cirebon sudah tidak ada, ngambilnya dari Karawang sampai Sumatera. Ada juga yang dari Indramayu,” ucapnya kepada Radar Cirebon (Jawa Pos Group), Selasa (20/9).

Setelah diolah, kulit ular kering dijual dengan harga bervariasi. Untuk ukuran kecil bisa dijual dengan harga Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram (kg). Tapi jika  ular jenis sanca bisa dijual Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per kg.

“Ya kadang tergantung kualitas bahan juga,” terang Jamhari.

Hal itu juga dikatakan Tasuni, warga Kertasura. Tasuni biasa menerima ular dari warga luar desanya. “Ya saya beli dari orang yang bawa. Kebanyakan ular kebon. Saya olah, disayat, buang jeroannya dan masukin ke oven selama satu malam,” ujar Tasuni.

Meski perempuan, Tasuni mengaku tak takut, apalagi merasa jijik. Tangannya bahkan dengan lancar menata ular-ular yang akan dimasukkan ke oven atau mesin pengering. “Ya gimana, ini sudah mata pencaharian,”  tambahnya.

Ular yang dimasukkan ke oven, besok paginya dikeluarkan dan dijemur. Dia mengatakan penjemuran kulit ular tergantung cuaca. Kalau panas terik bisa sehari. “Kalau mendung ya lebih dari sehari. Setelah kering, kulit ular dijual ke pengepul. Oleh pengepul dijual ke luar negeri,” katanya.

Selain ular, ada juga industri pengolahan kodok. Kodok diambil dagingnya. Menurut salah seorang pengepul kodok, Yono, setiap hari dia bisa mengolah katak sebanyak 80 kilogram hingga satu ton. Jumlah yang cukup fantastis.

“Kalau kita di sini mengolah saja, barang (kodok, red) dari pengobor terutama dari Karawang dan Indramyu. Kalau lagi banyak kiriman bisa sampai satu ton,” sebutnya.

Harga kodok dari pengobor sekitar Rp19 ribu per kg. Harga jual daging kodok bisa mencapai Rp40 ribu per kg. Yono menyebutkan daging kodok biasanya disimpan dalam lemari pendingin untuk diawetkan kemudian dikirimkan ke Surabaya.

“Kita jual ke bos. Dari bos itu dijual lagi ke Surabaya. Dari Surabaya katanya sih diekspor ke China,” tuturnya.  

Namanya bisnis, ada untung dan rugi. Yono,  menyebutkan kadang kala hasil olahan daging kodok tidak diterima karena tidak sesuai standar. “Bisa rugi juga, karena ada sortirannya ketat. Terutama ukuran kodoknya, kadang tidak sesuai,” ucapnya.

Pria yang juga berbisnis ikan lele ini mengaku hanya sampingan mengerjakan bisnis kodok. Dia mengatakan terlalu berisiko kalau hanya menggantung dari bisnis pengolahan kodok.

“Kalau kodok sewaktu-waktu (ramainya, red). Kadang kala kalau lagi kosong kita tidak produksi,” katanya.

Hasil tangkapan kodok memang bergantung musim. Biasanya kalau musim hujan, hasil tangkapan dari pengobor bisa banyak. Sementara untuk musim kemarau sedikit berkurang.(jamal suteja/yuz/JPG)

Berita Terkait