Warga Adang Tim Pemburu Hotspot

Warga Adang Tim Pemburu Hotspot

  Minggu, 27 March 2016 09:46
KONSOLIDASI: Tim Gabungan Peleton Patroli Desa saat persiapan sebelum memburu titik api, di Parit Kodim melakukan konsolidasi.‎ ISTIMEWA

Berita Terkait

PONTIANAK-Tim Gabungan pemburu hotspot (titik api kebakaran lahan) yang terdiri dari Polri, TNI dan Manggala Agni diadang sejumlah orang  yang diduga melakukan pembakaran lahan di kawasan Parit Kodim, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (26/3).

Berdasarkan informasi yang diterima Pontianak Post, perlawanan ini berawal dari adanya isu yang diterima oleh kelompok tani Parit Kodim bahwa ada Tim Gabungan yang turun menuju lokasi untuk melakukan penangkapan terhadap pembakar lahan.

Tim yang baru berjalan menuju lokasi di Parit Kodim, tiba-tiba diadang oleh puluhan warga dari kelompok tani yang sedang membakar lahan. "Saat kami akan meluncur ke lokasi, kami dihadang sejumlah orang. Kira-kira sebanyak 30 orang," kata Direktur Binmas Polda Kalbar Kombes Pol Suhadi.

Setelah dilakukan negosiasi  yang cukup alot dan diberikan pemahaman  tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan, akhirnya situasi mereda. Tim terpadu pun berhasil masuk menuju lokasi titik api untuk melakukan memadamkan api bersama warga lainnya.

Tim terpadu beranggotakan 52 orang yang terdiri dari unsur Polri 28 personel, unsur TNI sebanyak 13 orang dan tujuh orang dari manggala Agni serta empat orang Masyarakat Peduli Api (MPA).  

Tim berangkat ke lokasi menggunakan 32 sepeda motor dan dua mobil. Tim dibagi ke dalam enam kelompok. Masing-masing kelompok melakukan pengecekan di beberapa lokasi, diantaranya  Parit To Om, Parit Delima,  Parit Skodim, Parit Buloh, Parit Seribu, dan Parit Swadaya.

"Setiap  tim beranggotakan tujuh orang, dimana lima tim tidak menemukan titik api, namun satu tim melihat dari tepi jalan ada titik api," lanjutnya.

Akhirnya tim kembali konsolidasi ke posko untuk meminta bantuan tenaga dan alat pemadaman. Setelah itu, tim berangkat menuju sasaran di titik api Parit ‎Kodim. Belum sampai di lokasi kebakaran, tim dihadang oleh pembakar lahan.

"Kelompok tani pembakar lahan sempat bersitegang. Mereka menyampaikan bahwa membakar lahan kurang dari dua hektare, kenapa dilarang dan apa solusi yang ditawarkan pemerintah supaya masyarakat tidak lagi membakar lahan dalam mengolah tanah," katanya menirukan tuntutan masyarakat.

Solusi yang ditawarkan peleton patroli desa yang tergabung dalam tim  adalah berupa rekayasa teknologi pertanian Tricodherma yang bisa membuat rumput dan ranting cepat membusuk sehingga dapat menjadi pupuk tanpa dibakar.

Karena yang ahli di bidang pembuatan Tricodherma adalah dari Dinas Pertanian,maka tim gabungan peleton patroli desa akan datang kembali menjumpai para kelompok tani untuk memberikan solusi bertani yang ramah lingkungan tanpa harus dengan membakar.

Sementara itu Ketua Tani, Saiman yang membawahi 300  penggarap di Parit Swadaya, berencana akan membawa aspirasi warganya ke DPRD Kubu Raya. Mereka akan meminta solusi dari pemerintah terkait pengolahan lahan tanpa bakar. 

"Usai melakukan pemadaman di Parit Kodim, Tim Gabungan menyusuri parit Sarim desa Punggur Besar. Tim memantau lokasi yang sebelumnya terbakar, ternyata menyala kembali tetapi akhirnya api bisa dipadamkam," jelas Suhadi.

Selain itu, tim gabungan juga melakukan interogasi terhadap pemilik lahan pertanian atas nama Yacub dan Maruki. Setelah diberikan pemahaman, keduanya menyadari kesalahan dan mereka kemudian diminta untuk membuat pernyataan agar tidak lagi melakukan pembakaran lahan. 

"Kendala yang dihadapi tim gabungan adalah lokasi kebakaran sulit dijangkau, sarana pemadaman yang sangat minim dan kurangnya sosialisasi soal rekayasa teknologi pertanian kepada para kelompok tani," pungkasnya. (arf)

Berita Terkait