WAKTU

WAKTU

  Selasa, 17 May 2016 10:25   482

Oleh: Dedah Kuslinah, ST

BETAPA  mirisnya melihat bumi pertiwi yang acak kadut.  Maksiat dimana – mana, korupsi menjadi trendy dan menggurita. Sesungguhnya siapa saja yang dikuasai oleh ambisi dunia, cinta harta dan kedudukan ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil.

Rindu sosok Buya Hamka yang begitu gigih mengawal pemerintah agar berada di jalan yang benar sehingga harus menerima dinginnya penjara.  Andai ulama di bumi pertiwi cerewet membenarkan umat, cerewet menasihati DPR, cerewet mengkritik dan membimbing pemerintah, cerewet menyerukan untuk kembali melanjutkan kehidupan Islam dengan penerapan syariah secara kaffah, meski akan mengalami berbagai macam penyiksaan, penjara, bahkan dibunuh, tapi itulah jihad yang paling besar, yaitu dengan berkata yang benar di depan penguasa yang dzalim, 

Masih banyak waktu, kalimat klasik yang melenakan dan menunjukkan keenganan dalam melakukan perubahan.  Padahal sesungguhnya kita hidup di dunia ini kecuali hanyalah sebentar saja. Allah SWT berfirman dalam Qur’an surat Al Ma’aarij (70) : 4 “ Malaikat – malaikat dan jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun “ .  Dan Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “ Tidak seorangpun pemilik simpanan yang tidak menunaikan haknya (mengeluarkan hak harta) tersebut untuk di zakatkan kecuali Allah akan menjadikannya lempengan – lempengan timah yang dipanaskan di neraka jahanam, kemudian kening dan dahi serta punggungnya di setrika dengannya hingga Allah SWT berkenan menetapkan keputusan diantara hamba – hambaNya, pada hari yang lamanya mencapai lima puluh ribu tahun yang kalian perhitungkan (berdasarkan tahun dunia).  Baru setelah itu ia akan melihat jalannya, mungkin ke surga dan mungkin juga ke neraka”. (HR Ahmad 15/288).

Sejenak untuk direnungkan, bila satu hari akhirat sama dengan lima puluh ribu tahun dunia, satu jam akhirat berarti 2083 th dunia (50.000 th / 24 jam). Jika kita di beri kesempatan sampai berumur  60 tahun, dengan demikian hidup kita hanya 0,03 jam (60 th / 2083th) atau 1,72 menit (0,03 x 60 menit).  Sungguh, waktu yang sangat singkat dalam menjalani kehidupan ini,

Dengan keterbatasan waktu, tenaga dan biaya yang kita punya dalam hidup di dunia ini, sepatutnya kita mencari amalan yang bisa diandalkan untuk menyelamatkan hidup kita di akherat kelak. Alangkah bijaknya jika nikmat waktu yang Allah berikan dimanfaatkan untuk amal sholeh, perjuangan amar ma’ruf nahi munkar, dan tidak  menyia- nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, sebelum terjadi penyesalan karena ajal telah menjemput, sedangkan datangnya kematian tanpa pemberitahuan.

Karena berpacu dengan waktu, tentunya mengharapkan amal yang bisa dijadikan investasi untuk hari esok.  Dan amal yang berpotensi adalah amal jaariyah, yaitu shadaqah jaariyah, doa anak sholeh dan ilmu yang bermanfaat.  Shadaqah jaariyah berkaitan dengan kemampuan finansial.  Sedangkan untuk mencetak anak yang sholeh, direzim sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan negara, tentunya sangat berat,  Karena peraturan yang diterapkan bertolak belakang dengan peraturan dari Sang pemilik Jiwa, paham kebebasan yang telah mengakar di masyarakat dan kebijakan ekonomi kapitalisme yang merupakan cerminan dari hukum rimba, merupakan faktor yang bertentangan dengan sifat sholeh dan ketaqwaan.  Adapun ilmu bermanfaat berdasarkan sabda Rasulullah saw “ Barang siapa yang mengajak pada petunjuk, maka baginya adalah pahala orang yang mengikuti ajakannya, tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak pada kesesatan, maka baginya menanggung dosa seperti dosanya orang – orang yang mengikuti ajakannya itu, tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka itu” (HR Muslim).  Dengan demikian ilmu yang bermanfaat adalah mengajak atau memberi petunjuk kepada orang lain agar memahami islam  dan mau beramal dengan amalan islam secara benar, mendakwahkan islam, juga upaya untuk memperbanyak dan mencetak kader dakwah.

Tingkatan dakwah yang tertinggi yaitu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa secara berjamaah agar penguasa mau menerapkan syariah islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.  Rasulullah saw bersabda “ Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seseorang yang berdiri menghadap pemimpin yang dzalim untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepadanya, lalu penguasa itupun membunuhnya” (HR. Al Hakim).

Saatnya umat bangkit, untuk melanjutkan kehidupan islam dan mencampakan system sekularisme kapitalisme yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah rahmatan lil alamin yang mampu menjaga seluruh aspek kehidupan manusia tanpa ada perbedaan sedikitpun dalam naungan khilafah islam.  Rahmatan lil alamin hanya bisa dicapai dengan Penerapan syariah islam secara kaffah. Syariah secara kaffah hanya bisa tegak oleh khilafah islamiyah.  Tanpa khilafah bagaimana caranya negeri ini menerapkan hukum – hukum dan syariah Allah? Kita di hisab berdasarkan hukum Allah SWT. Kemudian, tanpa khilafah bisakah kita mendapatkan keberkahan hidup?  Bumi pertiwi milik Allah, sepatutnya diatur oleh peraturan dari Sang Pemilik Bumi, Semoga Muktamar Tokoh dan Umat mampu menghilangkan kecurigaan, kekhawatiran, keraguan ataupun kebingungan semua pihak terhadap ide penerapan syariah dan khilafah islam. (**)

Wallahu a’lam bi ash – shawab