Wakil Rakyat Ingin Pemerintah Bangun SLB Negeri

Wakil Rakyat Ingin Pemerintah Bangun SLB Negeri

  Kamis, 7 April 2016 09:10
UJIAN: Siswa SMALB-B Dharma Asih mengikuti ujian nasional. MIRZA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Pelaksanaan ujian nasional di SMALB-B Dharma Asih Pontianak usai dilaksanakan. Selama tiga hari pelaksanaan ujian tak berkendala. Tak banyak harapan para pendidik di sekolah itu. Mereka berharap, empat siswa tuna rungu dapat lulus ujian, dan kelak dapat bekerja seperti anak normal.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

BEL tanda waktu pengerjaan soal ujian 15 menit lagi akan berbunyi, tanda ujian berakhir. Di ruang lantai dua, digunakan panitia Ujian Nasional SMALB-B Dharma Asih sebagai tempat ujian. Tujuannya agar siswa lebih tenang. Diketahui tahun ini, hanya empat siswa yang ikut dalam unas.

Tak seperti disekolah lain, yang satu ruangan bisa dipenuhi hingga 20-30 murid. Di sini satu ruangan cuma berisi empat orang, di tambah dua pengawas. Meski bel sebentar lagi berbunyi, empat siswa terlihat tenang mengerjakan soal-soal ujian. Tak ada gelisah, raut wajahnya pun datar, tak menunjukkan ketakutan meski waktu akan berakhir. Dering bel yang ditunggu pun tiba, pengawas ujian meminta berkas soal dan jawaban dikumpulkan. 

Usai dikumpulkan, salah satu pengawas unas memimpin doa. Menggunakan bahasa isyrarat, mereka pun berdoa menurut agama masing-masing. Usai menyalami ke dua pengawasnya, empat siswa itu bergegas pulang dengan raut wajah lega karena ujian hari ini (Rabu kemarin) usai dilaksankan. Tandanya, perjuangan mereka di sekolah sudah berkahir. Tinggal menunggu hasil unas. Keinginan empat siswa itu pasti yang terbaik, yaitu lulus dengan nilai tinggi.

Usai membereskan semua soal dan jawaban dari empat pelajar tuna rungu, salah satu pengawas ujian SMALB-B Dharma Asih Kota Pontianak, Sitining Sayekti menuturkan, bahwa hari ini (kemarin) adalah ujian terkahir bagi siswa SMALB-B. Pantauan dia, selama pelaksanan ujian Bahasa Inggris, ke empat peserta tampak tenang dan dapat menyelesaikan semua soal. Harapan dia, tentu hasil ujiannya juga baik, dan semua dapat lulus dengan baik.

Tak banyak yang diharapkan oleh Bu Ning sapaannya. Dia ingin, usaimengenyam pendidikan di SMALB-B, empat siswa ini dapat diterima bekerja di satu instansi, baik itu lembaga swasta dan negeri. Tentu, bagi dia, menjadi satu kebanggan melihat murid-murid yang telah selesai bisa berhasil dikarirnya.

Menurut dia, anak tuna rungu memiliki kemampuan sama dengan anak normal. Tidak ada perbedaan. Soal berpikir, mereka sama. Yang membedakan hanya tidak bisa berbicara dan mendengar. Namun disekolah ini, sedari kecil telah diajar berkomunikasi dengan benar. Tidak hanya melalui bahasa isyarat, rerata mereka mengetahui pembicaraan orang normal. Caranya dengan melihat mimik mulut ketika bicara.

”Jadi di sini, selain menggunakan bahasa isyarat, kita juga melatih mereka berkomunikasi melalui mimik mulut, utuk baca, tulis dan menghitung mereka bisa,” terangnya.

Di hari terakhir unas, rupanya sekolah itu dapat kunjungan dari tim pemantau unas. Dia adalah ketua Komisi D, Anggota DPRD Kota Pontianak, M. Yuli Armansyah. "Biar bagaimanapun, penyandang disabilitas mesti dapat perlakuan sama. Dia juga anak bangsa yang harus diperhatikan," ucapnya usai memantau pelaksanaan unas.

Meski hanya empat orang, pemerintah mesti menyemangati. Pelaksanaan ujian ini tak berbeda dengan siswa normal. Mereka juga melaksanakan ujian, meski soal yang keluar tak sama dengan siswa pada umumnya. Janji pak wali, apabila ada siswa Pontianak mendapat nilai terbaik dan masuk 10 nilai tertinggi Nasional maka akan diberi hadiah. Harusnya dengungan itu juga diberikan oleh siswa SMALB-B ini. 

"Jangan ada diskriminasi! apabila hasil mereka bagus, pemkot mesti apresiasi para siswa ini," tandasnya.

Menurutnya, sekolah luar biasa memang kurang perhatian Pemkot. Saat kunjungan, ia sempat menanyakan ke pihak sekolah, terkait persoalan yang di hadapi sekolah swasta ini. Menurut kepala sekolah, sampai kini, belum ada keluhan. Namun, ia meminta kepala sekolah, apabila ada keluhan bisa bekerjasama untuk mencari jalan tengahnya. 

Memang, hingga kini Pemerintah Kota Pontianak belum memiliki satu gedung sekolah negeri khusus untuk anak SLB. Yang ada hanya autis center. Ke depan, pihaknya mendorong pemkot agar membuat satu SLB negeri. Hal ini penting, karena di Kalbar, Pontianak adalah barometer dari kabupaten kota lain. "Jika di kota tidak memiliki SLB negeri bagaimana dengan kabupaten," terangnya.

Sebelum di bicarakan dengan pemerintah kota Pontianak, ini lebih dulu dibicarakan ke Ketua DPRD. Kalau soal lahan, menurut Yuli Pontianak masih ada. "Pontianak masih ada lahan, di wilayah pinggir kota," ungkapnya.

Secara keseluruhan, pantauan dia pelaksanaan Unas berjalan baik, aman dan lancar. Tidak ada kejanggalan. Dia berharap baik sekolah normal dan luar biasa dapat nilai memuaskan.(*)

Berita Terkait