Wajah Berot Sebelah

Wajah Berot Sebelah

  Jumat, 13 May 2016 09:17

Berita Terkait

Musim hujan seperti sekarang ini, rentan menimbulkan berbagai penyakit. Dari flu biasa hingga menyerang saraf. Salah satunya adalah penyakit bell’s palsy, yakni penyakit yang menyerang saraf wajah hingga menyebabkan kelumpuhan otot pada salah satu sisi wajah atau keduanya.

Oleh : Marsita Riandini 

Pernah melihat seseorang dengan wajah sebelahnya berot (dalam KBBI disebut perot) sebelah? Umumnya masyarakat akan mengira seseorang tersebut terkena stroke, padahal belum tentu. Seperti dilansir dari JPNN.com yang terjadi pada pelaksana tugas (Plt) Gubernur Banten Rano Karno yang belum lama ini terserang virus bell's palsy, membuat mulutnya tampak tertarik ke bagian samping atas alias 'meletot.' Setelah sekitar sebulan lebih menderita penyakit Bell's Palsy, dokter yang merawatnya menyatakan aktor utama Si Doel Anak Sekolahan ini sudah sembuh.

Apa sebenarnya penyakit bell’s palsy itu? Menjawab For Her A. Jauhari, SMPh, SKM  mengatakan bahwa bell’s palsy atau dikenal pula dengan muka berot, ataupun muka lumpuh sebelah merupakan penyakit yang mengenai saraf nomor tujuh. “Saraf kita ini khan ada 12. Nah, orang yang terkena bell’s palsy ini mengalami disfungsi saraf nomor tujuh atau saraf fascialis (saraf wajah),” jelas Kepala Instalasi PPP RSUD Dr. Soedarso ini.

Berbeda dengan stroke, kelumpuhan pada sisi wajah ditandai dengan kesulitan menggerakkan sebagian otot wajah, seperti mata tidak bisa menutup, dan tidak bisa meniup. Saat makan, makanan terkumpul di sebelah wajah yang mengalami berot. “Numpuk di pipi sebelah, karena lidahnya tidak aktif,  kumur-umur juga bocor,” jelasnya mengungkapkan beberapa ciri dari bell’s palsy. 

Gejala langsung biasanya mengalami nyeri sampai ke telinga diikuti dengan kelemahan otot wajah. “Umumnya pasien mengemukakan gejala awalnya itu pulang dari kerja dengan kondisi cuaca yang panas. Di tengah jalan terjadi hujan lebat, dia pun menerobos hujan. Sampai di rumah, badannya tidak enak. Bagian wajahnya, terutama bagian telinga itu terasa nyeri seperti habis ditampar. Seharian merasa tak enak,” ucap dia. 

Besok pagi, lanjut dia wajah pasien sudah berubah menjadi berot. Bell’s palsy juga bisa terjadi ketika seseorang tidur di depan pintu dan terkena angin saat kondisi hujan deras. Orang yang tidur menggunakan AC atau kipas angin yang mengarah ke telinga juga bisa mengalami wajah “berot”. “Bell’s palsy ini disebabkan oleh virus. Virus ini mudah berkembang pada kondisi cuaca ekstrim, misalnya dari panas ke dingin. Seperti cuaca sekarang ini, awalnya panas tiba-tiba hujan deras,” beritahunya. 

Ada dua tipe dari bell’s palsy, yakni ada yang mengenai saraf pusat dan ada pula saraf tepi. “Kalau saraf pusat itu, gangguannya di otak sehingga terjadi kerusakan di bagian otak. Ini biasanya terkena pada pasien yang mengalami stroke,” ungkap dia. 

Sementara yang saraf tepi bisa karena tumor, atau ada peradangan di telinga tengah, terkena herpes atau orang awam menyebutnya sakit kayap, terjadinya fraktur pada tulang tengkorak akibat terjatuh. Bell’s palsy yang mengenai saraf tepi lebih banyak terjadi. 

Bell’s palsy, lanjut dia ada yang ringan sampai pada tingkatan yang lebih berat. Dari yang berot sampai mengalami disfungsi indra pengecap. “Pada kondisi ringan, ngomongnya cadel atau pelat, hilang rasa asin asam saat mengonsumsi makanan,” tutur dia. 

Pada kondisi yang berat, pasien tidak bisa mengontrol air ludahnya sehingga bisa keluar dengan sendirinya. “Pada kondisi normal, kita menggunakan lidah dan bibir untuk mengontrol air ludah agar tidak keluar. Mereka yang mengalami bell’s palsy ini, lidahnya tidak berfungsi normal. Akibatnya air ludah tidak bisa terkontrol dan meleleh sendiri,” jelasnya. 

Air matanya pun bisa keluar dengan sendirinya. Ini dikarenakan saat terkena udara, matanya tidak mampu berkedip, sehingga pedih dan menyebabkan air mata keluar. “Pada kondisi normal, mata kita akan berkedip dengan sendirinya. Biasanya orang yang mengalami bell’s palsy ini saat di suruh pejamkan mata, hanya salah satunya saja yang terpejan, satunya lagi tetap terbuka. Ketika disuruh senyum, hanya satu bagian saja yang melebar satunya tidak. Ekpresi wajah menjadi datar, bahkan bisa mengalami gangguan psikologi akibat malu dengan kondisi wajah yang berot,” pungkasnya. **

 

Berita Terkait