Wadah Seniman Lintas Negara Mendonasikan Karya

Wadah Seniman Lintas Negara Mendonasikan Karya

  Rabu, 26 Oktober 2016 09:38
KARYA FOTO: Herfin menunjukkan karyanya berupa foto tengkorak kepala orangutan asli. IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Menilik Orangutan Museum di Kalbar

Banyak cara untuk ‘melestarikan’ orangutan. Herfin memulainya dengan Orangutan Museum. Berbagai jenis karya yang berhubungan dengan orangutan dipamerkan. Puluhan seniman lintas daerah bahkan negara telah mendonasikan karya di sana. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak 

PERCAYA bahwa sesuatu yang besar bermulai dari hal kecil, prinsip inilah yang dipegang Herfin Yulianto. Memanfaatkan garasi kecil di samping rumah, ia membuat semacam galeri seni yang diberi nama Orangutan Museum. 

Museum yang beralamat di Jalan RE Martadinata, No.12, Pontianak Barat ini sangat sederhana. Ukurannya hanya 3,5 meter kali tujuh meter. Namun impiannya tak sesederhana ruangan itu. Pria kelahiran Pontianak 1971 ini bertekad, suatu saat bakal dibangun orangutan museum yang lebih besar dan representatif. Tujuan akhirnya, selain melestarikan keberadaan orangutan, juga memakmurkan masyarakat.

“Karena saya lihat potensi orangutan di Kalbar cukup besar. Itu fakta, tapi kenyataannya kekuatan sektor pariwisata ini belum bisa dikelola dengan baik,” katanya kepada Pontianak Post, Senin (24/10).

Menjaga orangutan yang dimaksud Herfin adalah mendukung ekowisatanya. Banyak hutan-hutan di Kalbar, sebagai habitat orangutan bisa dikembangkan sebagai objek wisata. Tentu yang berwawasan lingkungan dan tetap berpegang pada UU serta hukum yang berlaku. 

Untuk mendukung itu, dibutalah museum karya-karya seni bertema orangutan. Bukan memamerkan wujud asli dari orangutan itu. “Museum ini hanya pendukung dari ekowisata yang mungkin nanti bisa dikembangkan pemerintah,” katanya.  

Di tempatnya dapat disaksikan berbagai karya yang dipajang. Ada lukisan, sketsa, patung, fotografi dan karya lainnya. Menampilkan karya-karya artistik dari media apapun, semuanya berkaitan dengan satwa endemik Kalbar itu.

Tak perlu membeli, semua karya adalah hasil donasi. Konsepnya mengajak para seniman mendonasikan karya. Semakin banyak yang terlibat, maka akan semakin baik. Maka dibuatlah laman website http://www.tamasyapuriwisata.com. Menggunakan dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Di sana dijelaskan secara lengkap cara-cara berdonasi. Sejauh ini masih dia sendiri yang mengelolanya.

“Saya sadar bukan orang yang banyak uang, tapi dengan konsep ini setidaknya bisa membantu. Contoh di Kuching, Malaysia ada museum kucing, apa pun tentang kucing ada di sana mengapa tidak dengan museum orangutan di Kalbar,” terang ayah satu anak ini.

Siapa pun yang mau terlibat, boleh mengirimkan karyanya untuk dipajang di museum. Jadi museum ini berdiri atas peran serta masyarakat. Yaitu sumbangsih karya para seniman. “Sejauh ini kami sudah menggandeng banyak seniman dari Kalbar, Indonesia bahkan dunia,” ucapnya.

Karya yang ada telah mencapai 22 item. Banyak seniman yang dilibatkan, untuk di Kalbar sendiri ada dari Kota Pontianak, Sungai Pinyuh, Kabupaten Sanggau dan Kapuas Hulu. Ditambah karya-karya seniman nasional seperti Jakarta, Jogjakarta, Semarang dan Magelang. “Sementara yang dari luar negeri baru satu, sebuah lukisan karya Frank Camile Gay, dikirim pelukisnya dari Belgia,” ucapnya. 

Selain itu, bakal banyak karya-karya lain yang akan didatangkan. Semua masih dalam proses pengerjaan oleh masing-masing kreator. “Saya senang sekali banyak yang mau terlibat, kami pun sangat terbuka kepada siapa saja yang ingin mendonasikan karya,” imbuh pria yang konsen dibidang tourism dan budaya ini.

Jika orangutan tourism ini sukses, otomatis masalah pelanggaran terhadap perlindungan orangutan bakal menurun. Semua bakal menjaga agar tidak ada lagi pemburuan atau penjualan hewan langka tersebut. “Masyarakat luas pun dapat merasakan manfaatnya, karena banyak wisatwan yang bakal datang ke daerah ini,” pungkasnya.(*)

 

   

Berita Terkait