Wacana Sekolah Satu Hari Penuh Bakal Ditolak

Wacana Sekolah Satu Hari Penuh Bakal Ditolak

  Rabu, 10 Agustus 2016 10:51
anak sekolah

Berita Terkait

"Jangan buat kebijakan yang mengada-ngada. Saya tidak setuju. Sudahlah ini sudah bagus jalankan saja program yang ada dulu"

 
Sutarmidji

PONTIANAK - Baru dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Efendy sudah menghebohkan dunia pendidikan. Wacana penerapan sistem belajar satu hari penuh (full day school) dengan libur Sabtu dan Minggu jelas akan jadi polemik.

Wali Kota Pontianak Sutarmidji menolak penerapan wacana tersebut. “Jangan buat kebijakan yang mengada-ngada. Saya tidak setuju. Sudahlah ini sudah bagus jalankan saja program yang ada dulu,” ucapnya, Selasa (9/8).

Sebagai menteri baru, ada baiknya jangan membuat kebijakan dadakan. Lebih baik jalankan kebijakan yang sudah ada dan memperbaiki kekurangan dari program Kementerian Pendidikan yang dinilai masih kurang. Salah satunya, bagaimana menciptakan kenyamanan ketika anak berada di sekolah. Karena itu jauh lebih penting ketimbang menyuruh anak sekolah satu hari penuh.

Kalau lingkungan sekolah masih panas, bau, atap bocor, dan beberapa hal yang belum maksimal, kenapa mesti suruh anak sekolah satu harian. “Siapkan saja infrastrukturnya, buat sekolah nyaman, ruang belajar bagus, perpustakaan bagus, taman bagus, sarana olahraga lengkap,” usulnya.

Kementerian Pendidikan harus tahu kondisi sekolah dari Sabang sampai Merauke. Di beberapa daerah nyatanya masih banyak sekolah yang atapnya bocor, banjir jika hujan, ditambah fasilitas sekolah lain yang dinilai perlu dilengkapi. Hal seperti ini yang harus diutamakan.

Hal senada dikatakan anggota DPRD Kota Pontianak, Yuli Armansyah. “Kalau kebijakan itu diterapkan, sama saja menyuruh anak kayak kerja rodi. Ada hal-hal yang tidak didapatkan anak di sekolah! Ini harus dipikirkan,” tegasnya.

Menurut Politisi Nasdem itu, jika kebijakan ini dilakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan malah menimbulkan polemik. Bisa-bisa jadi blunder bagi dirinya dan posisinya sebagai menteri pendidikan tak bertahan lama.

“Kalau mau buat kebijakan, harus dipertimbangkan betul. Apa yang ingin dicapai dengan membuat aturan sekolah satu hari. Alih-alih ingin memintarkan anak justru jadi boomerang anak. Pikirkan juga beban murid, termasuk dampak psikologis yang ditimbulkan,” tegasnya.

Wacana sekolah satu hari jelas mengejutkan dunia pendidikan. Contoh saja penerapan kurikulum 13 belum maksimal tiba-tiba kembali lagi ke KTSP. Hal-hal seperti ini harus dihindari dan jadi pelajaran.

“Kita tak mau ada sekolah yang menjalankan kurikulum yang berbeda. Ujung-ujung yang jadi korban guru dan murid. Jalankan saja program yang sudah ada. Kalau mau pintarkan murid, bisa dengan banyak hal, buat murid merasa nyaman belajar di sekolah, itu saja dijalankan,” tandasnya. 

Hal senada juga disampaikan para guru. “Saya jelas tak setuju dengan kebijakan Menteri Pendidikan yang berencana buat aturan sekolah satu harian. Ada baiknya pikir sisi positif dan negatifnya, jangan main buat kebijakan,” kata Kepala SMA Al Islah Pontianak, Gusti Junianto.

Dampak psikologis anak didik harus jadi pertimbangan tokoh Muhammadiyah itu. Apabila benar diterapkan, menurut dia, pasti anak akan jenuh dan membuat anak malas belajar. Yang paling fatal lanjutnya, anak didik mengalami stres akibat belajar seharian tanpa melakukan aktifitas lain seperti bermain.

“Sisakan waktu untuk anak bermain, jangan di porsir pikirannya. Otak manusia perlu istirahat biar bisa berpikir dengan baik,” tukasnya.(iza)

Berita Terkait