Vonis Seumur Hidup

Vonis Seumur Hidup

  Rabu, 18 Oktober 2017 10:00
SEUMUR HIDUP: Terpidana kasus narkotika 11 kg saat digiring petugas di PN Mempawah.WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Kasus Narkotika 11 Kilogram

MEMPAWAH - Pengadilan Negeri (PN) Mempawah menggelar sidang lanjutan kasus kepemilikan 11 kilogram shabu, Selasa (17/10) pukul 15.00 WIB di Ruang Sidang Kartika. Dalam sidang tersebut, Ketua Majelis Hakim, Rini Masyithah, SH, M.Kn menjatuhkan vonis hukuman seumur hidup terhadap kedua terdakwa.

Vonis yang dijatuhkan hakim membuat kedua terdakwa yakni Wahyudi alias Tedung (28) warga Dusun Balai Karangan dan Gusdiman alias Godeng (33) warga Dusun Bakai Kabupaten Sanggau boleh bernafas lega. Pasalnya, vonis tersebut jauh lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Mempawah dengan hukuman mati.

Sebab, JPU Kejari Mempawah menilai kedua terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menjual, membeli dan menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan atau menerima narkotika gol I bukan tanaman, melakukan pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika sebagaimana diatur dalam Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

“Jujur saja, kami cukup keberatan dengan vonis majelis hakim PN Mempawah yang memvonis kedua terdakwa dengan hukuman seumur hidup dalam kasus kepemilikan 11 kg narkotika ini. Menurut kami, hakim mengabulkan tuntutan hukuman mati,” sesal JPU Kejari Mempawah, Edy Sinaga didampingi dua JPU lainnya Rizkinil Jusar, SH dan Endita Yurinda Quartarini, SH.

Terhadap vonis tersebut, Edy mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan pimpinan diatasnya. Sebab, pihaknya tidak bisa memutuskan sendiri dalam menentukan langkah hukum atas vonis yang dijatuhkan majelis hakim PN Mempawah dalam kasus tersebut.

“Dalam waktu tujuh hari ini, kami masih fikir-fikri dulu. Kami akan meminta petunjuk dari pimpinan untuk langkah selanjutnya. Apakah kami akan melakukan banding atau menerima vonis hakim, masih akan kami koordinasikan dengan pimpinan,” akunya.

Dilain pihak, Penasehat Hukum Terdakwa, M. Soleh, SH mengaku dapat menerima vonis majelis hakim PN Mempawah terhadap kliennya. Dia bersyukur hakim membatalkan vonis hukuman mati sebagaimana tuntutan JPU Kejari Mempawah.

“Tentunya kami sangat senang dengan vonis ini. Menurut kami, vonis hukuman seumur hidup merupakan keputusan yang adil terhadap kedua klien kami. Makanya kami dapat menerima vonis ini,” tutur Soleh.

Meski demikian, Soleh tetap berharap kedua kliennya mendapatkan vonis yang lebih ringan dengan hukuman minimal 15 tahun penjara. Sebab, kliennya bukanlah pemilik narkotika seberat lebih dari 11 kg tersebut. Melainkan hanya kurir yang diperintahkan oleh pemilik barang haram itu.

“Untuk kasus ini, memang kami akui sangat berat untuk mendapatkan vonis yang lebih ringan. Mengingat, barang bukti narkotika yang didapatkan polisi lebih dari 11 kilogram,” pendapatnya.

Lebih jauh, Soleh memgaku pihaknya pun masih menunggu langkah hukum JPU Kejari Mempawah terhadap vonis majelis hakim. Jika JPU melakukan banding, maka pihaknya pun siap melakukan banding untuk menyelamatkan nyawa kedua kliennya.

“Kami menunggu JPU. Jika banding, maka kami pun akan melakukan banding. Namun, menurut saya, vonis hakim sudah sangat adil demi rasa kemanusiaan dan keadilan di negeri ini,” pungkasnya.

Seperti diberikan sebelumnya, kejahatan perdagangan barang haram yang dilakukan oleh kedua terdakwa bermula ketika terdakwa Gusdiman dihubungi oleh salah seorang bernama Yudi untuk mengambil shabu di wilayah Kuching Malaysia pada Sabtu (18/3) silam.

Atas perintah itu, Gusdiman pun berangkat dengan menggunakan mobil sewaan. Tujuannya salah satu lokasi di sekitaran Rumah Sakit Timberland Kuching, Malaysia. Atas perantara Yudi, Gusdiman pun bertemu dengan terdakwa Wahyudi. Kemudian, keduanya bertemu dengan salah seorang pengantar koper yang berisikan 11 bungkus narkotika jenis kristal. Transaksi pertemuan itu dilakukan di Halaman Parkir Rumah Sakit Timberland Kuching Malaysia.

Selanjutnya, dengan menggunakan dua unit mobil terdakwa Gusdiman dan Wahyudi menuju ke Bukit Binong yang juga daerah perkebunan kelapa sawit. Disana, keduanya membagi paket shabu tersebut. Gusdiman membawa enam bungkus dan sisanya diberikan kepada Wahyudi. Untuk mengelabuhi penjagaan perbatasan, bungkusan shabu disimpan didalam dinding mobil.

Berhasil meloloskan shabu ke Kalbar, keduanya lantas diperintahkan oleh Yudi untuk memberikan narkotika tersebut kepada seorang bernama Lim Lie Po alias Apoh di salah satu SPBU di Jalan Imam Bonjol Pontianak pada Senin sore. Rupanya, transaksi barang haram itu sudah terendus oleh petugas.

Tak pelak, ketika transaksi berlangsung petugas pun melakukan penangkapan terhadap Wahyudi, Gusdiman dan Apoh. Namun, dalam operasi penangkapan itu pelaku Apoh mencoba melakukan perlawanan dan terpaksa dilumpuhkan petugas. Apoh pun tewas diterjang peluru.(wah)

Berita Terkait