Vaksin Belum Merata

Vaksin Belum Merata

  Jumat, 26 Agustus 2016 09:30

Berita Terkait

PONTIANAK - Jumlah hewan yang sudah divaksinasi untuk mencegah meluasnya sebaran rabies mencapai 20.459 ekor. Sementara itu data hewan yang dilaporkan ke Dinas Peternakan Kesehatan Hewan Kalbar ada 176.490 ekor. 

Data itu menggambarkan proses vaksinasi yang dilakukan mencapai 22.23 persen. Sedangkan sasaran minimal vaksin itu harus 70 persen. “Sasaran vaksinasi hewan masih jauh. Saat ini baru mencapai 22,23 persen,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Abdul Manaf, siang kemarin. 

Manaf mengakui rendahnya tingkat vaksinasi karena kondisi wilayah yang begitu luas. Hal itu tidak berimbang dengan jumlah petugas yang ada. 

Setiap kabupaten, hanya ada satu dokter hewan dan empat petugas lapangan. Belum lagi dengan sarana pendukung vaksinasi yang terbatas.

“Jika dinas kesehatan, petugas ada dari pusat hingga ke desa. Sebaliknya kami, untuk kabupaten saja tidak ada dinas peternakan. Jika pun ada, itu hanya untuk kepala bidangnya yang latar belakangnya bukan orang peternakan,” keluhnya.

Padahal, lanjut dia, inti pengendalian itu vaksinasi, eliminasi, dan oberservasi. Setiap anjing yang menggigit dilakukan observasi selama 14 hari. Jika anjing itu mati baru korban gigitan mendapat vaksin antirabies. 

Menurut Manaf, penghematan vaksin untuk orang itu perlu dilakukan karena stok terbatas. Terdata vaksin yang ada saat ini 18.200 vial. Pemerintah pusat akan mengirimkan bantuan vaksin untuk orang sebanyak 22.000 vial. Secara keseluruhan jumlah vaksin yakni 40.200 vial. 

Berdasarkan data kebutuhan vaksin antirabies untuk manusia di Kalbar sebanyak 87.000 vial. Saat ini jumlah vaksin yang sudah didistribusi ke kabupaten mencapai 26.000 vial.

Ia menjelaskan, penghematan perlu dilakukan karena harga vaksin untuk manusia cukup mahal, yakni sebesar Rp700 ribu untuk satu korban. “Itu baru biaya untuk vaksin orang belum hewannya,” kata dia. 

Dia meminta laporan penggunaan vaksin setiap pendistribusian. Laporan itu untuk mengetahui sejauh mana penggunaan vaksin. Dari laporan itu bisa melihat kondisi vaksin yang didistribusikan. 

“Banyak vaksin yang  disimpan alakadarnya. Padahal harus disimpan dalam kulkas khusus,” tukasnya. 

Dia mengingatkan masyarakat harus paham jika vaksin ini perlu dihemat. Masyarakat paham jika anjing yang menggigit orang perlu diobservasi dan kemudian tidak langsung dibunuh.

“Kami jadi bingung jika dibiarkan begitu saja. Jika dibiarkan berisiko tinggi, mau disuntik, antirabiesnya terbatas. Makanya perlu observasi. Dari tahap ini bisa diketahui apakah ada sebaran virus rabies atau tidak pascagigitan anjing,” jelasnya. 

Saat ini Pemprov Kalbar sudah memperpanjang status kejadian luar biasa untuk kasus sebaran gigitan rabies. Perpanjangan ini juga mengubah nama status agar mendapat dukungan dana dari pemerintah pusat dalam penanganannya. 

Jika sebelumnya hanya status kejadian luar biasa, maka kali ini tidak. Nama status berubah menjadi status kejadian luar biasa tanggap darurat. 

“Untuk KLB ini berpedoman pada SK Menteri Kesehatan. Sedangkan tanggap darurat ini berpedoman Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Di SK gubernur yang baru nanti, disebutkan tanggap darurat KLB rabies,” kata dia.

Hanya saja untuk perubahan itu, lanjut dia, tidak langsung melainkankan didasari kabupaten yang sudah meningkatkan status wilayahnya untuk kasus ini. 

Saat ini beberapa daerah yang sudah menetapkan KLB yakni Kapuas Hulu, Melawi, Ketapang, Bengkayang, dan Sanggau. Sedangkan daerah yang belum Landak dan Sekadau. Ini merupakan daerah sebaran rabies yang meningkat tahun ini.

“Jadi kami minta direvisi keputusannya,” kata dia. 

Sebelumnya sebaran rabies itu meluas di delapan kabupaten di antaranya: Melawi, Kapuas Hulu, Ketapang, Sintang, Sekadau, Sanggau, Bengkayang, dan Landak. Sedangkan enam daerah lainnya Mempawah, Sambas, Kubu Raya, Kayong Utara, Pontianak, dan Singkawang masih terbebas dari rabies. Namun daerah-daerah ini masuk dalam kategori terancam.

Kemudian hingga sekarang jumlah korban yang meninggal dunia mencapai 28 jiwa. Di mulai dari tahun 2014 itu ada 14 orang meninggal dunia, lalu 2015 ada 5 orang dan tahun 2016 ada sembilan orang. Kasus terakhir gigitan terakhir di Jangkang, Kabupaten Sanggau. Anak berusia delapan tahun meninggal dunia akibat virus rabies. 

Jumlah gigitan bertambah. Pada 2015 ada 763 orang korban gigitan rabies. Sementara tahun ini, hingga Agustus sudah 877 orang yang terkena virus rabies. Dari jumlah itu sudah 660 orang mendapat vaksin antirabies. 

“Melihat peningkatan kasus ini, dari empat kabupaten kemudian menyebar ke delapan kabupaten. Gubernur meminta bupati walikota agar serius mengatasi masalah rabies,” kata dia. 

Kemudian dukungan yang sudah diberikan pemerintah provinsi saat ini berupa pelatihan pada sumber daya manusia. Mulai dari melatih tenaga vaksinator, penangkap anjing, tenaga penyuluh pertanian untuk petugas kesehatan hewan hingga melatih petugas untuk melakukan tes cepat dan mengambil otak anjing. 

Dinas Kesehatan Kalimantan Barat membentuk rabies center di pusat kesehatan masyarakat. Kepala Dinas Kalimantan Barat Andy Jap mengatakan rabies center ini sebagai pusat informasi bagi masyarakat yang berkaitan dengan rabies. Mulai dari apa itu rabies, gigitan, penanganan hingga tindakan pertama yang harus dilakukan ketika digigit anjing yang terjangkit virus rabies.

Andy berkeyakinan kehadiran rabies center ini berjalan efektif. Terutama dalam pemberian informasi kepada masyarakat. Mulai dari penanganan, tindakan pertama ketika mendapat gigitan rabies. 

“Rabies center sudah ada di setiap puskesmas. Berharap tapi hanya sekadar nama tapi menjadi pusat yang berkaitan dengan rabies,” kata dia.

“Misalnya di lapangan tergigit anjing. Tapi jauh dari puskesmas jadi apa yang harus dilakukan. Melalui rabies center informasi itu bisa sampai,” sambung dia.

Lantas bagaimana dengan tenaga vaksin yang dibutuhkan? Andy memastikan tenaga vaksinasi orang tercukupi hingga ke tingkat bawah. Menurutnya tenaga medis, seperti bidan dan perawat bisa menjadi vaksinator untuk orang yang terkena gigitan rabies.

Menurutnya kekurangan itu hanya pada vaksinator hewan. Tenaga yang dibutuhkan untuk memvaksin hewan penular rabies. Justru kekurangan lainnya pada vaksin antirabies (VAR). 

“Kendala itu hanya ketersediaan VAR. Ini bukan hanya di Kalbar tapi di dunia juga,” kata dia. (mse) 

Berita Terkait